Life Story

Pages Band Setia Koes Plus

Lagu berjudul “Nusantara” milik Koes Plus, membuka pertunjukan Koes Plus-an yang dibawakan oleh Pages Band, grup band unik dari Mataram yang beranggotakan musisi berusia 50 tahun ke atas. Kiprah Pages Band di panggung musik Nusa Tenggara Barat, khususnya di Mataram, terbilang cukup lama. Sudah lebih dari 10 tahun grup band ini menjajal panggung-panggung musik bahkan hingga ke Pulau Sumbawa.

Apresiasi penonton terhadap Pages Band ini selalu antusias karena lagu-lagu legenda Koes Plus menjadi spesialisasinya. Hal ini terlihat pada suatu malam di pojok timur halaman Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, yang menggelar Selasa Warjack beberapa waktu lalu, dipenuhi penonton yang ramai menyaksikan pergelaran musik untuk mengenang Yon Koeswoyo yang baru-baru ini meninggal dunia.

Panggung sederhana Warung Jack malam itu dihentak grup Pages Band. Koes Plus-an malam itu sukses menghidupkan ‘komunikasi’ antar panggung dan penonton yang rata-rata penggemar lagu-lagu Koes Plus. Penonton pertunjukan ini, tidak hanya mereka yang sudah berusia tua. Ada juga anak-anak muda. Bahkan turut ikut merespons lagu-lagu Koes Plus yang dinyanyikan oleh Pages Band.

Tiap kali Pages Band pentas penontonnya selalu ramai. Para musisi yang tergabung di Pages Band juga tidak luput dari perhatian karena rata-rata mereka sudah berumur, dengan formasi Minarto (keybord), Yudi (drum), Koeswondo (bass dan backing vocal), Dudi (lead) dan Mudakir (vokalis). Sebagai vokalis, Mudakir juga memberi warna yang makin menguatkan keberadaan Pages Band karena suara dan perawakannya yang mirip dengan Yon Koeswoyo.

Dengan suara, rambut gondrong dan aksi panggung yang sangat mirip tersebut, Mudakir yang mampu menyanyikan dengan baik ratusan lagu Koes Plus ini menjadi magnet tersendiri bagi penonton. Mudakir juga pandai membuat panggung Koes Plus-an Pages Band menjadi komunikatif dengan penonton.

Pages Band memiliki banyak kelebihan karena semua personilnya bisa berganti formasi mampu memainkan berbagai alat musik utama. Kelebihan lainnya, karena semua personil Pages Band ini bekerja sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta, mereka bisa main kapan saja tanpa pernah latihan yang rutin. Mereka selalu bisa tampil kompak meski tak pernah latihan.

Di samping itu mereka terbilang kelompok yang sangat kompak yang tidak pernah terpecah oleh masalah apa pun, termasuk soal penghasilan grup yang biasanya kerap memicu perpecahan antar personil. Mereka berada dalam frekuensi kepentingan yang sama, yakni berkesenian, bermusik menghibur penonton dan memainkan hobi mereka. “Uang dalam kelompok Pages Band adalah nomor sekian,” kata Dudi. Sebab itulah, hingga lebih dari 10 tahun berjalan, Pages Band tetap eksis di dunia musik di Mataram.

Jika pun ada pergantain personil, itu hanya karena alasan ada yang ingin istirahat atau alasan lain yang bisa mereka terima. Tetapi, meski begitu, tidak pernah ada personil Pages Band yang mengundurkan diri apalagi sampai dipecat. “Jadi siapa pun yang bisa main bisa tampil kapan pun sebagai grup Pages Band,” kata Dudi.

Acara-acara reuni angkatan usia 50 tahunan menjadi salah satu panggung utama Pages Band. Di samping itu mereka kerap tampil di acara-acara pernikahan, juga undangan-undangan lainnya. Bahkan dari satu panggung ke panggung lainnya di hotel dan kafe yang ada di Mataram dan Lombok telah mereka jajal. Bahkan saat ini secara regular mereka tampil live music Koes Plus-an di beberapa hotel di Mataram.

TINGGAL DI PAGESANGAN

Menurut Mudakir, menyanyi bagi para personil Pages Band bukan semata-mata untuk mencari uang/penghasilan, melainkan hobi yang dimaksimalkan untuk mendapatkan tambahan biasa saja. Karena itulah tarif tidak terlalu mereka pikirkan meski Pages Band telah pernah dibayar dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Mereka selalu melihat kemampuan para pengundang. Bahkan jika ada rekan atau kawan mereka yang punya acara, Pages Band bisa menggratiskannya.

Nama Pages Band sendiri diambil nama wilayah tempat para personilnya kebanyakan tinggal yakni Pagesangan di Kota Mataram. Awalnya mereka hanya berkumpul untuk bermain musik, lalu atas inisiatif pelatih drum band yang cukup dikenal di Mataram, bernama Bagio bersama dua rekan lainnya Anton dan Yudi, grup band ini dibentuk sekitar 10 tahun lalu. Di awal-awal bermusik bersama, Pages Band belum mengukuhkan diri sebagai grup band yang spesial membawakan lagu-lagu Koes Plus, melainkan mengikuti trend musik kala itu.

Akhirnya Pages Band bertemu dengan Mudakir yang membawa ‘ciri’ khas Yon Koeswoyo pada keunikan suara dan perawakannya yang sangat mirip musisi legendaris itu. “Sejak itulah Pages Band memilih fokus spesial menyanyikan lagu-lagu Koes Plus,” kata Dudi. Hingga saat ini di antara enam grup band di Mataram yang spesial menyanyikan lagu-lagu Koes Plus, tinggal Pages Band yang tampaknya masih sangat eksis di panggung musik di Mataram dan tetap menjaga kekompakan serta semangat bermusiknya meski beranggotakan personil yang usianya tidak bisa dibilang muda lagi. (Naniek I. Taufan)

 

To Top