Griya

Patung Paras Cetakan

Di Bali khususnya, keberadaan patung sangat mudah dijumpai. Mulai dari rumah tempat tinggal, perkantoran, fasilitas umum, hingga tempat suci. Wujud seni rupa tiga dimensi ini kerap menjadi “pemanis” suasana interior maupun eksterior. Bahkan, tak jarang pula beberapa patung khususnya yang ditempatkan di areal tempat suci, diyakini bernilai magis. Namun, Tokoh tak akan jauh membahas hal itu.

Patung bisa dibuat dari bermacam material, salah satunya dari serbuk paras atau yang biasa mereka sebut paras buatan (cetakan). Inilah yang dilakoni Putu Anya (26) bersama kakak, adik sepupu, dan kerabatnya yang lain. Di bawah bendera “Anya Sari Ukir” yang berlokasi di Banjar Ulapan Dua, Jalan Raya Blahkiuh, Putu Anya memahat/mengukir balok-balok paras itu menjadi beberapa bentuk patung yang indah nan menawan.

Ada patung rangda, celuluk, macan, raksasa, rama shinta, dll. Harga satu patung tergantung ukuran dan kerumitan proses kerjanya. Putu Anya menunjuk satu pasang patung rangda setinggi 200 cm x 65 cm yang dijualnya Rp 16 juta. “Pengerjaan satu patung ini menghabiskan waktu sekitar 20 hari. Ini orderan orang. Finishingnya tergantung permintaan. Ada yang minta dicoating, ada juga yang sengaja minta tak difinishing,” jelasnya.

Paras buatan (cetakan) ini dituturkan Putu Anya, merupakan campuran dari serbuk paras, semen, mild, air ditambah lem perkat, yang kemudian dicetak menjadi bongkahan-bongkahan balok yang siap diukir. “Setelah dicetak, didiamkan dulu 3 hari, baru paras balok itu bisa dipahat,” imbuhnya sembari mengukir sebuah pesanan patung bersama adik sepupunya Made Anggi (18).

Proses pembuatan patung itu mulai dari paras balok, yakni membuat sket, membentuk bakal (bentuk global), baru kemudian dipahat/diukir. Peminat patung paras cetakan ini dikatakannya didominasi penduduk lokal, tak hanya wilayah terdekat, namun sampai daerah Negara dan Buleleng. Mereka sengaja memesan patung ke tempat ini dikarenakan harganya lebih murah. (Inten Indrawati)

To Top