Bunda & Ananda

Bahagia saat Bersama

Kebahagian Gung Puspa dan suami bersama cucunya (foto kiri) - Kebersamaan Norma dan keluarga (foto kanan)

Kasih sayang bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk. Dua perempuan yang bergelut di dunia pendidikan ini berbagi kisahnya. Bagi Gusti Ayu Made Puspawati, S.Pd., M.Si., kasih sayang lebih ditunjukkan dalam bentuk perhatian. “Bagi saya, rasa saling perhatian dan kebersamaan dengan orang yang kita sayangi maknanya lebih dalam dari hanya sekadar mengucapkan sayang/cinta atau memberi hadiah,” ucapnya.

Kaprodi Seni Drama Tari dan Musik, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP PGRI Bali ini mengatakan, usai bergelut dengan kesibukannya mengajar di kampus, ia akan sesegera mungkin untuk pulang ke rumah, apalagi sejak ia memiliki cucu dari putra pertamanya. Gung Puspa-demikian ia biasa disapa, tak mau melewatkan momen-momen istimewanya sebagai seorang nenek. “Saya punya dua putra, kini bertambah dua, menantu dan cucu saya. Jadi, saya punya empat anak,” ucapnya bahagia.

Sore menjelang malam hari menjadi waktu berkumpul yang indah bagi keluarga ini. Sang suami yang seorang guide freelance, anak pertama—Gungde Pringga yang bekerja sambil kuliah, dan anak kedua—Gungde Restu yang masih SD dan hobi magender, biasanya baru bisa lepas dari rutinitasnya pada jam tersebut. Gung Puspa mengutip istilah “Bahagia itu sederhana”, yakni dengan berkumpul bersama dalam suasana canda tawa.

Kebersamaan itu bisa dilakukan di rumah saja. Bisa dengan makan bersama, bersantai bersama sambil meneguk teh atau kopi, dan yang pasti tentunya dengan selalu menjaga komunikasi. “Terus terang, saya jarang memasak sendiri, saya lebih memilih mengerjakan yang lain,” ujar Gung Puspa yang mengaku saat ini tidak memiliki asisten rumah tangga. Jadi, segala urusan di rumah ia yang mengerjakannya, berbagi dengan menantunya.

Untuk urusan makan, biasanya ia membeli makanan jadi, kemudian makan bersama-sama di rumah. Sesekali mereka juga makan bersama di luar. Jika sudah di rumah, Gung Puspa mengaku jarang memegang HP kecuali ada yang menelepon. “Sampai di rumah, saya pasti megang cucu, biar ibunya bisa istirahat atau mengambil pekerjaan lain,” ucapnya bahagia.

Sejak kehadiran cucunya, AA Gede Ganantha Satrianinggrat yang kini baru berusia 9 bulan itu, Gung Puspa merasakan kebahagiannya bertambah. Itu juga yang dirasakan seluruh anggota keluarga. Dulu, ketika kumpul bersama, putra-putranya masih sibuk dengan HP masing-masing. Namun sekarang, momen kumpul bersama ini semua fokus dengan si kecil. Semuanya saling berlomba memberikan informasi tentang perkembangannya. “Gung Ganantha dengan segala tingkah polahnya sering menjadi objek foto, kemudian semuanya akan saling mengomentari foto itu. Kami pun tertawa bersama. Di sini saya bisa merasakan dan mendapatkan kebahagiaan,” ucapnya haru.

Gung Puspa menyebut tiga hal penting baginya dalam mewujudkan kasih sayang ini, yakni rasa saling perhatian, berkomunikasi dalam berbagai hal, dan kebersamaan. Dengan begini, ia yakin hubungan antar keluarga bisa semakin erat dan menjadi keluarga harmonis. “Kasih sayang dan cinta perlu pengorbanan. Kita harus rela berkorban baik waktu maupun materi demi terwujudnya keluarga yang utuh,” tandasnya.

Demikian juga Gung Puspa bersikap kepada para mahasiswa dan staf di kampus. Semuanya seperti keluarga. Tak ada jarak pembatas antara dosen dan mahasiswa, ataupun Kaprodi dan bawahan. Sehingga tak jarang pula ia menjadi tempat curhat mereka yang kerap memanggilnya “Bunda”.

 

SELALU ADA

Hal senada disampaikan Ni Made Normaliani, S.Sn. Aktivitasnya sebagai guru dan Wali Kelas VIII C di SMPN 3 Denpasar tentunya tak sedikit menyita waktu bersama keluarga. Karena itu, Norma—demikian sapaan akrabnya berusaha “membayar” waktu yang hilang tersebut dengan “selalu ada” ketika anak-anak memerlukannya.  Terutama ketika anak mengalami masalah atau merasa susah dalam mengerjakan aktivitas sekolah. Apalagi, yang berkaitan dengan kesehatan, jika ada keluhan sedikit saja, ia akan segera memeriksakannya ke dokter. “Nanti malam mau mengantar anak cek ke dokter mata, suka pusing katanya,” ucap Norma, siang itu usai jam kerjanya.

Seberapa pun sibuknya, Norma juga selalu siap mendengarkan curhat anak-anaknya. Ia tak mau nanti mereka malah curhat ke orang lain yang belum tentu memberikan masukan yang baik. “Yang paling penting adalah ada komunikasi dua arah. Biarkan dulu anak-anak menyampaikan pendapat dan masalahnya, atau mengeluarkan segala uneg-unegnya, baru kemudian mencari solusinya bersama-sama,” ucapnya.

“Melihat mereka tumbuh dengan cinta dan kasih kami sebagai orangtua adalah hal yang sangat berharga dan indah,” imbuhnya. Di sela-sela kesibukannya di sekolah dan juga kesibukan suaminya di KPU Denpasar, keluarga kecil ini kerap melakukan perjalanan bersama. Mendekatkan anak-anak dengan alam dan lingkungannya. Yang paling simpel mengajak anak-anak sekedar makan nasi jinggo atau mengajak jalan melihat-lihat buku di toko buku.

“Saya berharap, dengan cinta kasih yang kami berikan, mereka akan tumbuh penuh kebahagiaan. Dan mereka pun kelak bisa berbagi cinta kasih kepada lingkungannya dan menyayangi alam,” harap ibu dua anak ini.

Hal yang sama juga ia terapkan pada anak-anak didiknya di sekolah. Karena itu pula, Norma yang mengampu mata pelajaran Prakarya ini sangat disukai murid-muridnya. Bahkan ada pula orangtua murid yang sudah kewalahan mengurusi anaknya menitipkannya pada Bu Guru Norma. “Kalau Ibu Norma yang ngajar baru saya senang, orangnya baik dan sabar,” ujar mantan siswanya yang dulu kerap bolos sekolah jika ada jadwal guru yang tak disukainya mengajar.

Ia sadar betul perannya sebagai orangtua bagi anak-anaknya di rumah adalah sama dengan sebagai orangtua bagi murid-muridnya di sekolah. Karena itulah murid-murid merasa dekat dengannya. (Inten Indrawati)

To Top