Metropolitan

Tradisi Makan Bersama saat Imlek

Setelah hujan sepanjang hari, untunglah pada malam perayaan Imlek 2569 tidak turun hujan. Kalaupun turun hanya gerimis. Beda dengan pagi hingga sore di mana hujan cukup lebat yang menyebabkan banjir dan kemacetan lalu lintas di sejumlah titik di Jakarta. Cuaca dan suasana jelang Imlek yang mendukung ini disambut gembira oleh sebagian umat yang mulai berdatangan untuk sembahyang di vihara-vihara di Jakarta. Salah satunya di Vihara Dharma Bhakti Petak Sembilan, Jakarta Barat.

Bicara Imlek, selain bersembahyang hal penting lainnya adalah makan bersama keluarga. Tradisi makan bersama ini tetap bertahan di kalangan Tionghoa meski mereka telah berpindah agama. Keluarga besar Ahok—mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama– misalnya, meski sebagian dari mereka kini memeluk agama berbeda, namun tradisi makan bersama, kumpul dengan keluarga masih tetap dipertahankan.

“Kami biasa merayakan Imlek dengan sederhana. Tradisi yang  sampai sekarang masih bertahan adalah anggota keluarga kumpul untuk makan bersama di malam Imlek di rumah. Biasanya mama memasak menu makanan Imlek antara lain makanan-makanan kesukaan anak-anaknya,” ujar Fifi Lety Indra, adik Ahok.

Namun, wajah Fifi yang menjadi kuasa hukum Ahok dalam kasus perceraian dengan istrinya Veronica Tan, berubah sedih ketika menyebut tahun ini Ahok tidak bisa makan malam bersama keluarga di malam Imlek lantaran tengah menjalani hukuman penjara di Mako Brimob, Kelapa Dua.

Namun begitu, dia dan keluarga berencana untuk membawa makanan kesukaan Ahok pada saat Imlek. “Pak Ahok sangat suka masakan mama. Tapi yang paling disukainya adalah masakan mama yang khas orang Melayu-Belitung seperti ayam atau bebek nanas,” tutur Fifi.

Makan malam bersama saat malam tahun baru Imlek juga  menjadi tradisi keluarga  Olga Lydia. Seperti halnya keluarga Ahok, Olga dan keluarganya juga merayakan Imlek dengan sederhana. “Yang pasti adalah makan bersama keluarga. Baik itu makan di rumah atau makan di luar tapi semua keluarga kumpul,” ujar artis kelahiran Desember 1976 ini.

Menurut pemeran sinetron ‘Rahasia Perkawinan’, ini, meski orangtuanya keturunan Tionghoa totok dan tidak terlalu ketat dalam menjalankan tradisi nenek moyang,  namun kalau pas makan malam Imlek, haruslah sesuai tradisi. Yang disajikan adalah makanan-makanan khas Imlek. Salah satu yang harus dan pasti ada adalah ikan. Ikan adalah lambang keberuntungan. “Biasanya mama yang masak ikannya. Tapi ayah saya juga suka menyiapkan hidangan Imlek,” ujar Olga seraya menyebut hidangan dari keluarga papanya adalah stim ayam, sayur juga telur.

12 MACAM MENU

Makan malam bersama keluarga di malam Imlek juga menjadi tradisi dalam keluarga Ricky Cuaca, aktor keturunan Tionghoa-Padang. Lain keluarga lain pula menu yang disajikan. Bintang sinetron ‘Ganteng Ganteng Serigala’ ini bertutur makanan khas Imlek keluarganya beragam-ragam. “Ada 12 macam menu, itu melambangkan 12 macam shio dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa,” ujar Ricky.

Menur-menu itu, lanjutnya, masing-masing memiliki makna. Seperti mie panjang yang melambangkan panjang umur, ayam kodok yang merupakan simbol kebahagiaan dan keberuntungan, dll. “Tak ketinggalan, pasti ada kue keranjang agar hubungan keluarga tetap erat,” tambah Ricky.

Tata Cara Makan untuk Raih Keberuntungan

Selain kue keranjang, makanan khas Imlek yang wajib ada dan disantap bersama keluarga adalah mie panjang dan ikan yang melambangkan panjang umur dan keberuntungan. Dengan menyantap makanan-makanan itu diharapkan berumur panjang juga dianugerahi keberuntungan sepanjang tahun.

Ada beberapa jenis ikan yang biasanya menjadi sajikan makan bersama. Dengan menyantap ikan di malam tahun baru dianggap bisa membawa keberuntungan sepanjang tahun berikutnya. Makan ikan pun ada aturannya, tidak bisa asal makan. Mengutip dari berbagai sumber, ikan disajikan bukan hanya pada malam Imlek tapi juga pada saat makan bersama pada hari ‘H’. Jika ikan itu hanya satu maka itu dimakan dua kali atau tidak dihabiskan dalam sekali makan.

Jadi sebagian dimakan pada malam hari dan sebagian lagi pada hari ‘H’.  Ini menyangkut kepercayaan orang Tionghoa bahwa dengan tidak menghabiskan ikan dalam sekali makan diharapkan setiap tahun akan mendapatkan keberuntungan.

Namun, tata cara memakan ikan maupun menyisakan ikan untuk dimakan keesokan harinya pun berbeda di beberapa tempat. Misalnya di masyarakat Cina sebelah utara Sungai Yangtze memiliki tradisi menyisakan bagian kiri atas untuk dimakan keesokan harinya. Hal itu diyakini sebagai pembawa berkah dan keberuntungan. Tradisi makan ikan lainnya adalah orangtua yang menyantap ikan terlebih dahulu sebelum anggota keluarga lainnya. Itu merupakan simbol dari rasa hormat.

Soal pengolahan ikan, bebas dilakukan sesuai selera. Yang terpenting adalah materi dasarnya adalah ikan dan dimasak secara utuh tidak dipotong-potong. Ikan bisa dibuat sup, dikukus ataupun dimasak bumbu. Yang juga menjadi ‘syarat’ adalah ikan disantap paling akhir setelah makanan lainnya.

Makanan lainnya adalah ayam atau bebek yang merupakan simbol udara yang memiliki arti kesetiaan dan ketaatan. Dalam penyajikannya adalah ayam atau bebek juga  disajikan utuh tidak terpotong-potong. Harapannya adalah keluarga yang memakannya tetap utuh dan bahagia selalu.

Hidangan babi juga menjadi salah satu hidangan penting dalam makan bersama jelang Imlek. Dengan memakan babi diharapkan orang giat bekerja tidak menjadi pemalas seperti karakter babi.

Sayuran pedas, juga menjadi menu yang selalu ada dalam hidangan Imlek. Biasa disebut yu sheng. Makanan ini semacam salad, tidak hanya berupa sayuran tapi juga campuran buah dan ikan. Makanan ini melambangkan keberuntungan dan pengharapan di tahun baru. Tata cara memakannya, adalah seluruh keluarga mengaduknya secara bersama kemudian mengangkat yu sheng tinggi-tinggi. Maknanya semakin tinggi mengangkat yu sheng maka keterkabulan harapan juga keberuntungan akan semakin besar. (Diana Runtu)

To Top