Buleleng

Produksi Berkurang di Musim Hujan

Buah Bidara atau yang lebih dikenal dengan buah bekul saat ini memang menjadi buah lokal yang sedang digemari masyarakat Buleleng pada khususnya. Ini berkat kegigihan petani asal Desa Banjar Kecamatan Banjar yang membudidayakan bekul sejak beberapa tahun lalu.  Di atas lahan seluas 1,5 hektar Drs. Made Budiasa mampu menanam sekitar 500 pohon bekul.

Menurut pensiunan PNS ini, tanaman bidara sangat mudah beradaptasi di berbagai lingkungan, baik yang kering maupun basah. Namun tempat yang paling cocok dan pertumbuhannya maksimal adalah jika di tanam di tempat yang panas, kaya sinar matahari dan cukup kering serta mengalami musim hujan yang memadai. Karena terbukti pohon bidara yang di tanam di daerah yang bercuaca panas seperti Buleleng lebih cepat berbuah dan berbuah lebat jika di bandingkan jika di tanam di daerah yang berhawa sejuk.

Dijelaskan Made Budiasa, diketahui tanaman buah ini masih sangat langka ditemukan di Buleleng hal itu disebabkan selain karena proses pembudidayaannya yang memerlukan perawatan khusus seperti pemupukan, penggemburan tanah juga pentingnya perawatan rutin pada tanaman pasca panen agar menghasilkan buah yang berkualitas serta buah tidak rusak dan terhindar dari ulat atau hama penyakit. “Jika dipelihara dengan baik, mulai dari penanaman hanya membutuhkan waktu enam bulan untuk bisa berbuah selain itu tanaman bekul perlu perawatan khusus agar tidak terserang hama lalat buah,” ungkapnya.

Masih minimnya petani yang membudidayakan buah bekul ini menjadikan usaha ini memiliki prosfek yang sangat menjanjikan. Made Budiasa mengklaim jika satu-satunya petani yang membudidayakan buah bekul di Buleleng adalah dirinya sehingga hasil produksinya dapat dipasarkan tanpa adanya kendala. Diketahui pemasaran buah bekul ini sudah cukup luas, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar buah di pasar tradisonal hingga modern di Buleleng, Denpasar dan Karangasem juga sampai pada pasar Nasional seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan pihaknya sudah bekerja sama dengan pemerintah di Kota Pajawa Kabupaten Ngada, Flores untuk pembudidayaan buah bekul dengan luas lahan 1 hektar, diperkirakan pertengahan Februari ini bibit bekul ini siap di kirim di Flores.

Ia menjelaskan buah bekul ini awalnya tidak begitu di kenal di masyarakat bahkan keberadaanya hampir punah, hal itu dikarenakan sulitnya pemasaran karena masyarakat yang ragu akan rasa dan manfaat buah bekul ini. Akan tetapi optimisme seorang Made Budiasa berbuah manis,  dengan gencar melakukan pemasaran dalam event pameran hasil pertanian, buah bekul ini mulai dikenal masyarakat  hingga tembus pasar Nasional.

Dikatakan, tanaman bekul mampu berbuah sepanjang tahun karena tanaman bekul tidak berpatokan pada musim sehingga sepanjang tahun buah bekul tetap bisa dipanen untuk memenuhi permintaan pasar. Dalam sehari, pihaknya menjual bekul 15-20 kg dengan harga bervariasi  sesuai dengan grade masing-masing. “Bekul ini keunggulannya selain memiliki rasa yang manis dan renyah juga mampu berproduksi buah sepanjang tahun sehingga bekul ini di pandang memiliki prospek yang cerah,”tuturnya.

Di tengah berbagai keunggulan pembudidaya buah bekul, persoalan baru juga muncul. Berbuah sepanjang tahun rupanya tidak baik untuk perkembangan dan produksi buah bekul. Cuaca ekstrim yang melanda kabupaten Buleleng beberapa bulan belakangan ternyata membawa dampak yang tidak baik bagi tanaman bekul. Tanaman bekul cukup rentan terhadap pemenuhan asupan air, sehingga ketika musim hujan tiba maka asupan airnya tidak bisa dikendalikan bahkan tidak jarang kebun miliknya kebanjiran. Kondisi ini sangat berdampak terhadap produksi dan kualitas buah bekul yang banyak rontok dan rasa buah yang awalnya masih dan renyah akan berkurang dan juga kondisi buah banyak yang pecah. Bahkan di musim penghujan yang berbarengan dengan musim mangga, durian, manggis, rambutan, dan buah-buah lainnya juga memberi dampak buruk terhadap perkembangan buah bekul. Tumbuhan yang mulai berbuah di musim hujan tersebut jika tidak dirawat dengan baik maka sangat rentan terkena hama penyakit. Hama tersebutlah yang ikut menyerang tanaman bekul sehingga merusak buahnya. “Ya karena berbuahnya samaan sehingga hama ditanaman itu menyerang tanaman bekul,” ungkapnya.

Tebang Bekul Jenis Apel India

Membudidayakan tanaman bekul sebanyak 500 pohon di atas tanah seluas 1.5 hektar memang tidaklah mudah. Selain biaya yang tidak sedikit, Made Budiasa juga harus mencari bibit tanaman unggul agar buah bekul yang dihasilkan memiliki kualitas unggul pula. Beberapa tahun fokus terhadap pertanian utamanya bekul, Budiasa menemukan beberapa batang pohon bekul yang berhasil ditanamannya memiliki jenis yang berbeda dari bekul lainnya. Pohon bekul yang ia tanam merupakan pohon dengan buah bekul yang memiliki bentuk buah bulat dan besar serta memiliki rasa yang manis dan renyah seperti buah apel. Akan tetapi setelah diamati ternyata puluhan pohon bekul termasuk ke dalam jenis bekul apel India. “Di Bali memang ada jenis bekul India hanya saja orang tidak tahu, setelah saya menggeluti pertanian tenyata dari 500 pohon yang saya tanam ada beberapa yang memang dari bibit yang ditempel dari pohon bekul india,” jelasnya

Dikatakan Budiasa, secara fisik bekul India memiliki bentuk yang lebih mungil dan pada ujungnya tidak bulat sempurna. Pada pangkal buah juga tidak rata sehingga ketika musim hujan banyak air tergenang pada pangkal sehingga cepat terjadi pembusukan.  Jika dibandingkan dengan bekul yang biasa ia tanam, bekul India memiliki tekstur daging yang kurang lembut dan rasa yang kurang manis. Akan tetapi satu keunggulan dari jenis bekul India ini adalah jika tidak dipetik dari masa panennya maka tidak akan berpengaruh terhadap buah dan rasanya. Berbeda dengan bekul pada umumnya yang akan berubah rasa ketika masa panennya lewat. “Kami dengan dinas Pertanian sudah analisa dan menemukan beberapa perbedaanya,” ungkapnya.

Melihat prosfek yang kurang bagus dari bekul jenis apel India ini, Made Budiasa sudah menebang sekitar 40 pohon bekul dari kebun miliknya. “Dibandingkan dengan bekul yang kami punya rasanya berbeda jauh. Paling kalau berbuah kami berikan kepada teman atau tetangga,” pungkasnya. Ditambahkan Budiasa, perbedaan kedua jenis bekul tersebut hanya dapat dilihat ketika memasuki masa berbuah sebab dari segi bibit kedua hampir sama tidak memiliki  cirri khas masing-masing.  (Wiwin Meliana)

To Top