Kolom

KENTUT (4)

Bu Amat heran, kenapa suaminya belum juga kembali dari rumah Ami. Hidangan makan siang sudah mubazir. Sekarang giliran makan malam mulai dingin.
Waktu Amat pergi tadi, janjinya akan makan siang di rumah. Tapi yang kemudian datang justru Sugi, menantunya.
“Bapak, mana, Bu?”
Lho, bukannya ke rumah Nak Sugi?”
“Waduh, mungkin selisipan.”
“Kenapa Nak Sugi? Ada perlu?”
“Mau menyampaikan ini!”
Sugi menunjukkan amplop besar.
“Susul saja lagi ke rumah.”
“Jangan, nanti takut selisipan lagi. Saya mau ke kampus dulu.”
“Ya sudah taruh saja amplopnya di meja. Kadek sehat? Sudah diimuinisasi dipteri?  Ibu lagi nanggung. Penting tidak? Sudah makan? Makan dulu, ibu lagi goreng tempe ini!”
Tak ada jawaban. Bu Amat melongok. Kedengaran suara motor. Lalu suara teriakan Sugi.
“Pamit, Bu! Ada ujian!”
Sekarang amplop itu masih  menggeletak di meja. Untuk membunuh rasa kesal, Bu Amat membawanya ke teras dan mengeluarkan isinya.
Begitu terbaca sekilas, ia terkejut. Lalu membaca ulang dengan sungguh-sungguh.
“Ternyata apa yang Bapak  bilang, betul, Bu,” kata Amat mengagetkan.
Bu Amat mengangkat muka, memandang suaminya yang baru pulang dengan kesal.
“Sudah ngerumpi ke mana saja Pemuda Tua ini?! Seharian ditunggu! Makan sate ke mall ya!”
Amat tersenyum malu.
“Untung Bapak ke situ! Ketemu caleg dadakan kita di sebelah ini. Gayanya sudah seperti pejabat saja. Lalu Bapak tes dengan buah pikiran si Djordje yang diterjemahkan Ami itu. Menurut Ami, itu betul-betul pendapat bule dari Beograd itu. Bapak kutip sampai titik komanya. Eh apa lacur…  ternyata karena itu keluar dari mulut pribumi yang bernama Amat si Pemuda Tua ini, pendapat bule itu dicuekin saja oleh caleg kita di sebelah ini. Kalau Bapak sebut itu pendapat Djordje Marjanovich, putra profesor terkenal di Belgrado, Pak Made pasti akan kontan memujikannya! Jadi sinyalemen Bapak betul! Meskipun telah 73 tahun merdeka jiwa kita masih terjajah! Kita memuja-muja Barat! He-he-he … .”
“Stopppp!!”
Ketawa Amat putus. Bu Amat menatap tajam suaminya.
“Tadi pagi Bapak ke mana?”
“Ke rumah Ami.”
Ngapain?”
“Ya, kan ngambil terjemahan surat Djordje.
“Terus?”
“Aminya ke puskesmas memaksin Kadek. Yang ada hanya Sugi.”
“Terus?”
“Sugi bilang, Bapak ambil saja di meja komputer sudah diprint Ami semalam, katanya dari kamar mandi.”
“Terus?”
Kok Bapak seperti diinterogasi, ini?”
“Terus!!”
“Ya, terus tak ambil, tak bawa pulang dan tadi siang Bapak cecer Ami kenapa surat Djordje diubah-ubah. Ami bilang: tidak ada yang Ami ubah, ya itu surat Djordje! Memang begitu!”
“Terus?”
“Terus Bapak  kecewa berat! Habis,  tadinya kan mau membanggakan Ami, karena tak mengira pikirannya kok bisa sebagus itu. Ternyata itu pikiran Djordje. Bapak sedih, marah. Lalu ke mall untuk hiburan. Eeeee, ketemu Pak Made. Bapak ulangi kata-kata di surat Djordje. Ternyata buat Pak Made, kata-kata itu hanya abab, tak lebih dari kentut. Jadi apa pun kalau keluar dari mulut kita, akan dianggap kentut. Kalau begitu kualitas caleg kita, kita memang perlu revolusi mental!”
“Betul! Dan itu mulai dari mental Bapak! Tadi Nak Sugi nyusul ke mari, dia bilang Bapak salah ambil! Itu bukan terjemahan surat Djordje, itu karangan Ami untuk Bali Post! Terjemahan surat Djordje, ini!’
Bu Amat meletakkan amplop surat dan isinya di tangan suaminya. Amat bengong.

To Top