Edukasi

Dukung Pembelajaran E-Learning Siswa Bawa Ponsel ke Sekolah

Sekolah khususnya di Buleleng melarang para siswanya untuk membawa telepon seluler (ponsel) ke sekolah. Penggunaan ponsel dipandang hanya untuk komunikasi antara siswa dan orang tua hanya dalam hal-hal yang dianggap penting saja. Sekolah telah menyediakan telepon sekolah yang bisa dipakai siswa untuk berkomunikasi dengan orangtuanya. Pelarangan membawa ponsel ke sekolah juga sebagai upaya untuk mencegah terpecahanya konsentrasi siswa dalam mengikuti pelajaran akibat penggunaan ponsel dalam proses pembelajaran.

Pelarangan tersebut saat ini tidak berlaku di SMAN 1 Singaraja. Sejak awal Februari 2018, siswa-siswa SMAN 1 Singaraja diperbolehkan membawa ponsel ke sekolah. Hal ini sebagai bentuk dukungan terhadap  peraturan Gubernur tentang pencanangan e-learning. Siswa diperbolehkan tetapi tidak diwajibkan membawa ponsel sebagai sarana penunjang pembelajaran berbasis elektronik.

Menurut Kepala SMA Negeri 1 Singaraja I Putu Eka Wilantara,M.Pd., kebijakan ini sudah disosialisasikan kepada orangtua dan siswa. Kebijakan yang dibuat ini juga memiliki norma-norma yang harus dipatuhi oleh siswa yang menjalakan. Wilantara menegaskan penggunaan ponsel hanya diperbolehkan untuk mendukung kegiatan proses pembelajaran, di luar dari kegiatan tersebut seperti mengunduh, atau menggunakan ponsel saat sosialisasi akan diberlakukan sanksi. “Aturan-aturan tetap kita terapkan karena kami prioritaskan untuk mendukung e-learning,” paparnya.

Pembelajaran berbasis e-learning memang mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan materi, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demikian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.

Namun, penggunaan ponsel untuk mendukung pembelajaran memang belum diketahui keefektifannya. Penggunaan ponsel hanya dapat dikontrol jika siswa di dalam kelas, akan tetapi penggunaanya tidak dapat dikontrol jika siswa berada di luar kelas. Hal ini menjadi alasan, pihak sekolah membuat aturan tegas terkait penggunaan ponsel tersebut. “Kalau ada siswa yang menggunakan ponsel untuk hal-hal di luar pelajaran kami akan berikan sanksi dari teguran, pemanggilan orang tua, skorsing, hingga dikeluarkan dari sekolah,” jelasnya.

Selama diterapkan hampir seminggu lebih, Wilantara belum dapat mengevaluasi sejauh mana keefektifan kebijakan tersebut. Dirinya akan lakukan evaluasi setelah satu tahun kebijakan itu berjalan. Saat ini pihaknya tengah fokus untuk mengembangkan SDM guru untuk menghadapi pembelajaran elektronik tersebut. “Siswa sedang jalan dengan kebijakan ini, guru juga tengah kami persiapkan sehingga titik temu pada benang merah yang ingin kami capai,” ungkapnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top