Edukasi

Workshop Fasilitasi: Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus

Anak usia sekolah khususnya PAUD, TK, dan SD yang mengalami keterlambatan perkembangan atau anak yang berkebutuhan khusus (special needs) terlihat makin banyak dalam satu dekade ini. Permasalahan anak yang mengalami keterlambatan perkembangan atau anak berkebutuhan khusus ini dapat berdampak signifikan terhadap perkembangan generasi bangsa Indonesia ke depan apabila tidak ditangani secara benar dan serius.

Untuk itu diperlukan penanganan yang tepat melalui peran serta para ahli yang berkompeten tentang  anak berkebutuhan khusus. Namun sayangnya, ahli yang berkompeten tersebut jumlahnya masih sangat terbatas.

Paiketan Krama Bali, suatu perkumpulan krama Bali yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan Bali, merasa prihatin dengan kondisi ini dan mencoba mencari solusi dengan menyelenggarakan pelatihan/workshop  dengan judul “Workshop Fasilitasi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus”. Workshop ini menghadirkan seorang ahli psikolog perkembangan anak berkebutuhan khusus dari Jepang, Chisako Higashitani yang disertai oleh 2 orang mitra kerjanya yang juga sama-sama berasal dari Jepang.

Mereka akan memberikan pelatihan sehari bagi para guru, aktivis peduli anak dan pihak lain yang memiliki tugas untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus.  Ketua Umum Paiketan Krama Bali Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc., PhD. mengharapkan dari workshop ini dapat tercapai peningkatan pengetahuan dan ketrampilan para guru, aktivis peduli anak dan pihak lain yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus, sehingga mereka dapat menstimulasi tumbuh kembang anak-anak berkebutuhan khusus tersebut secara tepat.

Workshop ini akan dilaksanakan Rabu, 28 Februari 2018 di Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional (STPBI), di Jalan Kecak No. 12 Denpasar (Gastu Tengah).  Paiketan Krama Bali mengundang sebanyak 60 orang peserta workshop yang terdiri dari para guru-guru sekolah, aktivis peduli anak dan pihak lain yang menangani anak-anak berkebutuhan khusus. “Jumlah peserta yang terbatas ini dikarenakan jumlah narasumber ahli/tutor yang terbatas untuk memfasilitasi workshop, sehingga workshop ini tetap efektif,” ujar Jero Jemiwi, S.Sos., M.Fil.H., CHT., selaku Ketua Panitia.

 

To Top