Bugar

Jangan Sepelekan Kentut

dr. Made Adhi Keswara, Sp.B(K)BD

Sakit perut melilit tapi tidak bisa kentut. Apa penyebabnya?  Menurut dr. Made Adhi Keswara, Sp.B(K)BD, normalnya kita mengeluarkan kentut secara berkala setiap harinya, namun pada kondisi tertentu atau penyakit, maka hal tersebut tidak bisa dilakukan.

“Kentut diartikan keluarnya gas melalui anus. Selama proses pencernaan, makanan yang kita makan akan dicerna dan dibantu enzim-enzim pencernaan menghasilkan beberapa produk akhir seperti glukosa, asam amino, asam lemak, dan juga menghasilkan gas. Karena saluran cerna merupakan saluran yang panjang dimulai dari mulut hingga anus yang bergerak dinamis maka gas yang dihasilkan tersebut akan dikeluarkan dari tubuh dengan cara kentut,” ujarnya.

Dokter RS Bali Mandara, RS Bali Royal, dan RS Prima Medika ini mengatakan, pasien yang tidak bisa kentut biasanya disertai keluhan lainnya seperti perut kembung, nyeri yang bersifat hilang timbul (kolik), begah, mual, dan muntah. “Perlu dilakukan pemeriksaan baik pemeriksaan fisik ataupun penunjang (rontgen abdomen, USG abdomen, CT-scan abdomen) untuk menentukan apakah keluhan tersebut merupakan gejala dari suatu penyakit yang serius atau tidak,” sarannya.

Ia mengatakan,  banyak penyakit yang memiliki gejala tidak bisa kentut, dan dari pemeriksaan penunjang tersebut dapat diketahui penyebab terjadinya keluhan pasien. “Penyebab yang paling sering dikarenakan adanya sumbatan pada saluran cerna,” kata dr. Adhi Keswara.

Ia menyebutkan, sumbatan saluran cerna dibedakan menjadi dua yaitu sumbatan mekanik dan sumbatan fungsional. Sumbatan mekanik terjadi apabila terjadi penyempitan saluran cerna sehingga makanan yang dicerna tidak bisa lewat. Sedangkan sumbatan fungsional terjadi karena kerusakan pada saraf atau otot pada saluran cerna sehingga gerakan peristaltik usus terganggu. Kedua jenis sumbatan ini dapat terjadi bersamaan.

“Sumbatan mekanik sering disebabkan oleh perlengketan usus dikarenakan riwayat pernah dilakukan tindakan pembedahan sebelumnya, hernia strangulate, usus terpelintir, pada pasien yang mendapatkan terapi radioterapi di daerah panggul untuk penyakit tertentu atau dikarenakan keganasan pada saluran cerna (kanker colorectal). Penyebab tersebut merupakan penyakit yang serius yang harus segera mendapatkan penanganan medis,” kata dr. Adhi Keswara.

Ia mengatakan, kalau gas beserta produk saluran cerna  yang ada di dalam saluran cerna tidak dapat dikeluarkan dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi peningkatan tekanan di dalam rongga perut. Peningkatan tekanan intra abdomen yang terus menerus dapat menjadi suatu kondisi yang cukup serius dinamakan abdominal compartment syndrome (ACS).

Tingginya tekanan intra abdomen dapat menekan pembuluh darah besar yang akan balik ke jantung, mengganggu fungsi ginjal, serta menekan diafragma sehingga mengganggu proses pernafasan. Kemungkinan lain dapat terjadi kebocoran usus yang paling sering diakibatkan karena adanya keganasan saluran cerna. Apabila hal ini terjadi kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat akibat kontaminasi isi usus dan flora usus ke seluruh rongga abdomen. Kedua kondisi ini jika tidak segera ditangani akan berakibat fatal bahkan dapat mengakibatkan kematian.

Apabila sumbatan yang terjadi hanya partial (tidak total) dapat diterapi dengan mengistirahatkan usus (tidak memberikan makanan ataupun minuman), pemberian cairan, dan apabila diperlukan dipasang selang melalui hidung untuk mendekompresi tekanan intra abdomen.

Menurutnya, sebagian besar kasus dapat diselesaikan dengan cara konservatif, namun apabila telah dilakukan tindakan namun kondisi pasien tidak membaik bahkan memburuk maka diperlukan tindakan pembedahan untuk mengoreksi penyebab terjadinya sumbatan.  Pada beberapa pasien yang mengalami sumbatan kronik akibat penyempitan saluran cerna dapat dipasang stent melalui teknik endoscopy. Prosedur ini tidak memerlukan sayatan.

Tips Sehat Saluran Cerna

Untuk menjaga agar kondisi saluran cerna tetap sehat, dr. Made Adhi Keswara, Sp.B(K)BD memberi tips, menjaga agar tubuh mengeluarkan sisa proses pencernaan (BAB) secara teratur dengan mengonsumsi makanan yang baik dan  minum air putih yang cukup  dapat mencegah terjadinya penyakit pada saluran cerna.

Kurangi mengonsumsi daging merah dan daging olahan, memperbanyak makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah-buahan. Mengonsumsi antioksidan (selenium, beta carotene, lutein) untuk membantu tubuh melawan kerusakan sel yang diakibatkan radikal bebas dapat mengurangi perkembangan sel kanker. Antioksidan dapat diperoleh dari makanan seperti buah-buahan, sayuran, dan beberapa jenis teh.

Ia menegaskan,  sumbatan saluran cerna merupakan kondisi medis yang serius. Sumbatan dapat terjadi partial ataupun total dan dapat terjadi pada usus halus ataupun usus besar. Sumbatan total merupakan kegawatdaruratan medis dan sering memerlukan tindakan pembedahan. (Wirati Astiti)

To Top