Kreasi

Tari Legong Adu Pesona dengan Tari Trompong

Tari legong yang lazim juga disebut Legong Kraton adalah salah satu tari klasik Bali yang diduga telah berkembang pada abad ke-19. Sedangkan tari  Trompong adalah ciptaan seni tari yang hadir di tengah perkembangan gamelan modern Gong Kebyar pada awal abad ke-20. Kini, kedua ungkapan seni tari yang kelahirannya berjarak seabad tersebut bersanding menunjukkan kemilau indahnya. Kegemilangan kedua tari ini yang disajikan di delapan desa di Bumi Seni Kabupaten Gianyar, 25-26 Januari lalu.

Pentas Tari Legong dan Kebyar Trompong itu serangkaian dengan sajian Gong Kebyar oleh grup-grup seni pertunjukan yang diseleksi menjadi duta Kabupaten Gianyar untuk Parade Gong Kebyar Se-Bali di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2018 bulan Juni-Juli mendatang. Delapan sekaa yang  menyuguhkan kesungguhan dan ketangguhannya itu adalah empat dari kategori anak-anak dan empat dari tingkat dewasa. Sejak sore hingga malam, selama dua hari, kedelapan grup Gong Kebyar itu disimak dan dicermati satu per satu penampilannya oleh tim juri. Masing-masing peserta wajib menampilkan sebuah konser tabuh dan sebuah sajian tari. Gong Kebyar anak-anak menyajikan tari Legong Kraton dan Gong Kebyar dewasa mementaskan tari Kebyar Trompong.

Greget berkesenian sungguh memancar dari para seniman, penabuh dan penari, dari masing-masing sekaa seleksi Gong Kebyar di Kabupaten Gianyar itu. Atmosfer yang apresiatif  pun memancar, tampak dari antusiasisme masyarakat penonton menyaksikan pagelaran tersebut. Di Wantilan Pura Payogan Agung Ketewel yang menampilkan Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Banjar Puseh, Ketewel, Sukawati, masyarakat penonton setempat hadir penuh sesak yang menyaksikan pementasan selama 30 menit itu dengan binar rasa ingin tahu. Sajian tari Legong Kraton yang dibawakan oleh dua bocah perempuan, ditatap segenap penonton seakan tanpa berkedip. Di Banjar Kawan, Mas, Ubud, penampilan Sekaa Gong Adhi Putra Kencana, disimak sarat perhatian para penonton kendati diusik oleh guyuran hujan. Sajian tari Kebyar Trompong dikagumi penonton dengan desis berdecak.

Parade Gong Kebyar untuk PKB 2018, salah satu materi wajibnya adalah tari Legong Keraton bagi Gong Kebyar Anak-anak dan tari Kebyar Terompong bagi Gong Kebyar Dewasa. Oleh karena itu, kiranya bulan-bulan ini, aktivitas berkesenian dengan materi tari Legong Kraton dan tari Kebyar Trompong, membumbung di seluruh penjuru Bali bagi grup-grup kesenian yang menjadi utusan Parade Gong Kebyar dari masing-masing kabupaten/kota. Untuk menentukan wakilnya, Kabupaten Gianyar menjaring dengan sistem seleksi, disebabkan begitu banyaknya sekaa-sekaa yang berhasrat berkesenian dalam ajang prestius itu. Agaknya, seleksi adalah kancah yang ideal menelorkan utusan yang elegan. Untuk lolos menampilkan tari Legong Kraton dan Kebyar Trompong saat mabarung di Ardha Candra, Taman Budaya Bali pada PKB tahun ini, tentu tidak hanya Gianyar yang bersungguh-sungguh, duta kabupaten dan kota lainnya sudah pasti juga ingin memetik penona.

Legong Kraton yang dijadikan materi wajib untuk Parade Gong Kebyar Anak-anak, berspektif penting bagi eksistensi tari ini. Betapa tidak. Tari Bali yang awal perkembangannya menguak dari Desa Sukawati ini adalah genre seni tari bertabur nilai estetis luhur. Tata tarinya yang teruntai lentur, bersemangat, dan energik dalam bingkai abstrak-impresionis, menjadikannya sebuah tontonan seni yang melontarkan pesan moral kehidupan berkearifan budi. Hayatilah, misalnya, sajian Legong Kuntul dari Sekaa Gong Kebyar Anak-anak Werdhi Yowana Bedulu, Blahbatuh, yang ditampilkan dalam seleksi Gong Kebyar di Gianyar itu. Dibawakan  apik oleh empat penari, ekspresi keindahan dan imajinasi tentang lingkungan fauna dan flora yang asri terbersit menggugah. Kini, keindahan legong yang bertutur tentang sekumpulan bangau ini tak begitu sering dapat disaksikan masyarakat.

Penonton, masyarakat Bali masa kini, juga kian jarang menyaksikan tari Kebyar Trompong. Tari yang dalam penampilannya disertai dengan keterampilan menabuh instrumen trompong ini mulai dikenal masyarakat Bali sejak tahun 1925. Adalah seniman tari  I Ketut Marya (Mario) dari Tabanan yang menciptakan dan menyebarluaskan tari ini. Tari berkarakter babancihan ini lazim dibawakan secara tunggal oleh seorang pelaku pria. Koreografi tari ini didominasi oleh gerak-gerik duduk bersimpuh, berputar dan berjinjit-jinjik dengan penonjolan stilisasi permainan terompong meliuk-liuk melankolis. Tengok, Tari Kebyar Trompong gaya Peliatan yang disuguhkan oleh penari Gong Kebyar Banjar Kawan Mas, hadir dengan gairah yang membuncah. Juga, perhatikan, tari Kebyar Trompong grup Gong Kebyar Desa Sukawati menerjang sigap dengan aura karismatik.

Diusungnya tari Legong Kraton dan tari Kebyar Trompong dalam arena bergengsi Parade Gong Kebyar PKB 2018, tentu akan jadi pemicu terhadap eksistensinya. Di panggung seni pentas yang menjadi primadona penonton PKB ini, keduanya akan semakin luas diapresiasi ribuan masyarakat, dan dengan demikian semakin disimak dan dikagumi keadiluhungannya. Kesenian sebagai capaian peradaban manusia, adalah kiblat penting dan pijakan strategis untuk meniti langkah-langkah kemajuan ke depan.  Keindahan tari legong yang fleksibel diganduli pesan saripati moral kehidupan, masih kontekstual menyemai harkat budaya masyarakat Bali. Kecemerlangan tari Kebyar Trompong yang menggetarkan kreativitas modern, menstimulasi kesadaran hidup yang dinamis penuh tantangan seperti terlukis dalam gerak lincah dengan rona girang dalam  tari ini.   (Kadek Suartaya)

To Top