Inspirasi

Made Hermawati Diah Pertiwi: Temukan Passion

Made Hermawati Diah Pertiwi

Mereka yang sedang berada di puncak karier memerlukan proses untuk menggapai kesuksesan. Kesuksesan mereka tidak datang serta merta melainkan melalui sebuah perjuangan yang panjang. Hal ini juga diceritakan oleh Made Hermawati Diah Pertiwi, S.E., yang saat ini tengah menjabat sebagai Pimpinan KCP Bank CIMB Niaga Singaraja.

Menurut perempuan yang akrab disapa Herma ini, kesuksesan setiap orang tidak didapat dengan instan melainkan melalui sebuah perjuangan dan pengorbanan. Mengawali karier di dunia perbankan sejak 1993, Herma sudah memiliki berbagai pengalaman diberbagai Bank dengan posisi yang beragam pula. Sebelum menjabat, perempuan yang mudah bergaul ini mengaku menjalani setiap prosesnya dari bawah. “Mengawali karier saya hanya sebagai tukang sortir uang yang pada akhirnya terus membawa saya untuk mencintai pekerjaan di dunia perbankan,” jelasnya.

Di tengah perjuangannya meniti karier, rupanya Herma juga dihadapkan pada sebuah pilihan yang menuntut pengorbanannya.  Setelah sempat bekerja di beberapa Bank, dirinya terpaksa resign akibat terbentur kontrak hamil dan terpaksa kembali ke kampung halaman. “Sempat berhenti dan pulang kampung, kebutulan saat itu saya sedang hamil dan mertua juga sakit,” kenangnya. Namun, rupanya Tuhan masih memberikan ia jalan sehingga dirinya mendapat tawaran dari relasi untuk kembali bekerja di bidang perbankan.

Memiliki pengalaman kerja di bidang perbankan selama 25 tahun, tentu ada masa-masa jenuh yang dirasakan oleh ibu dari dua anak ini.  Menurutnya tahun-tahun jenuh hingga membawa keputusasaan dalam pekerjaan saat dirinya sudah memasuki masa kerja ditahun ke 10 hingga ke 15. Meskipun Herma sangat menyukai pekerjaannya akan tetapi rasa jenuh tetap tidak bisa dihempasnya yang pada akhirnya membawa keinginan untuk berhenti bekerja. Untunnya, sang suami yang saat ini juga sedang menjabat sebagai Ketua DPRD Buleleng periode 2014-2019, Gede Supriatna selalu memberikan dukungan penuh. Mengenal sejak lama, Supriatna yakin bahwa sang istri bukan tipe orang rumahan. “Suami tahu benar karakter saya seperti apa, sehingga berkat dukungannya saya menemukan hal yang membuat saya bosan dan jenuh,” tuturnya.

Perempuan yang lahir di Desa Munduk, 11 Januari 1970 ini akhirnya menemukan kendala yang selama ini dihadapi. Dirinya yang lebih suka bertemu orang banyak dan bergaul dengan siapapun kurang tepat jika ditempatkan pada bidang divisi operation, dan mencoba pindah ke divisi marketing. “Di sini saya  baru menemukan passion saya bahwa saya lebih suka di marketing,” ungkap ibu yang hobi traveling tersebut.

Menjadi seorang marketing dan bertemu dengan banyak orang tentu juga membuat Herma memiliki pengalaman menghadapi orang-orang dengan berbagai karakter. Ditambahnya ada dua tipe nasabah yang selalu ia temui, menyenangkan dan tidak menyenangkan. Tentu yang menyenangkan akan membuat mereka nyaman dalam komunikasi, sebaliknya yang tidak menyenangkan  akan membuat dirinya merasa tidak nyaman. Akan tetapi, sebagai marketing yang memiliki komitmen tentu hal ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Mengubah nasabah yang tidak menyenangkan menjadi menyenangkan adalah hal yang menyenangkan baginya. “Sangat menyenangkan bagi saya jika dapat memberikan solusi terbaik bagi orang-orang yang tidak menyenangkan ini,” papar perempuan murah senyum ini. (Wiwin Meliana)

To Top