Inspirasi

PUTI GUNTUR SOEKARNO: Bercita-cita Menjadi Seniman

PUTI GUNTUR SOEKARNO

SEPERTI sang kakek, Bung Karno, maka darah seni pun mengalir deras di diri sang cucu, Puti Guntur Soekarno. Putri semata wayang Guntur Soekarnoputra itu bahkan saat remaja sempat bercita-cita menjadi seniman.

“Ya, itu benar…. Aktivitas saya di luar sekolah, lebih banyak dihabiskan untuk menekuni dunia seni. Saya belajar melukis, belajar menari, belajar piano…. Saya pikir ketika itu, masa depan saya di dunia seni,” ujar Puti.

MALAH JADI POLITIKUS

Manusia berencana, tapi garis hidup menuntut ke arah lain. Alih-alih melanjutkan kuliah di akademi atau institut seni, Puti justru diterima di Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, jurusan Administrasi Negara. “Seiring waktu, perhatian pun beralih ke soal-soal politik. Eh… akhirnya jadi politikus,” ujar ibu dua anak itu seraya menambahkan, “yaaa…. Mirip eyang Karno ya? Cita-cita seniman, kuliah teknik, akhirnya jadi politikus dan presiden pertama Indonesia.”

Wanita lembut-tapi-tegas itu, kemudian bergabung ke PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri yang tak lain adalah tantenya sendiri. Akan tetapi, keliru jika menduga duduknya Puti di DPR RI selama dua periode berturut-turut, semata-mata karena status hubungan keponakan-tante. Dalam banyak hal, Puti berjuang seperti halnya kader partai yang lain. Termasuk ketika harus turun ke daerah pemilihan (Dapil) Jabar X (Kuningan, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran), tempat ia ditugaskan.

Selama masa kampanye, Puti dan suami, Joy Kameron tak segan-segan turun ke jantung rakyat. Berdialog langsung dan menyerap aspirasi mereka. Bahwa kemudian masyarakat mengetahui ia adalah cucu Bung Karno, itu soal berikutnya. Tetapi, ia bekerja sangat keras untuk tidak sekadar mengusung nama besar sang kakek. “Bung Karno adalah kakek saya. Guntur Soekarnoputra adalah ayah saya. Tugas saya bukan membebani nama besar mereka, melainkan seberapa pantas saya menyandang nama Soekarno,” tegasnya.

Komitmen dan sikap itu yang ia bawa hingga detik ini. Pantang baginya membawa-bawa nama besar Bung Karno, jika dirinya hanya menjadi beban atau justru mempermalukan para leluhurnya. “Saya senang jika pada akhirnya dikenal dan dipercaya rakyat, lebih karena kemampuan saya, bukan semata karena embel-embel nama kakek dan ayah, dan itu yang selalu ditekankan ayah kepada saya,” ujar Puti lagi.

Tak heran, jika banyak wakil rakyat yang menanti-nanti masa persidangan atau menunggu saat-saat kunjungan kerja ke luar negeri, maka Puti justru sangat menanti saat-saat reses. Sebab, itu artinya ia bisa segera meluncur ke Kuningan, Ciamis, Banjar dan Pangandaran untuk bertemu konstituennya.

Bahkan, Puti sudah punya semacam “ritual” khusus setiap “pulang kandang” ke basis massa tempat ia dipilih. Seperti saat mengunjungi Tatar Galuh bersama Komunitas Tani Puspa Seruni di Kabupaten Ciamis beberapa waktu lalu. Sebagai wakil rakyat ketika itu, ia berbaur dengan masyarakat petani. Massa Marhaen sesungguhnya.

Ada kebiasaan Puti saat menikmati suasana bersama rakyat. Seperti, kebiasaan memesan tape goreng, untuk kudapan bersama kopi atau teh sesampai di sana. Kebiasaan lain, mampir di bakul surabi di sekitar Pangandaran. Bahkan pernah suatu kali, ia spontan membaur ke warga desa dan mengajak ngeliwet bareng, kemudian masuk dapur warga dan membuat sambal terasi. Ibu-ibu yang tanggap, langsung menyiapkan lalapan.

Sebagian lain, spontan menyiapkan menu ikan asin. Sejumlah bapak-bapaknya juga spontan mengunduh beberapa butir kelapa muda. Lalu, mereka makan bareng, “Ya, itu sungguh luar biasa…. Momen-momen yang selalu saya rindukan,” ujar Puti Guntur sambil tersenyum manis.

Tak heran bila Puti menjadi sosok yang dinanti kehadirannya. Bukan saja ibu-ibu dan remaja, tetapi juga kaum sepuh. “Ingatan warga akan sosok Eyang Karno begitu kental. Saya sering kewalahan meladeni ajakan diskusi seputar masa-masa kepemimpinan eyang. Di sisi lain saya sadar, ada semacam kerinduan mereka akan ruh Bung Karno,” katanya.

Begitulah. Dan kini, wanita kelahiran Jakarta 26 Juni 1971 itu ketiban sampur, mendapat tugas mendadak dari partai untuk menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur, mendampingi “Gus Ipul” Saifullah Yusuf. “Ketika ada proses seleksi di internal partai, saya memang sempat ikut proses seleksi. Tetapi, pikiran saya untuk wilayah Jawa Barat. Akan tetapi partai menugaskan saya ke Jawa Timur. Saya kira tidak masalah, saya siap,” ujar pemilik nama lengkap: Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri.

Baginya, Surabaya atau Jawa Timur bukan daerah yang asing. “Eyang Karno lahir di Surabaya. Jazad beliau dimakamkan di Blitar. Jadi… buat saya, penugasan menjadi Cawagub Jawa Timur tak ubahnya menapak tilas jejak-jejak eyang Karno,” pungkasnya.

Bung Karno berdarah Jawa Timur. Darah itu pula yang mengalir pada diri Guntur Soekarnoputra, ayahandanya. Dan itu artinya, darah Jawa Timur juga yang mengalir di tubuh seorang Puti, sebagai putri semata wayang Guntur.

“Entahlah… apa ini yang dinamakan jalan Tuhan. Saya mewakili masyarakat Jawa Barat di DPR RI. Kita tahu, Jawa Barat adalah medan perjuangan Bung Karno sejak kuliah di THS atau ITB sekarang, hingga mendirikan PNI lalu dijebloskan ke penjara oleh pemerintah colonial Belanda. Kemudian, dari Jawa Barat, saya mendapat tugas menjadi Cawagub Jawa Timur. Sangat tidak pernah saya duga. Jika Tuhan berkehendak, maka inilah kesempatan saya sebagai cucu Bung Karno mengabdi bagi masyarakat Jawa Timur, bumi di mana Bung Karno dilahirkan dan dimakamkan,” ujar Puti yang penyayang kucing itu.

Satu hal yang pasti, Puti paham benar konsekuensi ketika terjun ke ranah politik. Benar, bahwa ia diusung oleh partai politik. Ada keinginan yang besar dari dasar hatinya, untuk kemudian mengenyahkan semua atribut kepartaian, manakala ia duduk menjadi wakil gubernur. (Diana Runtu).

To Top