Kolom

KENTUT (3)

Amat tidak langsung pulang, ia dihanyutkan perasaan kecewanya ke mall. Di situ ia mengirim 20 tusuk sate ke perutnya. Tetapi hatinya kian tersiksa.
“Mengapa terus-terusan bule-bule juga yang membangkitkan kesadaran kita. Apakah sudah takdir kita ras kulit lebih pekat jadi kulinya tuan-tuan putih?”
Tiba-tiba pundak Amat ditepuk.
“Ngelamun Pak Amat!”
Amat terkejut menemukan Pak Made di dekatnya.
“Ada apa Pak Amat, kucingnya mati? Waktu kucing kami mati istri saya juga nangis. Tapi saya malah makan sate seperti Pak Amat! ha-ha-ha!”
Amat terpaksa ikut ketawa. Tetapi lalu curhat.
“Pak Made, menurut Pak, bagaimana kondisi-situasi kita sekarang?”
Pak Made berpikir.
“Itu pertanyaan atau interogasi?”
“Pertanyaan murni. Saya lagi kecewa Pak Made!”
“O, jangan! Berpikir positiflah selalu!”
“Mengapa segala sesuatu yang datang dari mancanegara, khususnya dari orang bule selalu kita apresiasi tinggi, tak peduli jelek atau berbahaya! Sedang yang datang dari saudara sesama pribumi, masuk kuping kanan keluar kuping kiri?”
“Pak Amat ingin saya jawab selaku warga atau caleg?”
“Terserah Pak Made.”
“Saya jawab dulu selaku warga. Di mana-mana masuk kanan keluar harus kiri! Kalau masuk kanan keluar kanan bisa kawin! Ha-ha-ha!”
“Sebagai caleg?”
“Sebagai caleg: bule kan sudah berjasa menyatukan kita jadi Hindia Belanda. Itulah kita rebut, sehingga lahir indonesia. Ya kan? Kalau tidak? Lagi pula bule kan orang jauh? Tamu wajib kita apresiasi. Harus kita muliakan. Makanya MC selalu menyapa: Hadirin yang kami muliakan …begitu! Ya kan! Ha-ha-ha!”
Amat terpaksa ikut tertawa basa-basi.
“Ha-ha-ha! Apa Pak Made setuju kalau saya katakan kita lupa kita ini kaya-raya, karena kita terlalu kaya. Seperti kata pepatah kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tak nampak. Baru setelah hak cipta batik mau dicuri, kita panik merebut kekayaan yang sudah kita cuekkan. Makanya se karang batik keren! Ya kan Pak caleg?”
Pak Made tak perduli yang dikatakan Amat. ia masih mengagumi leluconnya sendiri.
“Pak Amat! Dalam kearifan lokal kita ada ungkapan hormatilah tamu! Kalau ada tamu kita berani ngutang supaya bisa menservis tamu dengan steak Kobe, sementara  anak kita cukup makan nasi basi. Ha-ha-ha!”
Amat terpaksa mengulang terjemahan surat Djordje:
“Pak Made! Kita lupa, sebenarnya negeri kita ini, kaya-raya. Ada 17 ribu  pulau, 1100 bahasa lokal, 714 suku bangsa. Tak terhitung tradisi dan kearifan lokal. Kuliner maknyus yang tumpah-ruah. Bahan untuk kerja kreatif berlimpah dan beragam. Teater, tari, senirupa, musik, sastra yang seabrek-abrek. Jangan lupa hanya satu bahasa persatuan yang gemerincing tangkas mengalir indah dari Sabang hingga Meraoke. Begitu lebat, pekat semarak dan dahsyatnya sampai bagai gajah di pelupuk mata, justru ‘tak nampak’. Kita miskin karena terlalu kaya. Karena bukannya memanfaatkan yang ada, kita malah bermimpi yang lain, yang tak kita miliki. Karena yang tak ada memang cendrung lebih seksi. Baru kalau ada yang tercuri atau hilang, kita panik, marah, nyaris kalap dan kalang kabut. Hak cipta tempe sudah di tangan saudara tua, janganlah disusul batik, dll. Lalu di situ kita mulai bangkit, agak telat, tapi hasilnya masih konkrit. Batik kini keren banget! Agaknya musuh, teror, segala ancaman punya aspek positip di samping berbahaya sekali, kalau sampai menang. Jangan pernah kalah! Bagaimana pendapat, Pak Made!”
Pak Made kembali ketawa. Tetap sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Wah, wah, wah ternyata Pak Amat punya bakat jadi tim sukses! Boleh kerjasama kita. Sekarang kemasan itu nomor satu. Barang busuk pun bisa top kalau promosinya panas. Ha-ha-ha! Nanti kita bicara lagi Pak! Heeee,  itu kan Bu Wayan. Apa kabar Bu Dirut?”
Pak Made meninggalkan Amat begitu saja. ia menyapa istri konglomerat raja perhotelan.
Amat termenung. Ia menemukan kebenaran dugaannya. Jadi memang harus dicarikan ojek bule, baru kata-kata jadi berharga.
“Alangkah dalamnya kuku kolonialisme mencakar kita! Tanah air sudah bebas merdeka, tapi mental kota masih terjajah. Kita benar-benar memerlukan revolusi mental,” bisik Amat pedih.

To Top