Bugar

Kusta bukan Penyakit Kutukan

dr. Ni Nyoman Ayu Sutrini, M.Repro, Sp.KK

Menurut  WHO, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penyakit kusta yang tinggi. Indonesia menempati urutan ketiga di dunia dengan 16.856 kasus setelah India (134.752 kasus) dan Brazil (33.303 kasus) pada tahun 2013.

Adanya kasus baru kusta yang bermunculan di beberapa daerah perlu mendapat perhatian, meski proporsinya tidak mempengaruhi status eliminasi. Terdapat beberapa provinsi di Indonesia yang belum mencapai status eliminasi yang ditandai angka prevalensi kusta di wilayahnya masih >1 per 10.000 penduduk. Sebagian besar berada di wilayah Indonesia Timur.

Menurut dr. Ni Nyoman Ayu Sutrini, M.Repro, Sp.KK, jumlah kasus kusta di Bali tahun 2016 sebanyak 108 orang kasus lama yang masih berobat dan kasus baru sebanyak 99 orang.

Kasus kusta pada anak juga perlu mendapatkan perhatian. Makin tinggi proporsi ditemukannya kasus baru kusta pada anak berusia kurang dari 13 tahun menandakan potensi penularan berupa kontak di keluarga dan lingkungannya dan tingginya transmisi di suatu wilayah.  Di Indonesia, setiap tahunnya ditemukan kurang lebih 1500 kasus kusta baru pada anak-anak.

Ia mengatakan, kusta atau lepra bukanlah penyakit keturunan atau kutukan. “Kusta merupakan penyakit menular atau infeksi menahun yang disebabkan kuman mycobacterium leprae,” ujar dokter RSUD Bali Mandara ini.  Bakteri ini pertama kali menyerang kulit dan saraf tepi sehingga bila terlambat diobati dapat menimbulkan  kecacatan. “Meskipun tergolong penyakit menular, namun sulit untuk menular karena yang berisiko tertular adalah orang-orang yang kontak erat dengan penderita dalam jangka waktu yang lama. Masa inkubasi mulai masuknya kuman ke dalam tubuh sampai menimbulkan penyakit kusta adalah rata-rata 2-5 tahun,” jelasnya.

Cara masuknya kuman melalui saluran pernapasan bagian atas dan kontak kulit yang tidak utuh. Munculnya penyakit ini pada seseorang pun tergantung pada imunitas/kekebalan tubuh yang berarti status imunitaslah yang mempengaruhi masa inkubasi bahkan menentukan tipe kusta yang diderita.

Beberapa tanda seseorang menderita kusta, adanya bercak merah atau putih di kulit yang mati rasa atau tidak gatal, bintil-bintil kemerahan yang tersebar pada kulit, raut muka yang berbenjol-benjol, lepuh atau luka kronis/lama yang tidak nyeri. Selain tanda-tanda di kulit, tanda-tanda pada saraf yang bisa ditemukan, rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota gerak atau wajah, ada kecacatan dan luka yang sulit sembuh. “Tanda-tanda tersebut bukanlah tanda utama penyakit kusta, namun jika ditemukan sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih teliti,” sarannya.

Berdasarkan tingkat kekebalan tubuhnya, secara sederhana dan garis besarnya kusta dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu kusta kering (pausibasiler/PB) dan kusta basah (multibasiler/MB). Makin rendah kekebalan tubuh penderita, tipe yang diderita ke arah MB. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk pengobatan pada kondisi lapangan. Dasar dari klasifikasi ini adalah gambaran klinis yang ditemukan pada penderita dan hasil pemeriksaan BTA dari kerokan kulit.

Ia mengatakan, pengobatan kusta bertujuan untuk memutus rantai penularan, menyembuhkan penyakit dan mencegah kecacatan/bertambahnya kecacatan yang sudah ada sebelum pengobatan.

Regimen pengobatan kusta diistilahkan dengan Multi Drug Therapy (MDT) yang diberikan secara gratis. MDT aman diberikan pada wanita hamil maupun menyusui dan anak-anak dengan dosis pada anak-anak lebih rendah dibandingkan dewasa.

HILANGKAN STIGMA NEGATIF

Salah satu cara memutus rantai penularan kusta adalah dengan menemukan penderita kusta dan mengobatinya.  “Pemerintah Provinsi Bali telah melaksanakan kegiatan screening untuk menemukan kasus kusta baru di seluruh kabupaten Bali setiap tahunnya yang sudah berlangsung sejak tahun 2012. Program terakhir yang baru berjalan sejak tahun 2017 adalah Rapid Village Survey dengan gerakan ayo temukan bercak di semua kabupaten wilayah Provinsi Bali,” ujar dr. Ayu Sutrini.

Menurutnya, walaupun pemerintah telah membuatkan program tersebut, kita tidak bisa mengandalkan pemerintah tetapi masyarakat juga harus berperan aktif dengan sadar terhadap kesehatan pribadi dan lingkungan, tidak mendiskriminasi penderita kusta yang dapat menghambat penemuan dan pengobatan kusta.

Dalam rangka membangun perhatian masyarakat, 29 Januari  diperingati sebagai Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy Day ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, meningkatkan motivasi, mengubah pandangan maupun menghilangkan stigma negatif bahwa penderita kusta dan orang yang pernah mengalami kusta juga memerlukan perhatian masyarakat.

Terkait vaksinasi, terdapat satu penelitian di tahun 1996 di Malawi pemberian vaksinasi BCG satu dosis dapat memberikan perlindungan sebesar 50% dan dua dosis memberikan perlindungan hingga 80%. Namun, kata dia,  penemuan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena penelitian di beberapa negara memberikan hasil yang berbeda. (Wirati Astiti)

 

To Top