Metropolitan

Hujan Pertanda Rezeki Melimpah?

Akhir-akhir ini hujan terus mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Rasanya tak ada hari tanpa hujan akhir-akhir ini, mulai dari intensitas rendah, sedang, hingga tinggi. Bahkan kini Jakarta –setelah dua tahun tidak banjir– banjir lagi di sejumlah titik yang dulunya langganan banjir. Menurut BMKG, saat-saat ini memang tengah masuk pada masa puncak musim hujan yang akan berakhir pada Maret 2018 mendatang. Itu sebabnya curah hujan tinggi.

Tapi untuk kebanyakan  orang  beretnis Tionghoa, hujan pertanda baik, apalagi Imlek segera tiba. Tentunya, asal tidak berlebih sehingga menyebabkan Jakarta ‘tenggelam’. Hujan di hari Imlek dipercaya sebagai bertanda ‘rezeki’ yang bakal lancar sepanjang tahun. Benarkah?

“Itu kan kepercayaan orang-orang tua dulu bahwa kalau hujan bertanda rezeki sepanjang tahun. Kepercayaan itu terus hidup sampai sekarang termasuk di kalangan generasi muda. Tapi hujan yang dipercaya mendatangkan rezeki itu adalah hujan ringan. Bukan hujan yang lebat, apalagi yang turun terus menerus. Sehabis sembayang Imlek kemudian turun hujan gerimis, orang senang karena percaya doanya terkabul,” ungkap seorang penjaga klenteng di Petak Sembilan, Jakarta Barat.

Pakar feng shui, Suhu Yo maupun Xiang Yi juga memiliki pandangan serupa. Bahwa hujan dikaitkan dengan rezeki memang itu merupakan kepercayaan yang telah hidup sejak zaman dahulu kala di kalangan masyarakat Cina bahkan hingga kini. Namun, kedua master feng shui itu sependapat bahwa rezeki setiap orang sudah ada jalurnya masing-masing. “Ada atau tidak ada hujan, setiap manusia sudah ada rezekinya masing-masing, enggak ada hubungannya dengan hujan,” ungkap Suhu Yo.

Justru , katanya, makan ikan di kala Imlek lebih dipercaya sebagai lambang rezeki. “Jadi bukan hujan tapi memakan ikan. Itu pun bukan makan asal makan. Tapi memakan bagian atas ikan,” kata  Suhu Yo.

Terkait  hubungan hujan saat Imlek dan rejeki juga diungkap Suhu Xiang Yi. Seperti halnya Suhu Yo, dia juga berpendapat sesungguhnya garis peruntungan masing-masing orang sudah ditetapkan sesuai dengan kelahirannya. Itulah yang menentukan kehidupan dan peruntungannya. “Jadi bukan soal hujan atau tidak hujan saat Imlek,” ucapnya.

Imlek sendiri bukanlah perayaan hari besar keagamaan namun hanyalah tradisi yang berasal dari Cina dan dirayakan oleh semua bukan hanya mereka yang beragama Konghucu. “Mereka yang beragama lain pun kalau dia merupakan keturunan Tionghoa kebanyakan ikut merayakan Imlek,” katanya.

Meski hujan selalu mengguyur namun sejumlah tempat yang menjual pernak-pernik Imlek tetap semarak dan padat pengunjung. Di Mangga Dua Mal, Pasar Pagi maupun pasar Petak Sembilan ramai didatangi pembeli yang khusus mencari pernak pernik, khususnya yang berkaitan dengan shio ‘Anjing Tanah’ 2018. “Ya lumayanlah, tetap ramai. Kalau nggak hujan mungkin bisa lebih ramai lagi,” ucap Maman, penjaga lapak lampion.

Harga lampion, tergantung ukuran dari puluhan ribu sampai ratusan ribu rupiah yang berukuran besar. “Tapi nanti sehari menjelang Imlek biasanya kita kasih diskon besar bisa sampai 50% lebih khususnya yang berlambang ‘Anjing Tanah’ karena lampion yang pakai simbol itu tidak bisa disimpan lama. Tahun depan kan nggak mungkin jual lampion simbol anjing karena shionya bukan itu. Tapi kalau lampion atau pernak-pernik yang bersifat netral ya tetap bisa disimpan, diskonnya biasa saja maksimal 30-40%,” ungkap Maman. (Diana Runtu)

To Top