Surabaya

Mi dari Sayur dan Buah

Mi adalah makanan yang sudah populer di semua kalangan. Makanan mi konon berasal dari negeri Tiongkok, dan kini biasa dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat di Indonesia. Banyak sekali masakan di Indonesia menggunakan bahan dasar mi seperti bakmi ayam, pangsit mi ayam, mi rebus, lontong mi, dan lain–lain.

Karena banyaknya kebutuhan produk mi di Indonesia, banyak sekali industri produsen mi tumbuh di Indonesia. Mulai dari skala industri rumahan sampai industri pabrikan besar yang memproduksi mi instan dalam kemasan. Ada banyak produk dan varian rasa mi instan kemasan yang dihasilkan oleh industri besar seperti mi goreng, mi kare ayam, mi kaldu ayam, mi soto, dan lain- lain.

Bahkan saat ini industri mi kemasan berlomba lomba untuk mengangkat masakan lokal nusantara seperti rawon, rendang dan soto sebagai varian rasa. Seakan-akan mereka ingin meninggalkan pesan bahwa mengikat kebinekaan di nusantara bisa dilakukan melalui  mi instan. Adalah Eka Hadiyati, arek Suroboyo alumni SMTK Margorejo, yang mencoba mengangkat kebhinekaan dan  keanekaragaman nusantara  dalam wujud mi warna–warni dalam satu kemasan. Jika biasanya mi terbuat dari tepung murni, Eka membuat olahan inovasi baru dari buah dan sayur.

Ada warna kuning, hijau dan merah, yang semua bahan warnanya terbuat dari aneka buah dan sayur seperti wortel, bayam dan buah naga. Awalnya, Eka hanya membantu suaminya berjualan pangsit mi ayam, hal itu dilakukan oleh Eka selama 10 tahun dengan rajin dan tanpa mengeluh, hingga pada 2017 terbersit suatu keinginan untuk membuat produk mi dari sayur dan buah, setelah memperhatikan banyak anak kecil yang tidak suka buah dan sayur.

“Alhamdulilah mi warna buatan saya banyak disuka oleh anak kecil,” kata Eka. Mi produk buatan Eka tersebut diberi nama “Mie Sae” yang artinya mi bagus, dia menjualnya seharga Rp 10.000 per pack. Isinya 500 gram  dan cukup untuk 5 porsi. “Mie Sae” bisa bertahan selama 1 hari dalam suhu normal, dan 1 bulan dalam suhu  buku dalam lemari pembeku.

Eka memasarkan “Mie Sae” melalui sistem online di Facebook group kuliner Surabaya dan Whats App, untuk menangani pelanggan yang di luar kota dia menjual melalui mitra reseller. “Alhamdulilah  omzet saaat ini mencapai sekitar Rp 6.000.000 per bulan,” jelas ibu dari Zaskia Az Zahra dan Akmal Maulana ini. Dibawah bimbingan program Pahlawan Ekonomi (PE) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya, Eka terus berusaha memperbaiki tampilan dan kualitas Mie Sae miliknya. “Saya berkeinginan punya outlet sendiri, karena itu saya harus  bekerja keras,” ungkap Eka.(Nanang)

 

To Top