Surabaya

Burger Tahu: Produk Lokal Rasa Internasional

Olahan tahu kini bermacam-macam. Tahu dipadukan dengan citarasa modern tanpa meninggalkan rasa otentiknya. Yudhia Sukmawati, warga YKP Penjaringansari bersama seorang temannya mencoba berimprovisasi membuat suatu produk yang menggabungkan tahu asli Indonesia dengan burger, dan jadilah makanan burger tahu, produk lokal bercitarasa internasional.

Tahu dan tempe adalah makanan asli produk bangsa Indonesia yang sudah dikenal secara turun temurun, bahkan seringkali bangsa Indonesia disebut sebagai bangsa tahu atau bangsa tempe. Entah apa makna dan maksud dari ungkapan tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, Indonesia akhirnya menjadi tempat sasaran serbuan produk asing temasuk produk makanan.

Tak terhitung banyaknya produk makanan asing berkeliaran di Indonesia, sebut saja pizza, burger, kebab, dan lain-lain. Seakan- akan para  kapitalis hendak menguji efektivitas teori inflitrasi ideologi lifestyle melalui food, fashion, dan film di Indonesia. “Saya memang ingin mengangkat tahu yang merupakan makan rakyat jelata ke tingkat dunia,” kata Yudhia.

Pada awalnya banyak pelanggan yang tidak percaya bahwa tahu bisa dibuat burger menggantikan roti, tapi setelah ditunjukkan maka percaya dan menjadi pelanggan tetap di lapaknya di daerah Yakaya Rungkut. “Saya pernah berjualan burger tahu di Tebet Jakarta Selatan, Alhamdulilah responsnya sangat positif,” ujar ibu dari Nurul Laili Hidayah dan Taufiqurohman ini.

Burger tahu produk Yudhia mempunyai varian rasa beef dan chicken, dia membanderol harga Rp 16.000 untuk beef dan Rp 15.000 untuk chicken. Dari berjualan burger tahu di Pasar Turi Baru (PTB) Yudhia mengaku bisa mengantongi omzet sampai Rp 3.000.000 per bulan. “Burger tahu juga bisa ditambah dengan telur ceplok, ayam fillet, atau keju sesuai selera,” tambah istri Totok Sugianto tersebut.

Untuk mempercepat penjualan, selain membuka outlet di Pasar Turi Baru, Yudhia juga bekerjasama dengan Grab Food dan Go Food. “Tahu burger produk saya pernah dibawa terbang ke Kuala Lumpur sebagai bekal makan siang,” jelas alumni Fakultas Ekonomi Akuntansi Universitas 17 Agustus Surabaya.

Yudhia juga tidak segan-segan bertukar pikiran dan pengalaman dengan teman teman sesama pelaku usaha kecil menengah di organisasi Group Wirausaha Mandiri (GW Man) dan Koperasi Artha Kiprah. (Nanang)

To Top