Dara

Abadikan Budaya dalam Gambar

Salah satu karya Gede Ary Suardika

Gede Ary Suardika

Setiap fotografer profesional pasti memulai perjalanan fotografinya dari hobi, dengan kata lain menjadi seorang fotografer amatir. Apalagi jika hobi ditunjang oleh fasilitas sehingga menjadi hobi yang menghasilkan. Hal tersebut juga dirasakan oleh Gede Ary Suardika.

Awal dirinya menekuni dunia fotografi sejak tahun 2013 lalu. Saat itu sang Ayah menghadiahi dirinya kamera digital sebagai kado ulang tahun. Agar tidak mubazir, pria yang lebih keren disapa Ary Ulangun ini mencoba menggunakan kamera tersebut untuk mengabadikan setiap moment bersama keluarga. Banginya mengabadikan sebuah moment menjadi daya tarik mendasar ketika kelak tidak bisa lagi melihat moment yang sama di waktu yang berbeda. “Kelak ketika tempat dan orang yang ada dalam foto itu berubah, kita bisa memandang perbedaan yang terjadi selama kurun waktu tersebut,” jelas pria kelahiran Jinengdalem, 16 Mei 1993 tersebut.

Pendiri dari Komunitas Photografy Buleleng ini mengatakan dalam dunia fotografi, selain skill, konsep merupakan faktor utama yang menentukan kualitas foto. Dirinya lebih menyukai konsep human interest, culture, and nature. Dalam karyanya, ia lebih cenderung mengangkat aktivitas budaya orang-orang lokal serta menyatukan aktivitas tersebut dengan alam yang indah sebagai latarnya. Selain itu mengabadikan budaya dalam sebuah gambar, konseping di bidang ini juga bermanfaat untuk memperkenalkan kesenian serta alam di daerah agar bisa dikenal serta berkembang di dunia luas. “Saya lebih suka mengkombinasikan antara manusia dan alam. Akan indah jika kehidupan dan aktivitas tradisional dipadukan dengan keindahan alam,” paparnya.

Tidak dimungkiri, saat ini dunia fotografi memang banyak dilirik oleh masyarakat. Namun, Ary Ulangun meyakini setiap fotografer memiliki cirri khas masing-masing yang tidak akan dimiliki oleh fotografer lain. Ciri khas tersebut terletak pada konseping setiap kali dirinya mengabadikan sebuah gambar. Bagi pria yang pernah mendapat juara 2 Tropical Life Photo Contest 2015 tersebut mengatakan selalu ada pesan moral serta pelajaran yang mampu dicerna oleh orang yang melihat karyanya. Dirinya tidak pernah tergantung dengan  model cantik atau ganteng, tetapi lebih cenderung memotret orang yang biasa namun memiliki emosi wajah yang dalam serta mata yang sarat makna. “Bagi saya foto yang bagus akan tercipta jika hati dan pikiran tertarik dan mampu  menjiwai konsep itu,” tuturnya.

Ary yang sempat menjadi juri lomba foto diberbagai event juga menambahkan  saat ini dunia fotografi berkembang sangat pesat. Bahkan dirinya sangat merasakan income yang sangat menjajika dari hasil hobinya tersebut. Banyaknya orang yang menggeluti usaha tersebut sangat berdampak pada daya saing usaha sehingga mempertahankan kualitas adalah utama dibanding kuantitas. “Tetap berkreatifitas bukan megejar popularitas, seperti itulah yang selalu saya tanamkan diprinsip kerja sehingga sampai saat ini masih bisa bertahan dengan baik dalam usaha ini,” ungkapnya.

Uniknya lagi, meskipun saat ini namanya banyak dikenal namun siapa sangka Ary tidak pernah mengikuti sekolah khsus fotografi. Dirinya mengatakan hanya belajar dari teman-teman yang lebih dulu mengenal dunia fotografi. “Bagi saya setiap orang punya pengetahuan yang berbeda, jadi saya mencari teman sebanyak-banyaknya dibidang foto agar bisa mendapatkan banyak teknik foto dari teman yang sudah berpengalaman,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

To Top