Edukasi

Berlumpur demi Belut

Belajar tidak hanya dilakukan di sekolah. Belajar bisa dilakukan dimana saja, salah satunya di sawah. Hal inilah yang dilakukan siswa kelas V SD Cipta Dharma yang mengikuti kegiatan belajar di kawasan ekowisata Subak Sembung, Peguyangan, Kamis (1/2).

Ada tiga kegiatan yang diikuti para siswa ini, menanam, memetik sayuran, dan menangkap belut. Para siswa bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini. Menurut koordinator kelas V SD Cipta Dharma, Dra. Siti  Zulaihah kegiatan ini merupakan kegiatan interaksi siswa dengan lingkungan.

Tak hanya anak-anak yang semangat. Para orangtua yang ikut mengantar juga bersemangat. Beberapa di antara mereka baru tahu ada jalur trekking di persawahan yang ada di kota. Selama ini hanya Kertalangu yang banyak diekspos. Kesempatan ini pun menjadi ajang memotret pemandangan sawah.

Untuk kegiatan menanam, mereka diajarkan cara menanam bibit pohon ratna. Bunga ratna merupakan bunga yang banyak digunakan untuk keperluan upacara keagamaan di Bali. Warna bunga ini ungu dan bentuknya bulat .

Kegiatan memetik sayuran juga menarik perhatian. Para siswa diajak memetik kacang panjang dan terong. Hasil petikan bisa dibawa pulang. Anak-anak pun memasukkan sayuran itu ke dalam kresek yang sudah disiapkan.

“Kami berharap anak-anak mengenal lebih dekat bagaimana dunia pertanian. Dengan mengajak mereka turun langsung ke sawah untuk memetik sayur dan menanam, mereka akan lebih menghargai petani,” ujar Made Suastika, S.E. Ketua Pengelola Ekowisata Subak Sembung.

Kegiatan menangkap belut merupakan kegiatan yang paling diminati. Anak-anak berlomba untuk menangkap belut di ember untuk dipindahkan ke keranjang. Gelak tawa juga terdengar ketika ada anak yang terpeleset dan jatuh. Mereka semua menikmati dengan sukaria. Bahkan ada yang sengaja mencolek temannya agar sama-sama kena lumpur.

“Saya cerita ke anak saya, dulu ayah sering nangkap belut ke sawah. Cara memegang belut itu ada triknya karena dia licin. Sekarang saya biarkan anak saya untuk mencoba. Kecipratan lumpur itu biasa,” ujar Pak Agus, salah satu orangtua siswa.

Usai mengikuti ketiga kegiatan, para siswa diminta untuk menuliskan apa yang mereka lihat dan alami. Semua itu dituangkan ke dalam Lembar Kerja Siswa.  Suastika yang ikut mendampingi para siswa mengaku bersyukur karena anak-anak sudah diajak berinteraksi dengan lingkungan, termasuk persawahan. (Ngurah Budi)

To Top