Kreasi

Harmoni Indonesia dan Malaysia dalam Tari Bali

Pertengahan Desember 2017 lalu, digelar perhelatan “Indonesia Festival”,  di auditorium University of Malaya (UM), Kuala Lumpur, Malaysia. Malam itu, beragam  seni Nusantara ditampilkan oleh para mahasiswa dari Indonesia yang menimba ilmu di universitas negeri tertua dan  terbesar di negeri jiran itu.

Salah satu seni tari Nusantara yang disuguhkan pada puncak pagelaran, berhasil mengundang antusiasisme penonton yang terdiri dari warga kampus, para peminat seni, dan pejabat utusan KBRI di Malaysia. Seni tari dari Indonesia itu adalah maha karya dari Bali yaitu tari Palawakya, seni pertunjukan yang memadukan keluwesan tari, keperigelan bermain gamelan, dan olah vokal seni sastra.

Adalah seorang gadis Bali, Sri Ayu Pradnya Larasari (20),  berhasil memukau penonton dengan sajian tari Palawakya, tari Bali ciptaan tahun 1940-an. Penari Bali yang akrab disapa Laras  ini adalah peserta Program Pertukaran Mahasiswa (Student Exchange Program) yang diutus oleh Institut Seni Indonesia  (ISI) Denpasar, menimba ilmu selama satu semester di perguruan tinggi  bergengsi di negeri serumpun itu. Para mahasiswa program pertukaran yang berasal dari penjuru Asia seperti Tiongkok, Jepang, Vietnam, India, Thailand, Kamboja, Mienmar,  Indonesia dan lain-lainnya. Mereka juga hadir menyaksikan keragaman seni pertunjukan Nusantara dalam “Indonesia Festival” yang rutin digelar setiap tahun di UM tersebut.

Di Bali, tari Palawakya tak begitu sering dapat disaksikan keindahannya. Tari yang lahir di Bali Utara ini bertutur tentang kearifan seorang pujangga yang virtuoso dalam seni pertunjukan dan seni sastra. Pesan moral yang  disampaikan dalam kumandang tembangnya adalah berkaitan dengan kebijaksanaan, kemuliaan, dan kedamaian. Untuk membawakan tari ini, diperlukan kemampuan menari berkarakter halus dan keras, kemampuan bermain instrumen terompong, dan menembang sekar ageng dalam bahasa Jawa Kuno. Mungkin karena kompleksnya skill seni yang dibutuhkan, menyebabkan para pegiat seni tari masa kini kurang begitu percaya diri menyuntukinya. Laras adalah segelintir seniwati muda Bali yang  sejak tiga tahun terakhir, sering menampilkan tari Palawakya.

Memboyong sejumlah busana tari, Laras bertekad untuk memamerkan tari Palawakya dan tari Bali pada umumnya pada masyarakat Malaysia. Beruntung kesempatan itu terbuka lebar. Selain wajib mengambil mata kuliah teori dan praktek seni pertunjukan tradisi Asia dan seni balet  modern, Laras berkesempatan menampilkan tari Baris, Pendet, Tarunajaya, dan Palawakya. Tari Baris dan Pendet diselipkannya ketika menyampaikan tugas presentasi mata kuliah teori Seni Pertunjukan Asia Tenggara. Tari Tarunajaya–tari yang melukiskan tekad pantang menyerah taruna Bali, ditampilkannya pada mata kuliah praktek  Tari Klasik. Sedangkan tari Palawakya, selain dipentaskannya pada “Festival Indonesia” tersebut, juga disajikannya dan menggondol juara I dalam sebuah lomba seni antar kelompok asrama mahasiswa  University of  Malaya.

Seni adalah wahana yang fleksibel dalam interaksi budaya antar bangsa. Kiprah yang dilakoni Laras, salah satu mahasiswa ISI Denpasar ini, hanya secercah binar yang mungkin berkontribusi lebih mengharmoniskan persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia. Sebagai saudara serumpun, tak jarang hubungan Malaysia dan Indonesia renggang, salah satu penyebabnya adalah kesenian.

Tentu masih ingat, bagaimana sempat tersinggungnya kita, ketika sejumlah seni budaya Indonesia diklaim sebagai kepunyaan Malaysia.  Misalnya kasus diakuinya tari Pendet pada pertengahan Agustus 2010,  mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Ini gara-gara ditampilkannya salah satu tari penyambutan dari Pulau Dewata tersebut dalam iklan pariwisata mereka. Promosi Visit Malaysia Year yang sekelebat menghadirkan lenggang gemulai dan senyum manis empat penari Bali itu membuat masyarakat Indonesia gerah. Iklan pariwisata yang disebar gencar secara internasional itu ditengarai sebagai upaya Malaysia mengklaim tari Pendet sebagai seni budayanya sendiri.

 

SOFT DIPLOMACY

Sejatinya, pengalaman telah mencatat, seni sebagai ungkapan universal, adalah media diplomasi budaya yang memercikkan kesejukan. Soft diplomacy yakni diplomasi dengan cara damai kini banyak dilancarkan dalam pergaulan antar bangsa dan diplomasi antar negara. Sementara itu, hard diplomacy, diplomasi yang menggunakan kekuatan militer atau kekuatan ekonomi, sangat dihindari penggunaannya.

Sejarah mencatat  betapa diplomasi budaya  sangat  berperan dalam menjalin persahabatan,  solidaritas,  bahkan  menghindari konfrontasi perang. Kiat diplomasi semacam ini sudah  berlangsung pada zaman kerajaan Babylonia dan Mesir purba, tahun 1500 sebelum Kristus. Kemudian, kini, diplomasi melalui pendekatan seni budaya hasilnya sering jauh lebih jitu dibandingkan dengan, misalnya, formalitas diplomasi politik.

“Tari Palawakya yang saya disuguhkan di Malaysia menggunakan bahasa Indonesia, Melayu, dan Inggris,“ ungkap Laras yang pada akhir studinya di negeri itu dikukuhkan sebagai “Mahasiswa Pertukaran Antarbangsa Terbaik Tahun 2017”. Alunan tembang puitis, “Anugrah hidup, syukurilah, gapai bulan-bintang di angkasa raya”, dialirkan Laras pada klimaks tariannya, yang dielaborasinya secara verbal deklamatis: “Kemarin adalah sejarah, hari ini penuh harapan, lupakan tentang masa lalu yang sia-sia. Bekerja dan berpikir ke depan, untuk hari esok yang lebih baik, menjadi  generasi yang berguna untuk kemuliaan bangsa”. Terakhir dipungkasi oleh Laras dengan sebait pantun: “Si kancil yang tangkas, suka mencuri ketimun, berlari melompat  ditangkap oleh pak tani: Malaysia dan Indonesia bangsa serumpun, selalu aman-sentosa-jaya  dan harmonis”. Penonton berdiri bertepuk tangan membahana. (Kadek Suartaya)

Paling Populer

To Top