Inspirasi

Rolland Ndoloe: Gali Bakat Seni Generasi Muda NTT

rolland ndoloe

Bekerja di perusahaan rekaman ternama di Jakarta dan memiliki jabatan lumayan bagus ternyata tidak selalu membuat orang merasa ‘cukup’.  Untuk sebuah alasan yang  –mungkin—tidak mudah dipahami oleh sebagian orang, Rolland Ndoloe, musisi yang telah banyak menelurkan penyanyi-penyanyi potensial selama kariernya di Jakarta, memutuskan pulang ke kampung halamannya demi mengembangkan seni musik dan olah vokal, khususnya untuk kalangan muda.

“Entah apa namanya, ‘panggilan jiwa-kah’ atau ‘panggilan darah’ tapi saya merasa sedih sekaligus prihatin dengan kondisi di sana. Kebetulan waktu itu tahun 90-an saya sudah di berkecimpung di musik dan bekerja di sebuah perusahaan rekaman. Saya sering bolak-balik Jakarta-Kupang untuk berbagai keperluan. “

“Nah kalau kebetulan ke Kupang saya manfaatkan untuk bertemu berbagai kalangan, termasuk kalangan seni di sana,” ungkap Rolland yang kini menjabat Ketua DPD PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi  Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia) Nusa Tenggara Timur.

Dari seringnya melakukan perjalanan ke sana itulah, lanjut Rolland, membuat dirinya  tahu permasalahan yang dikemudian hari menjadi latar belakang kepindahannya ke Kupang, NTT. Memutuskan ‘pulang kampung’ pun bukan hal yang mudah. Selain karena capaian yang telah diraihnya di Jakarta, tapi juga tantangan  berat yang bakal dihadapi dalam menjalankan misinya, menjadi pertimbangan tersendiri.

“Jadi itu (memutuskan pindah)  merupakan pergumulan tersendiri. Tapi di sisi lain, selama di Jakarta saya banyak berkecimpung di bidang talent scouting khususnya untuk anak-anak. Nah kondisi yang ada pada masa itu di NTT yang boleh dibilang ‘kaya dengan bibit anak berbakat’ tentunya menjadi tantangan bagi saya yang memang membidangi talent scouting. Bagaimana dengan kondisi yang terbatas, saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat. Itu tantangannya,” tuturnya.

Dan yang perlu diingat, tutur Rolland, kondisi NTT pada masa itu tahun 90-an hingga awal 2000-an belum lah seperti sekarang. Pada masa itu, pembinaan  kesenian seperti bermusik maupun olah vokal untuk anak-anak belum lah menjadi perhatian. Jadi dia dan sejumlah orang yang peduli akan hal tersebut memulainya dari bawah.

‘MEROGOH KOCEK’ SENDIRI

“Karena kepedulian belum ada maka tentunya sulit mengharapkan mendapatkan  dana dari pihak-pihak yang seharusnya mampu membiayai. Maka tak jarang, baik saya maupun orang-orang yang peduli pada pembinaan anak-anak, terpaksa merogoh kocek sendiri agar program kami bisa berjalan. Jadi kalau dibilang susah, ya susah. Karena meskipun ini misi sosial tapi kan ada biaya yang harus dikeluarkan. “

“Jadi memang salah satu hambatannya adalah soal pendanaan. Namun di sisi lain, saya juga teman-teman merasa senang dan sangat bersyukur, meski penuh keterbatasan program ini bisa berjalan. Masyarakat juga anak-anak merasa senang karena bisa menyalurkan bakatnya lewat program kami,” lanjut Rolland yang kemudian mendirikan studi pengembangan bakat dan kepribadian anak.

Guna lebih memotivasi anak, Rolland dan timnya pun menggelar event berlabel ‘Kids Idol’. Di ajang ini lah anak-anak berbakat NTT dalam bidang menyanyi berkompetisi. “Jadi, jauh sebelum Idola Cilik digelar di RCTI, kami telah mengadakan event serupa di NTT tahun 2004, dan itu digelar setiap dua tahun  sekali,” jelas Rolland yang  juga aktif di RN Production Studio Recording.

Sayangnya, karena keterbatasan dana juga kesibukan dirinya, pelaksanaan event ini menjadi agak tersendat. “Memang sayang ya, tapi mau bagaimana lagi. Dalam beberapa waktu terakhir saya agak kesulitan menghandle-nya. Selain kesibukan saya, juga keterbatasan dana,” kata suami dari Rambu PL Samapaty, ini.

Persoalan pendanaan memang menjadi persoalan tersendiri yang cukup pelik. Pasalnya, sekalipun ini adalah misi sosial demi mengharumkan nama daerah, namun tetap saja dalam pengoperasiannya memerlukan dana. Bantuan dana memang ada, namun tak jarang tidak mencukupi sehingga membuatnya harus ‘nombok’ dari kantong pribadi.

Untungnya, kata bapak satu anak ini, dia memiliki istri yang bukan hanya pengertian tapi juga mau menyokong upaya-upaya yang telah dilakukannya. “Beruntung saya memiliki istri yang pengertian. Bahkan mau ikut membantu kerja saya. Dia juga bekerja, jadi memiliki penghasilan sendiri,” ucapnya.

Misi mulia, akan menemukan jalannya. Keyakinan inilah yang dipegang teguh oleh Rolland. Setidaknya, sejauh ini dia tetap bisa menggulirkan programnya dengan baik. Soal pendanaan dia masih mampu menutupinya dengan hasil kerjanya di proyek lain.

“Di luar kerja sosial ini, saya juga mengerjakan berbagai proyek yang kebanyakan berhubungan dengan musik.   Dari Jakarta pun sampai sekarang saya masih menerima banyak proyek. Nah penghasilan dari proyek-proyek itulah selain saya tabung, juga untuk keperluan keluarga, sebagian lagi saya gunakan untuk  mengembangan program saya di sini (NTT),” jelasnya.

Bicara tentang perjuangan Rolland, rasanya kurang afdal kalau tidak menyinggung tentang perjalanan lelaki ini hingga akhirnya  bekerja sesuai passionnya. Pasalnya, sebelum berkarier di dunia musik, dia sempat ingin menjadi dokter. “Sebenarnya bakat saya berkesenian sudah ada sejak dulu.Ketika tamat SMA saya ingin melanjutkan ke IKJ –Institut Kesenian Jakarta—namun orangtua tidak setuju,” katanya.

Maklum  pada masa itu tahun 80-an jarang ada orangtua yang merelakan anak-anaknya memilih sekolah (formal) seni untuk pendidikan lanjutan. “Orangtua saya pun begitu. Kalau sekolah seni, bagaimana masa depan saya nantinya. Mungkin begitu kira-kira pemikiran orangtua. Maka akhirnya saya masuk fakultas kedokteran. Tapi hanya sampai sarjana muda. Saya keluar dan pindah ke Fakultas Ekonomi di Perbanas. “

“Dulu Perbanas adalah Sekolah Tinggi Ekonomi, kini menjadi Institut. Tapi itu pun tak lama. Saya merasa tidak cocok. Akhirnya saya keluar dan mengejar passion saya. Orangtua saya tak bisa ngomong apa-apa lagi karena saya memang sudah mencoba baik di kedokteran maupun sekolah ekonomi. Pada akhirnya orangtua saya mendukung kiprah saya di dunia musik,” papar Rolland panjang lebar.

Kembali ke soal pembinaan seni suara dan musik anak NTT. Rolland merasa bermunculan generasi muda NTT di pentas nasional  saat ini adalah suatu yang membanggakan. “Kami bukan hanya bersyukur tapi juga bangga dengan capaian ini. Semoga ini terus berlanjut dan bisa menjadi motivasi untuk anak-anak NTT lainnya untuk juga mencetak prestasi. Saat ini ada Mario Klau, Andmesh yang mengharumkan NTT. Begitu di Indonesian Idol ada tiga wakil NTT yang lolos babak 15 besar, Lala Marion, Monalarisa Magang dan Ahmad Abdul,” katanya bangga.

Di bagian lain, Rolland pun menyinggung tentang kegiatan PAPPRI  NTT yang dipimpinnya. Salah satu program yang kini tengah berjalan adalah melakukan roadshow ke sekolah-sekolah SMP-SMA terkait masalah pencegahan penggunaan narkoba sekaligus menyosialisasikan Undang Undang Hak Cipta.

Artis, tutur Rolland sampai sekarang masih dijadikan panutan masyarakat. Ini berlaku di manapun, bukan hanya NTT tapi juga Indonesia dan seluruh dunia. Itulah sebabnya dalam banyak program-program kemasyarakatan artis digaet untuk bekerja sama selain untuk menarik minat masyarakat sekaligus memopulerkan program tersebut.

Namun kali ini justru kalangan artis lah—PAPPRI NTT– yang memprakarsai roadshow kampanye anti narkoba/HIV AIDS  serta sosialisasi UU Hak Cipta ke sekolah-sekolah. “Kami menggandeng BNN, BKKBN, dan instansi-instansi terkait, dll, untuk menjadi narasumber,” jelasnya. (Diana Runtu).

To Top