Bugar

Lasik Bantu Hilangkan Mata Minus

Salah satu alat Lasik dari ZEISS

Teknologi terbaru di bedah refraktif mata mulai berkembang. Kini ada satu teknik yang menggunakan laser khusus  atau excimer laser untuk mengubah kontur kornea mata. Tujuannya, agar  dapat mengubah kekuatan refraksi bola mata sehingga cahaya dapat jatuh di makula (pusat penglihatan) dan pasien dapat melihat lebih jelas. Teknik ini disebut Laser Assisted In Situ Keratomileusis atau dikenal Lasik. Demikian disampaikan dr. Made Rian Ananta, M.Biomed, Sp.M.

Dosen pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Warmadewa ini mengatakan, selama tindakan, pasien diposisikan berbaring dan diberikan obat tetes sebagai anestesi lokal. “Prosedur Lasik berlangsung lebih kurang 15 menit dan pasien tetap sadar selama tindakan tersebut. Setelah tindakan pasien tidak memerlukan rawat inap dan dapat kontrol kembali keesokan harinya,” ujarnya.

Ia mengatakan, teknologi Lasik masuk ke Bali pada tahun 2018 dan dikembangkan di RS Bali Mandara. Lasik dapat membantu mengurangi atau bahkan menghilangkan miopia (mata minus atau rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat dan jauh), dan astigmatisme (silinder) sehingga mengurangi ketergantungan terhadap kaca mata dan lensa kontak.

Kelainan refraksi merupakan kelainan dimana pasien mengeluh kabur saat melihat jauh, atau saat melihat dekat yang disebabkan cahaya yang masuk ke bola mata tidak difokuskan tepat di makula.  Untuk menghasilkan penglihatan yang jernih, cahaya harus jatuh tepat di makula. Pada pasien dengan mata minus (miopia), cahaya jatuh di depan makula, karena kekuatan refraksi bola mata terlalu besar atau bola mata terlalu panjang atau kombinasi dari kedua faktor tersebut. Pada pasien dengan mata plus (hipermetropia), cahaya jatuh di belakang makula, karena kekuatan refraksi bola mata terlalu kecil atau bola mata terlalu pendek atau kombinasi dari kedua faktor tersebut. Pada pasien dengan mata silinder (astigmatisme), cahaya jatuh di tidak pada satu titik di saraf mata (retina), karena bentuk dari kornea atau lensa mata tidak ireguler.

Ia menyebutkan, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi sebelum menjalani Lasik antara lain: berusia di atas 17-21 tahun, resep kaca mata yang stabil atau tidak berubah selama satu tahun, dan tidak terdapat gangguan mata lainnya. Pada pasien yang berusia 40 tahun ke atas dengan rabun jauh, setelah tindakan Lasik pasien tersebut memerlukan bantuan kaca mata untuk membaca atau untuk melihat dekat.

Seperti tindakan kedokteran lainnya, Lasik juga memiliki beberapa efek samping seperti mata terasa kering, kabur atau silau atau melihat bayangan ganda, melihat pelangi di sekitar sumber cahaya (melihat halo), infeksi atau peradangan pada kornea mata, dan kemungkinan untuk tetap memakai kaca mata setelah tindakan Lasik. Namun,  efek samping hanya terjadi pada sebagaian kecil pasien yang menjalani Lasik. “Tindakan Lasik pada pasien dengan miopia tinggi (koreksi kaca mata lebih besar dari -6 dioptri) tidak dapat menghilangkan kemungkinan kelainan pada retina atau saraf mata, sehingga pasien ini kemungkinan perlu tindakan lainnya,” ujar dokter yang bertugas di RSUD Bali Mandara Denpasar, RSU Surya Husada Denpasar, dan RSU Bunda Negara, Jembrana ini.

Lasik memiliki prosentase kesuksesan yang cukup tinggi untuk pasien dengan rabun jauh dan silinder. Beberapa penelitian mendapatkan hasil 94-100% pasien rabun jauh  dapat mencapai tajam penglihatan 6/12 atau 20/40 setelah Lasik dan sekitar 3-10% pasien yang telah menjalani Lasik yang memerlukan tindakan ulang atau tindakan lainnya.

Hasil Lasik dapat berbeda setiap pasien dan bersifat individual. “Semakin tinggi ukuran kaca mata yang digunakan sebelum lasik makin tinggi pula kemungkinan pasien tersebut tetap akan memerlukan kaca mata atau lensa kontak namun dengan ukuran lebih rendah setelah Lasik,” ujar dr. Rian Ananta. (Wirati Astiti)

Paling Populer

To Top