Buleleng

Festival Ngaturan Buah

Desa sidetapa merupakan salah satu desa Baliaga yang terdapat di Kabupaten Buleleng. Setiap desa memiliki potensi, budaya, dan tradisi unik yang mungkin tidak terdapat di daerah lain. Begitu juga tradisi ngaturang buah yang sudah berlangsung sejak 700 tahun Masehi. Meskipun tidak diketahui secara pasti cerita dan awal mula tradisi ini dilaksanakan, namun warga konsisten untuk tetap melakulan ritual ini dari dahulu hingga sekarang.

Sejak pagi ratusan krama Desa Sidetapa Kecamatan Banjar sudah memadati areal Pura Desa setempat. Krama pengarep yang terdiri atas 835 KK tersebut mengenakan pakaian adat sebagai tanda bahwa akan dilakukannya persembahyangan. Namun bukan membawa canang atau pun banten, krama tersebut membawa beraneka macam buah-buahan lokal hasil panen warga setempat.

Menurut Prebekel Desa Sidetapa Ketut Budiasa, tidak ada yang tahu persis awal mula tradisi atau ritual ini, akan tetapi hingga saat ini masyarakat tetap melaksanakan dan yakin ritual ini sebagai wujud rasa syukur dan hormat kepada leluhur. Sidetapa dulunya terkenal sebagai desa dengan hasil panen berbagai buah yang melimpah. “Dulu Sidetape terkenal sebagai penghasil berbagai macam buah sehingga sebagai bentuk rasa syukur dilakukaknlah persembahan ini,” jelasnya.

Tradisi Ngaturang buah ini di awali dengan persembahyangan bersama di Pura Desa setelah sebelumnya masing – masing warga yang sudah masuk krama adat membawa buah – buahan hasil panen di kebun mereka, seperti rambutan, manggis, duku, kepundung, wani dan durian ke Bale Pebatan yang ada di Pura Desa. Khusus untuk buah durian, mengingat Desa Sidetapa sebagai daerah penghasil buah durian, warga diwajibkan membawa durian sebanyak 2 – 3 buah, untuk laki – laki di tempatkan dalam kise (tas-red) dari daun aren (ron-red) yang di anyam sementara untuk yang perempuan menggunakan penarak (besek). Prosesi ini dihantarkan oleh pemangku atau masyarakat menyebutnya balian, dimana terdapat dua balian yakni balian alit dan balian ageng.

Ia mengungkapkan, tradisi ini hanya bisa dilaksanakan hanya saat musim buah tiba dalam artian tidak mesti satu tahun sekali, akan tetapi ketika sudah memasuki musim buah seperti saat ini salah satu warga yang ditunjuk akan mengumumkan bahwasannya akan diadakan ritual ngaturang buah. “Kita melihat situasi dan pas musim panen buah, jadi tidak menentu kapan bisa dilaksanakan ritual ini,” jelasnya saat diwawancarai usai ritual ngaturang buah, Rabu (24/01).

Uniknya, ratusan krama yang membawa buah-buah tersebut setelah dihaturkan dan dipersembahkan maka krama wajib nunas surudan untuk dibawa pulang. Hanya saja, krama hanya membawa sebagian kecil buah yang dihaturkan, selebihnya akan diberikan kepada kepada masing – masing pamong dan dinikmati oleh warga masyarakat yang mengikuti prosesi tersebut termasuk warga yang datang dari luar, sementara sisanya bisa di bawa pulang oleh warga. “Nantinya buah yang masih tersisa akan kita dinikmati bersama-sama di luar areal pura Desa,” ujarnya.

Nah, makan durian dan buah-buahan lainnya inilah yang sangat menarik dalam ritual ini. Sebab warga setempat akan sangat terbuka dengan masyarakat lain yang turut menyaksikan ritual ini bahkan mereka pun kecipratan untuk mencicipi manisnya duren Sidetapa. Oleh Prebekel Sidetapa, makan buah durian dengan jumlah yang sangat banyak dan dengan melibatkan seluruh warga setempat menjadi hal yang sangat unik dan patut diketahui banyak orang. Maka untuk mengakrabkan ritual ini kepada masyarakat umum, pihaknya mulai memperkenalkan ritual ngaturang buah ini sebagai Sidetapa Durian Festival. “Saya ingin mengembangkan pariwisata melalui tradisi ini yang akan saya coba kemas ke dalam bentuk festival,” ungkapnya.

Ke depan, Budiasa juga menambahkan, untuk mengembangkan Sidetapa dari sektor pariwista, pihaknya akan menggagas Swalayan terbuka atau open market kepada wisatawan mancanegara. Konsep dari swalayan terbuka ini adalah wisatawan yang berkunjung secara bebas dapat memetik secara langsung berbagai jenis buah lokal dilahan yang telah disediakan. Bahkan tekait dengan durian festival, pihaknya juga berinisiatif untuk melombakan buah-buah durian yang dibawa sehingga ketika ada kunjungan wisatawan mereka juga ikut menikmati. “Mereka ikut makan secara gratis, tetapi ketika pulang mereka akan beli oleh-oleh dari apa yang telah kita siapkan,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

 

 

To Top