Griya

Pintu Gebyok masih Diminati

Ramainya pemasaran pintu gebyok khas Jepara di Bali membuat beberapa pelaku usaha melirik peluang ini. Salah satunya Putu Aryawati (46), pemilik artshop Dedek’s di Jalan By Pass Ngurah Rai, Padang Galak, Sanur, Denpasar-Bali. Bu Putu-sapaan akrabnya bersama suami membuka artshop ini sekitar tahun 2013, khusus menjual pintu gebyok.

Ia mengisahkan, sebelumnya sampai sekarang memiliki artshop kerajinan batu hitam (lahar) di Ketewel. “Dan, artshop ini baru buka sekitar 5 tahun lalu karena waktu itu pintu gebyok lagi booming. Tapi sekarang peminatnya sudah menurun, rata-rata hanya 2 pintu yang terjual dalam seminggu. Makanya sejak 2 bulan terakhir, selain pintu gebyok, kami juga menjual furniture,” tutur Bu Putu.

Pintu-pintu gebyok itu diakuinya didatangkan dari Jepara, Jawa Tengah. Ada juga pintu gebyok Bali yang dikerjakan oleh pengerajin ukir Ketewel. Baik pintu gebyok Jepara maupun pintu gebyok Bali memiliki kualitas yang sama karena keduanya memakai material kayu jati.

Dari segi harga, diakui Bu Putu, pintu gebyok Bali lebih mahal dari pintu gebyok Jepara, dikarenakan ongkos tukang ukir Bali lebih mahal. Selisihnya bisa sampai Rp 1,5 juta. Sebagai perbandingan, pintu gebyok Jepara yang panjangnya 1,5 meter dibandrol dengan harga Rp 5 juta. Sementara untuk pintu gebyok Bali dengan ukuran yang sama berada di kisaran angka Rp 6,5 juta.

Meski demikian, pintu gebyok Bali masih tetap diminati dengan pertimbangan-pertimbangan khusus dari konsumen. “Kelebihan pintu gebyok Bali ada di desain dan ukirannya yang lebih rapi. Ada beberapa konsumen yang tahu detail tentang ini,” ucap ibu dua anak ini. Peminat pintu gebyok ini pun dari beragam kalangan, yakni warga pribumi dan ekspatriat, untuk di rumah pribadi, juga vila. (Inten Indrawati)

To Top