Bunda & Ananda

Beragam Metode “Taklukkan” Anak

Mengelompokkan benda sesuai dengan warna, bentuk, dan ukuran

Dunia anak memang penuh warna. Gelak tawa, canda ceria, dan tangisan bercampur menjadi satu. Selanjutnya, untuk menjadi guru TK pun memerlukan kesabaran ekstra. Secara tak langsung, dalam mengajar dan mendidik anak-anak usia prasekolah ini, guru TK juga dituntut memiliki strategi khusus untuk bisa “menaklukkan” anak-anak. “Banyak tantangan dalam menghadapi anak TK, tapi astungkara selalu bisa mengatasinya. Yang penting sabar dan tidak memaksa anak,” ujar Ni Made Simpen, S.Pd.

Guru di TK Kumara Sari V Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan ini menuturkan permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi, seperti anak yang tidak mau ditinggal oleh orangtuanya. Setiap guru dikatakannya memiliki cara dan metode yang berbeda. “Kalau saya, cara mengatasi anak yang tidak mau ditinggal oleh orangtuanya adalah membujuk dan memberikan tugas atau meminta anak melakukan sesuatu. Seperti meminta anak membantu menyiapkan bahan ajar, memimpin berdoa, dll. Itu agar perhatian anak teralihkan. Ketika si anak mulai tenang, dia akan mau ditinggal dan mengikuti kegiatan,” paparnya.

Yang paling sering terjadi di dunia anak-anak adalah berebutan mainan. Terlebih di sekolah tempatnya mengabdi ini jumlah mainannya terbatas. Satu mainan direbut banyak anak. Kalau sudah begini, Made Simpen biasanya menerapkan aturan dadakan cara mainnya dengan hitungan 1 sampai 10, kemudian diganti oleh anak yang lainnya. Begitu seterusnya. Dan kalau memungkinkan, anak diarahkan ke mainan lainnya. “Tapi kalau anak suka sekali dengan mainan ayunan atau kuda-kudaan, dia lebih memilih menunggu antrean,” ucapnya.

Tanpa disadari, dalam kondisi-kondisi seperti itu, sejak dini si anak dibentuk karakternya untuk bisa berbagi dengan teman, saling menghargai, sabar mengantre menunggu giliran, dsb.

 

ANAK KURANG KONSENTRASI

Dari pengalamannya selama 13 tahun menjadi guru TK, Made Simpen melihat anak-anak yang kurang konsentrasi adalah anak yang ingatannya masih lekat dengan kejadian-kejadian yang dialami kemarinnya atau sebelum berangkat ke sekolah. Karena itu, ia selalu memberikan kesempatan pada anak untuk menceritakan pengalamannya kemarin atau pengalamannya berangkat ke sekolah. “Ada anak yang bercerita menemukan binatang sapi, anjing. Ada juga yang bercerita ketika sudah jalan ada hujan. Banyak yang bisa saya gali dari cerita pagi anak-anak ini,” ungkapnya.

Memberikan kesempatan anak bercerita itu dikatakannya hal yang sangat menyenangkan bagi anak karena anak akan merasa bersemangat dan merasa dihargai usahanya berangkat ke sekolah. Selain itu, dengan mendengar celotehan pagi anak tersebut dikatakan Made Simpen sebagai upaya menyegarkan suasana agar anak tak terlalu terkejut dengan kegiatan-kegiatan di sekolah yang akan diikutinya.

Karakter anak berbeda-beda, daya tangkap dan ketertarikan anak pada suatu hal juga berbeda. Kadangkala ada anak yang masih bengong ketika kegiatan sekolah sedang berlangsung. Jika sudah begini, biasanya Made Simpen akan mendekati dan menjelaskan berulang-ulang pada anak serta memancing bicaranya dengan beberapa pertanyaaan seputar kegiatan yang akan dilakukan.

Ada juga anak yang berkeliling terus tidak mau duduk. “Untuk menghadapinya, saya terapi dengan menyembunyikan tempat duduknya dan meminta anak untuk mencarinya sampai ketemu. Sehingga, anak tidak akan mengulangi lagi dan takut kehilangan tempat duduknya,” kisahnya.

Sementara bagi anak yang masih asyik ngobrol dengan temannya saat kegiatan sekolah berlangsung, diajaknya berkomunikasi untuk melakukan kegiatan dulu agar nantinya bisa cepat istirahat. “Metode-metode seperti itu cukup ampuh untuk menghandel anak-anak,” ucapnya. (Inten Indrawati)

To Top