Inspirasi

Ajat Ali Bahar: Pelukis Pasar Seni yang Tetap Bertahan

“Rejeki tak akan tertukar”. Kata-kata bijak ini begitu dicamkan Ajat Ali Bahar untuk menggambarkan ketekunannya pada dunianya, melukis. Yang terpenting kata Ajat, terus dan tekun berkarya, kerja keras. Soal hasil tak perlu dipikirkan, Yang Maha Kuasa sudah mengaturnya. Keyakinan itu lah yang membuat Ajat tetap bertahan di Pasar Seni, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, yang ‘sepi’.

Disebut sepi karena tempat pentas seni dan budaya ini, kian jarang dikunjungi masyarakat. Padahal dulu, di era 70 hingga akhir 80-an, tempat ini adalah salah satu destinasi favorit yang wajib disinggahi setelah berkeliling TIJA. Tapi masa kejayaan itu sudah berlalu.

Seiring makin banyaknya tempat hiburan dan kuliner serta pusat-pusat kerajinan, Pasar Seni  pun jarang  dilirik.  Dan itu sangat berdampak bagi para ‘penghuni’ Pasar Seni yakni pengusaha kuliner, kerajinan hingga para pelukis. Mereka yang tak kuat, satu per satu hengkang. Namun Ajat tetap bertahan di sana.

“Ada banyak alasannya kenapa saya tetap di sini. Salah satu yang pasti adalah karena saya merasa Pasar Seni telah mengangkat hidup saya. Banyak teman-teman saya yang tak tahan dan menutup kiosnya, tapi saya tidak. Tekun, ulet, kerja keras, itu saja resepnya.”

“Buktinya, meski tempat ini terlihat sepi, tapi rejeki ada saja. Seperti yang belum lama saya alami, secara tak terduga datang beberapa orang memborong lukisan saya. Kejadian-kejadian tak terduga ini kerap saya alami,” ungkap Ajat yang telah menjadi pelukis di TIJA sebelum Pasar Seni dibangun 1975.

Bertutur tentang dirinya, Ajat mengaku sebenarnya menjadi pelukis bukan lah cita-citanya. “Cita-cita masa kecil saya adalah bekerja di kantor pemerintahan. Pada masa itu kan menjadi PNS sesuatu yang bergengsi, keluarga saya banyak yang jadi PNS seperti kakek, paman, kakak, dll. Sedang melukis itu hanya hobi semata. Tak pernah terpikir itu menjadi profesi yang akan digeluti sekaligus jadi gantungan hidup,” tutur Ajat yang kini berusia 70 tahun.

Tapi jalan hidup orang memang tidak ada yang tahu. Cita-cita itu akhirnya berubah seiring waktu dan pengalaman yang didapat sepanjang hidup. Ajat yang sempat menjadi PNS sebagaimana yang dia cita-citakan, justru meninggalkan kariernya sebagai pegawai negeri dan memilih menekuni hobinya melukis.

“Dari lukisan yang dikerjakan karena hobi, bisa menghasilkan uang. Ini membuat saya semakin semangat untuk terus berkarya. Saya juga sempat pameran-pameran. Akhirnya saya memutuskan untuk memperdalam ilmu melukis di Yogyakarta.  Kuliah saya  di Akademi Pembangunan Masyarakat, saya tinggal, padahal tengah skripsi,” ungkat pria yang bernama lengkap Hamjat Ali Bahar.

Di Yogja yang terkenal sebagai gudangnya seniman lukis, dia menimba banyak ilmu, salah satunya adalah melukis batik. Sampai suatu ketika ada seorang teman meminta bantuannya membawa sejumlah lukisan ke Ancol karena akan pameran. Tak disangka itulah awal babak baru dalam hidupnya, menjadi seniman Pasar Seni.

“Awalnya saya hanya membantu teman bawa lukisan, ternyata akhirnya beberapa bulan kemudian, saya juga ikut berpameran di sana. Dulu belum ada Pasar Seni. Saya dan para pelukis lainnya berpameran di depan Gelanggang Samudera. Pada masa itu respon masyarakat luar biasa. Akhirnya oleh pihak Ancol kami dibangunkan Pasar Seni tahun 1975,” tuturnya.

Kehidupan Ajat meningkat seiring dengan berkembang pesatnya Pasar Seni. Ibaratnya, kata Ajat, mendapatkan uang dari melukis mudah. “Boleh dibilang pada masa itu teman-teman saya sesama pelukis hidup sejahtera, bahkan mereka bisa membeli mobil, dll. Pembeli datang dari dalam maupun luar negeri. Jadi terus terang saja masa itu duit saya banyak, baik rupiah maupun dolar,” ungkap pria asal Kandangan, Kalimantan Selatan, ini menceritakan masa kejayaannya.

LUKISAN LARIS MANIS

Pengunjung lokal seperti tak sayang ‘membuang’ uang untuk membeli lukisan. Padahal harganya lumayan mahal. Tahun 70-an, satu lukisan kecil ukuran 45 x 45 cm, harganya bisa Rp15-20 ribu. Uang sejumlah itu pada tahun 1975 lumayan besar. “Tapi orang (pengunjung) enteng saja, bayar lukisan saya,” katanya tertawa.

Suatu ketika, tuturnya, Ciputra –pendiri Taman Impian Jaya Ancol—mampir ke kios Ajat. Rupanya dia begitu tertarik dengan sejumlah lukisan yang terpampang di sana, di antaranya lukisan batik relief Candi Prambanan dan Borobudur.

“Beliau borong enam lukisan saya, dua di antaranya lukisan batik Candi Prambanan dan Borobudur. Saya senang sekali. Waktu itu saya dibayar Rp150 ribu untuk enam lukisan. Uang sebanyak itu di tahun 70-an, tentu amat sangat lumayan. Masa itu harga sepeda phoenix masih Rp7.500 (sekarang harga sepeda phoenix Rp1,3 jutaan-red), bayangkan saja,” ungkap Ajat.

Singkat cerita, banyak kesenangan yang dia dapat sepanjang puluhan tahun menekuni profesi sebagai pelukis. Bukan hanya untuk dirinya, tapi dari pendapatannya dia bisa membantu keluarganya. “Orangtua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Ketika saya menjadi PNS orangtua senang. Tapi ketika saya berhenti jadi PNS dan beralih menjadi pelukis, orangtua saya, dalam hal ini ibu saya, tetap mendukung. Ibu saya bilang, apapun yang baik yang menjadi keinginan saya, dia mendukungnya dalam doa,” kata Ajat. “Ibu saya adalah seorang yang bijak,” tambahnya.

Namun, tambahnya lagi, tidak selamanya hidupnya bergelimang kesenangan, berkelimpahan uang. Ibarat bola dunia berputar, ada saatnya di atas, tapi ada masanya di bawah. “Suka-duka, itulah kehidupan. Ketika kepahitan datang, ya saya dengan ikhlas menjalaninya saja. Tidak apa-apa. Ketika pendapatan dari melukis tidak lagi seperti dulu, saya tetap biasa.”

“Semangat saya untuk tetap melukis, berkarya, tidak surut. Seperti yang saya katakan tadi, rejeki ada yang mengatur, yang terpenting berkerja lah sebaik-baiknya,” ujar Ajat yang terpaksa duduk di kursi roda lantaran belum lama ini kecelakaan sepeda. “Ini sedang proses penyembuhan,” ucapnya.

Di bengkel kerja Ajat yang berukuran 3×3 meter, tampak sebuah lukisan indah berukuran besar 2,70 x 2 meter bertema aktivitas di sebuah pura di Bali. Lukisan cantik paduan warna hijau, merah, kuning membuat mata betah terus memandang. Satu hal yang unik dari lukisan Ajat adalah pada pohon yang bertotol-totol.

“Itu adalah ciri khas saya . Sebenarnya itu adalah jejak saya sebagai pelukis batik. Dengan ciri itu, saya merasa tidak perlu membubuhkan tanda tangan pada lukisan saya. Orang pasti tahu itu lukisan Ajat,” ujarnya yakin.

Tentang pewarnaan, dia mengakui karya Arie Smith, seorang pelukis asal Belanda yang hidup di Bali ( meninggal Maret 2016, usia 103 tahun) banyak mempengaruhinya. Warna-warna lukisan Ari Smith cerah, dominan dengan hijau, merah, kuning. “Pengaruh Ari memang ada pada pewarnaan karya saya. Dulu warna saya agak gelap tapi kemudian berubah kini lebih cerah,” katanya sambil menunjuk sejumlah lukisan yang terpajang di dinding.

Menurutnya pengaruh dari pelukis lain bukan hal yang tabu. Ada banyak pelukis terkenal yang juga karyanya terpenguh pada pelukis lainnya. “Suatu ketika pelukis Affandi pernah ditanya wartawan, bahwa  karyanya banyak dipengaruhi Van Gogh. Lalu Affan menjawab, iya, memangnya kenapa?”. (Diana Runtu).

To Top