Kolom

2018 (4)

Ketika putaran ronda oleh warga mulai diberlakukan ada suasana baru. Warga dengan semangat menyambutnya. Kesempatan ronda jadi tempat ngobrol dari hati ke hati. Sesuatu yang sudah nyaris hilang karena masing-masing terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Warga yang semula tidak kenal atau tak mau kenal tetangganya, mulai bertegur-sapa. Kesempatan ronda jadi arena gaul. Ternyata bergadang semalaman jadi penyegaran dari rutinitas warga yang membosankan. Bahkan menguntungkan. Banyak warga setelah giliran ronda, terkejut, karena teman rondanya adalah relasi yang gagal dicarinya bertahun-tahun di masyarakat. Ternyata adanya di satu hunian.
Tapi, musim bunga itu tidak berlangsung lama. Setelah dua putaran, warga sudah rata saling kenal semua. Muncullah kembali rasa bosan dan lelah.
Melek semalam suntuk, direndam lembab malam, rasa capainya harus diibayar seminggu. Batuk, pilek, asma, dada sesak dan sebagainya mulai mengganggu. Ketika salah seorang warga nyaris kena DB, terjadi anti klimaks.
Warga mulai kembali kangen dan merasa lebih damai pada kesibukan pribadinya. Kalau ada giliran ronda, mereka mulai berkilah, repot, ada urusan keluarga, kurang enak badan atau ada upacara. Mereka pun titip tugas pada rekannya. Sekali dua kali, oke. Kalau sering perlu ada kompensasi buat yang menggantikan.
Maka diam-diam dan memang didiamkan, muncullah ronda-ronda upahan. Mula-mula sembunyi-sembunyi. Malu-malu kucing tapi mau. Belakangan ronda pengganti juga malu hati keseringan. Itulah saatnya Ketut kembali muncul sebagai ronda upahan legal. Tak ada yang keberatan.
Ketut kemudian menggoreng bola, membawa adik istrinya. Setelah itu, menyusul mantan satpam lain kembali bermunculan. Praktis tim satpam yang diberhentikan kembali mengambil alih tugas pengamanan hunian, utamanya menjaga portal.
Sejak itu hunian tak lagi dijaga warga. Karena itu terjadi perlahan-lahan, terasa lembut, wajar, jadi sah. Apalagi menjelang tahun baru. Banyak warga punya acara yang tidak memungkinkan mereka harus begadang “menghadang pencuri yang tak ada”. Itu istilah Pak Made.
Amat, tak memberi komentar apa-apa. Ia ikut menggelinding saja, kalau memang seluruh warga menghendaki begitu.
Pada malam Tahun Baru, ketika semua orang menunggu waktu menunjuk pukul 00.00, muncul tamu yang ingin bertemu Amat.
“Saya tak bisa menanyai tamu itu karena ia tidak berbahasa Indonesia. Makanya saya terpaksa melapor pada Amat,” kata Ketut.
“Namanya, susah Pak.”
“Siapa?”
“Saya tidak bisa mengucapkan, Pak”
“Kenapa? Itu tugas kamu. Tanyakan dong!”
“Tapi saya tidak mengerti bahasanya, Pak.”
“Tanya namanya. Atau suruh nulis. Nah itu kamu tunjukkan kepada Bapak. Begitu caranya menghadapi taamu tak dikenal.”
“Saya malu, Pak.”
“Kenapa malu?”
“Kan Bapak yang ngajarin saya, orang Jepang kemaluannya besar, jadi maju!”
“Kamu jangan bercanda! Ini bukan saatnya. Sebentar lagi jam 00.00. Tidak ada orang bertamu jam 00.00. Ini saat orang merenung. Sana bilangin dia. Nanti saja sesudah Tahun Baru!”
“Bagaimana kalau dia marah, Pak?”
“Kamu yang harusnya marah, bukan dia! Sana marahin dia!”
“Tapi orang bule, Pak!”
Amat terkejut.
“Apa? Bule?”
“Ya! Bule banget, Pak!”
Amat langsung jadi ramah.
“Ya sudah, suruh langsung masuk!”
Ketut melongo.
“Sana, cepat! Suruh masuk!”
Ketut makin bengong.
“Ketut! Cepat suruh masuk!”
“Maaf, Pak, mestinya sejak dua jam yang lalu Bapak bilang begitu!”
Amat bingung.
“Maksudmu apa?”
“Dia sudah datang 2 jam yang lalu. Tapi saya takut melapor ke Bapak. Sebab saya tidak bisa melaporkan siapa dia, kalau Bapak nanya.”
“Teman-teman kamu yang lain kan bisa?”
“Mereka semua izin mau merayakan Tahun Baru di rumahnya!”
“Jadi kamu sendirian?”
“Saya juga sudah menggembok portal mau Tahun Baruan sebentar saja di rumah teman saya.”
Lho kamu meninggalkan tugas?”
“Habis Bapak kan bilangin saya kalau tidak bekerja di sini boleh-boleh saja, mau jaga atau tidak, terserah! Ya kan, Pak, ingat? Saya selalu pegang itu. Lalu saya kerjain dia. Akhirnya dia pergi. Tapi tiba-tiba  istri saya SMS, anak saya demam. Terpaksa saya pulang. Waktu dia tahu, soal tamu bule itu, saya dimaki-maki. Saya jadi merasa berdosa. Akhirnya saya terpaksa  laporan juga ke Bapak. Saya tidak menyangka sama sekali kalau bule boleh masuk, meskipun tak ada keterangan. Apa karena kulitnya putih atau pernah menjajah kita? Maaf, Pak, orangnya sudah kabur, maaf. Jangan-jangan dia sebenarnya sudah bapak tunggu. Ya?”
Amat tak bisa menjawab karena terlalu heran. Ketut nampak sama sekali tak menyadari kesalahannya.
“Ya, sudah, pokoknya saya sudah laporan,  saya pulang dulu lihat Tahun Baruan di TV.”
Amat terhenyak. Ia menatap Ketut tajam. Bukan hanya orang macam Ketut belum siap menghadapi perubahan yang begitu cepat, deras melabrak. Ternyata Amat sendiri juga, sama.
Pintu rumah terbuka.  Bu Amat berteriak:
“Cepat Pak! Tahun Baru sudah datang!”
“Suksma Ketut!”

To Top