Buleleng

Tak Diserap Perusahaan, Harga Anggur Hijau Anjlok

Sejak beberapa tahun belakangan, petani di wilayah Kecamatan Gerokgak mulai membudidayakan tanaman anggur hijau. Komoditas ini menjadi salah satu unggulan Buleleng karena hasil panennya disalurkan ke perusahaan wine di Bali. Tentu hal ini mengangkat derajat anggur Buleleng di pasaran.

Salah seorang petani anggur di Kecamatan Gerokgak, Jro Mangku Putu Suarjana mengaku prosfek anggur hijau memang sangat menjanjikan. Petani setempat sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan setempat. Dari luas lahan 40 hektar dengan modal 5 Juta Rupiah, petani memperoleh keuntungan sekitar 30 Juta Rupiah sekali panen. Tentu keuntungan tersebut dapat diraih jika harga jual anggur hijau sesuai dengan harga harapan petani yakni 7.500 Rupiah per kilogram.

Namun sayang saat ini harga anggur hijau benar-benar anjlok dan membuat petani meringis. Hal ini dikarenakan dari tiga musim panen dalam setahun, hanya dalam dua musim panen saja hasil panen petani diserap oleh perusahaan. Meskipun telah melakukan kerjasama namun tidak adanya perjanjian tertulis, sehingga beberapa kali terjadi perubahan perjanjian. Kondisi itu pun tak pelak merugikan petani anggur.

Jro mangku Putu Suarjana mengatakan terpaksa menjual murah hasil panen kebun, dengan harapan bisa balik modal. Pada musim panen saat ini misalnya. Komoditas petani tidak diserap perusahaan. Dampaknya, petani harus menjual hasil panen mereka dengan harga ekstra murah.

Saat dijual ke perusahaan, anggur mereka biasanya dijual dengan harga Rp 7.500 per kilogram. Kini saat tak terserap perusahaan, hasil panen hanya dijual Rp 3.500 per kilogram. “Perusahaan tidak datang. Hanya penyotek (calo, Red) yang datang. Ketimbang tidak dapat sama sekali, diminta harga segitu, ya kami berikan. Biar modal bisa balik saja,” kata Suarjana.

Sementara harapan mendapat untung, terpaksa dikubur dalam-dalam. Menurut Suarjana, perusahaan hanya berani mengambil hasil panen dua kali dalam setahun. Padahal petani berharap, hasil panen itu bisa diserap hingga tiga kali dalam setahun. “Harapan kami, mudah-mudahan pemerintah bisa memperjuangkan petani seperti kami ini. Biar kami tidak digantung. Paling tidak dicarikan pasar, agar kami bisa dapat untung juga,” tandasnya. Wiwin Meliana

 

To Top