Life Story

Hilang sebelum Ijab Kabul

Dua tahun yang lalu, Mardin tiba-tiba terserang stroke. Tubuhnya sebagian lumpuh. Ia hanya bisa duduk di kursi roda. Seluruh aktivitasnya dilakukan di atas kursi roda terutama sejak setahun terakhir. Tiap sore ia selalu duduk menatap Gunung Rinjani yang berdiri tegak di hadapannya. Dari sorot mata Mardin yang tinggal di kaki Rinjani bagian utara itu, seperti ada penyesalan dalam hidupnya.

Masa lalu Mardin memang terbilang suram. Ia meninggalkan dosa yang sangat menyakitkan bagi sebuah keluarga di Bima Nusa Tenggara Barat puluhan tahun lalu. Mardin yang kala itu tiba-tiba menghilang telah meninggalkan rasa malu bagi keluarga Mardiana calon pengantinnya pada hampir 30 tahun yang lalu.

Tahun 1987 Mardin yang berasal dari pulau Jawa itu hijrah ke Bima mengikuti kakaknya yang bekerja di sana. Berbekal ijazah SMA Pertanian kepada kakaknya ia mengungkapkan niat untuk bekerja di Bima. Ia pun mencoba ikut tes pegawai negeri di tahun 1988.

Memang karena memiliki dasar cerdas, Mardin lulus dalam satu kesempatan ikut tes itu. Jadilah ia pegawai negeri di Bima. Sejak itu hidupnya pelan-pelan mulai dibangun. Usia 25, Mardin sudah tampak mapan. Gaya berpakaian yang parlente, ditambah wajah yang lumayan tampan serta berpenghasilan tetap membuat Mardin disukai oleh para gadis.

“Kalau tidak salah, setahu saya ada empat gadis yang sering ke rumah cari Mardin,” ujar Rida, kakak iparnya tempat Mardin tinggal di Bima dulu. Menurut Rida, Mardin lebih kelihatan cuek saja tanpa melayani para gadis itu secara berlebihan. “Ngakunya kawan saja,” imbuh Rida.

Mardin tidak terlalu menanggapi aksi pendekatan para gadis itu karena sesungguhnya ia telah memiliki kekasih di Lombok. Mereka menjalin hubungan jarak jauh dan berencana menikah dua tahun lagi.

Suatu hari Rida menerima surat dari tukang pos. Surat dari kekasih Mardin itu langsung diserahkan kepada Mardin saat ia pulang dari kantor. Awalnya surat itu ia simpan begitu saja di atas meja tamu. Mardin memilih makan terlebih dahulu. Menjelang istirahat sembari masuk kamar Mardin mengambil surat dari meja tamu dan membacanya di kamar. Malam itu berlalu biasa saja di mata Rida.

Saat Mardin ke kantor esok pagi, ketika membersihkan rumah, Rida menemukan surat tersebut di tempat sampah. “Pantas wajah Mardin kurang senang saat ke kantor,” kata Rida. Ia pun membaca surat tersebut. Isinya cukup mengejutkan, kekasih Mardin telah meratiq, menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya.

Sejak itulah Mardin yang pendiam itu agak berubah. Ia sering keluar rumah dan pulangnya malam. Sampailah pada suatu hari seorang perempuan datang kepada Rida menangis dan menceritakan kesedihannya. “Perempuan itu menangis di depan saya dan menceritakan semua kesedihannya,” ujar Rida.

Perempuan ini rupanya pacar Mardin. Dia satu dari empat gadis yang sering menarik perhatian Mardin. “Dia mengaku hamil dan harus menikah dengan Mardin. Kalau tidak ia bisa dibuang oleh keluarganya,” kata Rida. Kabar ini akhirnya disampaikan oleh Rida kepada suaminya yang kemudian mengajak Mardin bicara baik-baik tentang hal itu. Mardin menolak mengaku meski perempuan itu datang berkali-kali.

Karena perutnya makin membuncit, pacar Mardin ini terpaksa memberitahu orangtua dan keluarganya yang terkejut mendengarnya. Akhirnya ketika telunjuk mengarah ke Mardin, orang tua dan keluarganya segera mendatangi suami Rida sebagai kakak Mardin.

“Keluarganya sudah bawa parang,” kata Rida yang sempat gemetaran melihat keluarga perempuan itu datang dengan wajah marah. Keluarga ini merasa tersinggung karena Mardin menolak mengakui. Akhirnya kakak Mardin memberi jaminan kalau Mardin akan bertanggung jawab dan menikahi pacarnya itu. Dengan sangat terpaksa akhirnya Mardin bersedia.

Persiapan pun mulai dilakukan. Sampai tiba hari H. Mardin sudah memakai jas warna biru sedangkan pacarnya memakai kebaya berwarna krem. Penghulu dan saksi nikah sudah siap di rumah calon mempelai perempuan. Tetamu juga sudah siap menyaksikan ijab kabul.

Namun sampai satu jam waktu berlalu dalam menunggu itu, Mardin dan keluarganya tidak juga tiba di acara ijab kabul. “Saya sama suami saya sudah kelabakan di rumah. Mardin tiba-tiba menghilang,” kata Rida.

Mereka mau ke lokasi acara tidak mungkin tanpa Mardin. Sampai akhirnya satu setengah jam kemudian, keluarga pacarnya itu datang ke rumah Rida menanyakan Mardin. “Saya menceritakan hal yang sebenarnya. Dari pada suami saya dimarah-marahi bahkan diancam oleh keluarga si perempuan itu.” ujarnya.

Akhirnya pencarian dilakukan hampir seharian tetapi Mardin tak kunjung ditemukan, sampai akhirnya pernikahan itu batal. “Sejak itu kami tidak pernah tau kabar Mardin,” kata Rida. Mardin seperti menghilang. Ia hanya pergi dengan jas pengantin saja meninggalkan pekerjaannya di Bima. Kakaknya sendiri tidak mengetahui kabar Mardin sampai 20 tahun kemudian mendapat kabar Mardin telah menikah dengan seorang gadis yang tinggal di kaki gunung Rinjani. “Sampai hari ini kami tidak tahu kisah pelarian Mardin karena ia tidak pernah ingin menceritakannya,” kata Rida.

Tapi menurut istrinya Mardin merasa bersalah dengan peristiwa itu. Ia juga tidak mengetahui kabar apakah perempuan itu berhasil melahirkan dan membesarkan anaknya atau tidak. Itulah yang membuat di hari tuanya. Mardin yang kini berusia 58 tahun itu terlihat murung. (Naniek I. Taufan)

 

To Top