Griya

Teratai, Tanaman Air Berbunga Indah

Teratai merupakan salah satu tanaman air berbunga indah. Bunganya sendiri berbentuk besar dan menarik dengan banyak kelopak. Memiliki beragam warna, seperti pink kemerah-merahan, putih, ungu, kuning. Benangsarinya berwarna kuning dan memenuhi bagian kelopak. Daunnya  berbentuk lembaran dan mengapung atau menonjol di atas permukaan air.

Teratai tumbuh di lumpur pada air menggenang, seperti kolam yang dangkal, rawa-rawa dan ladang yang basah. Di musim penghujan seperti sekarang ini, ada kekhawatiran beberapa konsumen akan risiko pot tanaman itu menjadi pertumbuhan jentik nyamuk. “Jika ada lumpur, jentik nyamuk malah tidak bisa berkembang disana. Yang perlu dikhawatirkan justru pot-pot kosong dengan air bersih yang menggenang,” ujar Ima, pemilik stan bunga Eka Sari di kawasan Jakan Hayam Wuruk, Denpasar.

Tanaman teratai dikatakannya akan tumbuh bagus saat musim panas. Yang unik, masa mekar bunga ini antara jam 09.00 sampai 16.00. “Jika sore menjelang malam, kelopak bunganya akan menguncup dan mekar kembali pada pagi keesokan harinya,” jelas perempuan asal Surabaya yang sudah 20 tahun menggeluti bisnis tanaman bersama suaminya ini. Masa mekar bunga teratai itu sendiri hanya berkisar 5-7 hari untuk jenis teratai biasa. Seperti, teratai putih, teratai ungu, teratai pink, teratai kuning emas, dan teratai kuning sudamala. Sementara untuk jenis teratai saraswati, masa mekarnya bisa sampai 2 minggu.

Teratai saraswati ini dijelaskan Ima memang agak spesial. Selain mahkota bunganya indah berwarna pink, keberadaannya pun terbatas. Ini dikarenakan pembibitannya berbeda dengan pembibitan teratai jenis biasa. “Teratai biasa dibibit dari bunganya. Ketika bunga layu biasanya masih ada yang mentol, itulah yang dibibit, meski tak semua bisa dibibit. Kalau teratai saraswati, pembibitannya dari bongkolnya yang beranak sendiri,” jelas Ima. Karena itu pula, harga teratai saraswati ini bisa 3 kali lipat dari teratai biasa. “Tanaman teratai biasa Rp 75 ribu per pot, teratai saraswati bisa Rp 250 sampai Rp 300 ribu,” imbuhnya.

Untuk pemeliharaan tanaman teratai ini, Ima menjelaskan cukup melakukan pemupukan 1 minggu sekali, dan air harus tetap menggenang. Perlu diperhatikan juga, teratai yang hidupnya di media lumpur ini, ketika lumpurnya sudah habis, sebaiknya diganti dengan lumpur sawah. “Lumpur sawah lebih subur karena tidak tercemar jika dibandingkan dengan lumput got,” ucapnya. (Inten Indrawati)

To Top