Bunda & Ananda

Jangan “Kudet” dan “Gaptek”

Drs. Drajat Wibawa, M.Si.

Perkembangan anak zaman sekarang atau istilah kekiniannya “anak zaman now” tak bisa disamakan dengan anak zaman dulu. “Anak zaman now adalah anak yang tumbuh pada zaman yang sudah menyediakan semua fasilitas dan kemudahan kehidupan sehari-hari sebagai sarana bertumbuh dan berkembang dalam zaman yang semakin maju, zaman dimana batas-batas sosial termasuk batas geografis sudah bukan lagi menjadi kendala dalam berkomunikasi. Anak zaman now memperoleh semua kemudahan itu semua dibandingkan dengan anak zaman old,” jelas pengamat sosial Drs. Drajat Wibawa, M.Si.

Anak zaman now tumbuh dan berkembang dalam dunia yang sudah pasti berbeda dengan zaman old. Namun demikian, Bowo—demikian sapaan akrabnya mengatakan hal ini tidak lantas berarti bahwa anak zaman now menjadi rentan, lemah dan hanya bergantung pada fasilitas lingkungan mereka, sebab tantangan yang mereka hadapi juga sudah berubah.

Aspek komunikasi virtual (bukan komunikasi sosial secara langsung/direct social communication) mengemuka sejalan dengan berkembang-pesatnya jaringan internet yang saat ini sangat mudah diakses dengan harga yang murah. Contohnya saja, hanya dengan paket harian internet Rp 5.000 seseorang sudah mendapatkan akses internet sebesar 50MB.

Sejalan dengan pesatnya perkembangan internet, pertumbuhan media sosial (social media) menjadi semakin pesar pula, bahkan pada zaman now bisa dipastikan seorang anak punya beberapa akun media sosial dan bisa dipastikan pula tiada hari tanpa meng-update akun medsos mereka. Dalam hal ini tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Beberapa aspek yang dilihat Bowo menguntungkan adalah terbukanya akses pergaulan sosial secara lebih luas. Anak zaman now bisa dipastikan bisa mengembangkan kemampuan/skill bahasa asing dengan cepat melalui sarana internet. Entah medsos, maupun konten dan sarana hiburan terbaru, dan juga terbukanya akses pada ilmu pengetahuan secara luas.

Namun demikian, banyak pakar juga sudah menyatakan banyaknya kelemahan dan kerugian yang bisa berdampak pada anak zaman now yang hidup dengan dukungan komunikasi-virtual. Di antaranya, anak zaman now menjadi lebih “mager” (males gerak), lebih betah di kamar atau di belakang laptop/gadget. “Masuknya mereka ke dunia internet yang tanpa batas juga berpotensi risiko bagi anak-anak yang belum  siap (atau disiapkan oleh orang yang lebih dewasa, orang tua atau guru). Di dunia internet yang serba terbuka, seorang anak yang belum siap dan tidak mendapat pendampingan dari orang dewasa juga rentan menjadi korban para ‘predator anak’ seperti yang terjadi pada kasus pedophilia yang sedang marak belakangan ini,” imbuh Bowo yang kini tergabung dalam bidang security risk management, United Nation.

Karena itu, ia menegaskan pendampingan orang dewasa (orangtua /guru/mentor) merupakan kata kunci. Pendampingan yang dimaksud, bukan semata-mata membuat batasan atau larangan bagi anak-anak. Larangan memang perlu, misalnya jatah waktu menyendiri dengan gadget atau laptop mereka dibatas pada jam-jam tertentu, dengan pemahaman bahwa dia masih perlu melakukan tugas-tugas lain yang perlu dikerjakan. Semisal belajar, mengerjakan PR dan sebagainya.

Disiplin pemanfaatan waktu masih tetap diperlukan, meski bagaimanapun juga anak-anak masih akan berusaha untuk mencuri-curi waktu. Namanya juga anak dengan kenakalan khas mereka. Dalam mendisiplinkan penggunaan waktu kepada anak yang dipentingkan adalah anak mengerti alasan yang disampaikan orang dewasa. Jadi bukan hanya dengan “pokoknya tidak boleh”.

PAHAMI ANAK ZAMAN NOW

Aspek lain yang penting bagi orang dewasa dalam memahami anak zaman now adalah, belajarlah mengerti apa yang sedang terjadi pada zaman now. Jangan “kudet” alias kurang update, sehingga tidak tertinggal oleh perkembangan informasi yang serba cepat. Dan jangan pula “gaptek”, pelajarilah dunia anak zaman now termasuk dunia internet lengkap dengan dunia medsos-nya, termasuk juga pernak-pernik mengenai peralatan zaman now, laptop, internet dan gadget. “Jangan terbalik, karena biasanya malah si ibu yang menanyakan kepada anak-anaknya bagaimana merubah ini dan itu, bagaimana cara mencari berita ini dan itu. Atau justru terbalik, orang dewasa dan orangtua yang lebih aktif di dunia internet dan medsos melebihi anak zaman now,” ungkap mantan Kepala Bagian Psikologi Polda Bali periode 2007-2009 ini.

Lalu bagaimana dengan orangtua yang gaptek (gagap teknologi)? Bowo menyarankan para orangtua untuk belajar dan membuka diri kepada sesama orang dewasa jangan bertanya kepada anak. Dan yang paling penting menurutnya adalah, bagaimana pun orang dewasa, khususnya orangtua harus tetap bisa menjadi teladan, panutan, contoh bagi anak-anak zaman now.

“Celakanya pada zaman now nih, orang dewasa kebanyakan justru menjadi contoh negatif bagi anak-anak zaman now. Dan parahnya lagi, semua fenomena ini mudah diakses oleh anak zaman now, sehingga mereka bisa menjadi galau, tidak menemukan figur teladan dalam masa pertumbuhan mereka,” bebernya.

Untuk itu, sebagai orang dewasa atau orangtua, Bowo mengingatkan banyak-banyaklah bergaul dan berkomunikasi dengan anak-anak Anda. Jangan biarkan mereka menjelajah dunia seorang diri dan Anda tetap asik pula menjelajah dunia Anda sendiri. “Ketika berbicara dengan anak-anak, perlu ikuti prinsip, berkomunikasi secara sejajar, selevel dengan anak-anak (anak dan remaja). Jangan gunakan pendekatan “vertikal” dengan konten utama “nasihat”, karena itu yang membuat anak mulai membuat jarak dengan Anda,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top