Inspirasi

Perjuangan Fani Wahyudi Melawan Kanker

Fany Wayudi bersama ayahnya

Sungguh luar biasa ketahanan fisik dan mental  Fani Wahyudi dalam menghadapi penyakit kanker yang membelitnya sejak usia awal Sekolah Menengah Pertama. Ia bukan saja mampu tegar menjalani puluhan kemoterapi  yang menyakitkan tapi juga mampu menjadi inspirasi bagi sesama penderita kanker lainnya.

Padahal untuk melakukan kontrol ke dokter di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo, Jakarta Pusat, Fani dan ayahnya harus menempuh perjalanan antara 1,5-2 jam dari  Pamulang,Tangerang Selatan. Itu pun mereka berkendaraan motor.

“Kalau lalu lintas tak terlalu ramai,  naik motor bisa sekitar 1,5 jam, tapi kalau lalu lintas padat apalagi kalau macet, bisa sekitar 2 jam bahkan lebih. Tapi Fani, alhamdulilah kuat dan mau menjalani semua itu,” ungkap sang ayah, Wahyudi, yang sangat bersyukur kepada Tuhan atas kekuatan yang diberikan kepada anaknya.

Awalnya, Fani dan Ayahnya bertemu Tokoh di Museum Mandiri saat sedang menghadiri sebuah acara. Saat itu penampilan Fani tidak seperti orang yang tengah menyandang penyakit berat. Dia tampak sehat. Barulah ketika pembawa acara menyebut namanya sebagai seorang penderita kanker, sontak hadirin terkejut dan menoleh padanya. Dan Fani pun lantas tersenyum.

“Kami baru saja dari RS Cipto, Fani habis menjalani kemoterapi,” ungkap Wahyudi, sang ayah. “Sebenarnya habis menjalani kemo cukup melelahkan bagi Fani, namun anak saya sangat bersemangat dan ingin datang ke acara ini,” ucap Wahyudi kepada Tokoh, yang lantas mendapat anggukan Fani.

Meskipun lelah, kata Wahyudi, karena anaknya bersemangat maka dia pun ikut semangat mendukung sang anak. Apapun yang bisa membuat anaknya gembira dan semangat, dirinya akan mendukung.

Fani bertutur dia terdiagnosa menderita kanker ketika baru saja naik kelas dua SMP. Sebelumnya dia sudah merasa tidak beres pada tubuhnya. “Saya sudah merasa ada yang tak beres ketika tidak mendapat haid secara teratur, kadang dua-atau tiga bulan sekali baru dapat. Saya bingung. Padahal kakak saya, Fina Komala–kebetulan kami terlahir kembar—mendapat haid teratur. Perut saya juga makin lama makin membesar,” ungkap Fani yang dibenarkan oleh sang ayah.

Wahyudi mengaku –karena ketidakpahaman– awalnya dia dan istrinya tidak terlalu mengacuhkan keluhan sang anak soal haid tak teratur. Itu terjadi pada 2014. Namun perubahan pada fisik Fani makin mencurigakan, bukan saja perutnya yang makin membesar seperti orang hamil, tapi juga tubuhnya yang tambah kurus padahal banyak makan.

“Istri saya, mama Fani, kemudian memeriksa perut Fani, ternyata keras juga ada bejolan. Akhirnya ke Puskesmas yang kemudian dirujuk ke RSUD terdekat. Dari sanalah diketahui –hasil USG—bahwa di rahim Fani ada massa. Oleh RSUD kemudian dirujuk ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan,” papar pengusaha konveksi yang mengaku sebelumnya sempat menempuh pengobatan alternatif. Namun tidak ada perbaikan justru kondisi anaknya semakin  parah.

Dari pemeriksaan di RS Fatmawati itu lah akhirnya diketahui kalau Fani positif menderima kanker ovarium atau disebut germ cell tumors yang sudah stadium empat. “Kankernya sudah menyebar, dokter bilang sudah stadium empat,” kata Wahyudi yang selalu mendampingi sang anak setiap kali berobat.

Menurut data, germ cell tumors ovarium merupakan tumor primer ovarium yang berasal dari selsel germinal primitif. Kasus ini cukup banyak terjadi pada anak-anak maupun dewasa muda. Penyebab pasti dari germ cell tumors ovarium ini belum diketahui jelas, namun  beberapa studi telah menunjukkan bahwa hal ini ada hubungannya dengan etiologi genetik.

 

DIVONIS DOKTER TAK ADA HARAPAN HIDUP

Sebenarnya, ungkap Wahyudi,  pada 2014 itu dokter sempat memvonis umur anaknya tidak lama lagi. “Mendengar itu saya menangis sejadi-jadinya. Dokter bilang saya harus tabah. Saya berdoa minta pertolongan Tuhan, dan terjawab, Tuhan memberi kekuatan kepada anak saya yang ternyata mampu bertahan sampai sekarang. Ini keajaiban Tuhan. Manusia dapat berbicara apa saja, berencana apa saja, tapi Tuhan lah yang menentukan,” tutur Wahyudi yang tak putus-putusnya bersyukur atas karunia Tuhan.

Seperti yang diungkapkan banyak orang, tutur Wahyudi,  Fani adalah anak luar biasa. Dia mampu tegar menjalani semua proses pengobatan, padahal orang dewasa pun belum tentu mampu menjalaninya. Wahyudi sendiri mengaku dirinya selaku ayah yang selalu setia mendampingi anaknya berobat, merasa sangat pedih melihat apa yang harus dijalani anaknya.

“Saya sedih juga bangga melihat Fani yang berupaya tetap tegar menjalani semua proses ini. Waktu di RS Fatmawati dia telah menjalani 27 kemoterapi, sedang di RS Cipto ini dia sudah menjalani 36 kemo. Jadi total sudah 63 kali kemo sejak dia didiagnosa mengidap kanker 2014,” jelas bapak empat anak itu.

Beruntungnya, kata Wahyudi, Fani menjadi peserta BPJS mandiri sehingga sebagian pengobatannya ditanggung BPJS. Tidak ditanggung semuanya karena ada pengobatan-pengobatan tertentu yang harus juga dibayarkan oleh keluarga pasien. Jadi, tambahnya, biaya yang dikeluarkannya untuk pengobatan anak tersayang terbilang cukup besar.

Selama ini, lanjutnya, kehidupan perekonomiannya ditopang oleh usaha konveksi yang lumayan maju. Produk garmennya bahkan telah ekspor ke mancanegara. “Bisnisnya berjalan cukup baik. Jadi hasilnya bisa untuk menambah biaya pengobatan Fani,” tambahnya.

Dia juga merasa bersyukur karena ada banyak pihak yang bersimpati untuk ikut membantu, salah satunya adalah Lusia Kiroyan, pengusaha yang juga aktivis sosial. “Dulu mbak Lusi sempat bantu acara penggalangan dana sehingga bisa menambah uang pengobatan Fani,” tambahnya. “Mbk Lusi juga membantu dalam memberi motivasi agar Fani bisa tetap kuat dan tegar,” ujarnya.

Sepekan kemarin, lanjut Wahyudi, Fani tidak kontrol ke rumah sakit lantaran anaknya merasa lelah dan ingin istirahat. “Karena terakhir pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil yang baik, kebetulan juga Fani mengeluh capai dan ingin beristirahat, jadi kami sepekan ini tidak kontrol. Baru Senin nanti kontrol ulang untuk melihat perkembangan,” ungkapnya.

Satu hal yang menjadi ganjalan bagi Wahyudi adalah penyebaran kanker yang sudah mencapai pembuluh darah dan itu, kata Wahyudi mengulang pernyataan dokter, sulit ditangani. “Kalau di bagian lain sudah mengecil tapi yang di pembuluh darah, itu menyulitkan. Dokter bilang berat. Tapi dokter juga memberi harapan karena ternyata ada juga pasien yang sama (pembuluh darah) mampu bertahan hingga kini. Bahkan pasien itu kini sudah kuliah. Jadi yang penting jalani saja proses pengobatan dengan baik,” ungkap Wahyudi.

Jadi dirinya pun berpikir, selain berusaha juga berdoa meminta kesembuhan dari Tuhan. “Saya mohon dukungan doanya. Kalau Tuhan berkehendak, apa yang tak mungkin terjadi pasti bisa terjadi. Dokter bilang berat. Tapi kalau Tuhan bilang bisa ya pasti bisa”

“Saya menyikapi kondisi ini, pertama saya percaya adanya Allah. Yang kedua, yang selama ini saya jalani, disamping Fani seperti ini banyak yang lebih parah dari Fani. Yang ketiga adalah saya yakin setiap penyakit pasti ada obatnya,” ujar Wahyudi yang menyatakan tetap optimis anaknya bisa sembuh.(Diana Runtu).

To Top