Kolom

2018 (3)

Penggajian satpam untuk menjaga komplek hunian dihentikan. Dinilai tidak menguntungkan. Warga memutuskan menjaga sendiri lingkungan, secara bergantian ronda.
“Wah! Ini namanya set back sejarah,” gerutu  Pak Made,”kembali ke zaman primitif!”
“Kita kan baru mencoba beradaptasi dengan zaman. Keadaan sudah berubah. Sekarang maling, teroris, radikalis sudah sampai ke kita, banyak. Kita mesti tanggapi sesuai dan selayaknya supaya harmoni terpelihara. Desa-kala-patra kan sudah mengajarkan begitu. Masak kita sekarang ngotot memaksakan kebiasaan lama: ronda bergiliran, dengan alasan tradisi. Kuno! Tradisi itu kebiasaan baik yang sesuai dengan desa-kala-patra, jadi memang harus dipertahankan. Terutama untuk melawan budaya impor  yang merusak. Tapi  kebiasaan yang sudah tidak cocok dengan zaman lagi, itu tradisi lapuk, itu harus dibuang!”
Amat mengerti. “Aku sepikiran dengan Pak Made yang biasanya jadi musuhku  dalam berdebat mengenai kebijakan hidup bermasyarakat,” kata Amat mewejang Ketut yang datang curhat, lantaran kehilangan pekerjaannya.
“Tapi perubahan dalam kehidupan masyarakat kita berlangsung meloncat-loncat. Kaget-kagetan. Kemajuan materi yang tidak didukung kesiapan mental, menimbulkan banyak cacat yang merugikan. Kalau hantam kromo saja terus maju, bisa buyar. Misalnya, karena sudah punya. uang orang membangun, habis tanah dijadikan bangunan. Atau beli motor, mobil. Tapi tidak bisa dan tidak mau memelihara. Setelah setahun bangunan dan barang-barang rusak. Makanya perlu ditahan sedikit, bahkan kadang-kadang seperti nyetir mobil, atret dulu untuk dapat awalan belok. Itu bukan set bact. Tapi mengambil ancang-ancang untuk meloncat terbang! Paham?”
Ketut yang datang untuk minta perlindungan bengong. Bukan saja tak mengerti juga kurang mendengarkan.
“Kamu bukan dipecat, Tut,” kata Bu Amat, menghibur,” Tidak ada yang dipecat. Hanya memang warga memutuskan untuk kembali berswadaya. Ya, kan, Pak? Menjaga keamanan komplek oleh warga sendiri kembali. Maksudnya agar warga rajin lagi bergotong-royong memikirkan hunian sendiri. Jadi begitu. Ketut tidak perlu merasa bersalah atau malu. Tidak usah minta maaf lagi, sudah dimaklumi. Apalagi pencurinya sudah ditangkap dan barang yang hilang kembali. Malah untung ada pencurian itu, sehingga Pak Joko yang ternyata polisi itu berhasil membekuk perusuh yang sudah lama dikejar polisi. Jadi sebenarnya kamu berjasa Tut. Hanya jangan lagi suka pacaran, ingat karma-pala. Dengerin ibu, perempuan itu diajak menderita, mau kok, asal kamunya baik. Tapi kalau kamu suka pacaran,  itu, wah, payah! Pernah dengar ada laki-laki waktu bangun, itunya sudah hilang dipotong istrinya, karena sebel suaminya pacaran terus?”
Amat menghampiri.
“Sudah, Bu, Ketut lagi stres jangan ditakut-takuti begitu.”
“Masak begitu saja stres Tut? Bapak dulu difitnah suka memakai mobil Bos untuk ngompreng, sampai dipecat! Tapi Bapak tidak apa-apa! Kamu begitu saja stres!”
Ketut heran.
“Bapak pernah dipecat, Bu?”
“Karena fitnah! Akhirnya setelah Bapak dipecat, dia yang jadi sopir Bos. Tiap hari mobil Bos dipakai ngompreng!”
“Begitu, Bu?”
“Tiap hari! Padahal dulu Bapak kan baru sekali ngompreng, itu pun karena terpaksa! Ya, kan, Pak?!”
“O, jadi Bapak juga pakai mobil Bos ngompreng?”
“Ya, tapi kan hanya sekali, sebab .. .”
“Sudah, Bu! Ketut ini stres bukan karena berhenti jadi satpam.”
“O, ya? Karena apa?”
“Karena, Nyoman, pacarnya, bunting!”
Bu Amat kaget.
“O, begitu! Betul itu Tut?”
Ketut menunduk sambil menjawab lirih.
“Tapi bukan saya sendiri, Bu … .”
Bu Amat berdiri, marah dan kecewa.
‘Dasar lelaki! Rasain karma-pala! Suruh dia pulang, Pak, jangan jadi konsultan perbuatan maksiat!”
Bu Amat langung bergegas ke dapur sambil ngomel.
“Awas Pak, kalau berani ikut  ketularan  Ketut, aku potong!”
Ketut shok.
“Wah. Saya jadi malu, Pak!”
“Bagus, kalau kamu masih punya rasa malu. Itu tandanya kamu masih normal. Orang Jepang memupuk rasa malu dalam batinnya. Karena kemaluannya besar itu, mereka maju!”
Ketut tertawa.
Lho, kok ketawa?”
“Bapak bisa saja!”
“Ini serius, Tut! Tapi kamu jangan niru-niru kemaluan besar, sebab kamu bukan orang Jepang. Paling banter nanti kepalamu yang besar! Mengerti?”
Ketut menahan ketawanya.
“Mengerti, Pak.”
“Ketut, dengerin. Sebagai satpam, kamu bukan menolong warga di sini untuk menjaga keamanan. Bukan! Kalau menolong, itu suka-suka kamu melakukannya. Tidak dilakukan juga tak apa. Menjadi satpam itu bekerja. Di sini kamu bekerja! Urusan pribadi kamu tidak boleh dibawa-bawa. Kalau masih dibawa artinya kamu tidak siap bekerja. Untuk itu kamu dibayar dengan gaji! Bukan dengan budi atau ucapan terimakasih! Bukan!  Bekerja berarti bertugas dan punya kewajiban. Kalau tidak dilakukan kamu ditegor, dipotong gaji atau dikeluarkan.  Kamu kelihatannya belum siap bekerja, hanya siap terima gaji! Betul?!”
“Mengerti, Pak!”
“Banyak orang malah berani membayar asal dia dapat pekerjaan, tahu?!”
“Bagaimana mau bayar, saya tidak punya uang, Pak.”
” Kamu mau beli pekerjaan apa?”
“Itu si Nyoman minta ganti rugi kalau saya putusin.”
“O, jadi kamu ke mari mau meras, Bapak?”
“Saya mau pinjam seratus juta saja.”
Amat kaget.
“Seratus juta? Gila! Untuk apa?”
“Saya mau beli motor untuk ngojek.”
“Seratus juta cukup untuk beli mobil bekas tahu!”
“Saya mau beli tiga motor.”
“Tiga? Kamu mau jadi agen?”
“Satu untuk adik istri saya. Yang dua untuk saya.”
“Dua motor untuk kamu?”
“Yang satu untuk serep, Pak, supaya terus mengalir.”
“Gombal! Bapak bukan bank. Nih tak kasih 5 juta. Lebih baik pulang. Bantu istri kamu jualan nasi jenggo, kan sudah jalan!”
Amat mengulurkan uang 50 ribu. Ketut tak mau menerimanya. Bu Amat terdengar datang.
“Pakkkk!”
Ketut cepat mengambll uang dari tangan Amat, lalu terus pergi. Bu Amat muncul.
“Pakk jangan dikasih uang!”
“Nggak!”
“Mana dia? Bapak kasih uang?”
“Tidak. Kenapa?”
“Bu Made di sebelah bilang, Nyoman kawin lari sama sopir. Ketut bohong!”
Amat menarik nafas panjang.
“Aku tahu! Itulah sedihnya. Sekarang orang kita di sini juga sudah ikut-ikutan tidak malu-malunya lagi berbohong!”

To Top