Life Story

Uang bukan Segalanya

Di depan minuman dingin yang baru setengah diminumnya, Anggi (55) tiba-tiba beranjak pergi. Kata pemilik warung, sudah satu jam dia duduk di situ dengan wajah sedih setelah menceritakan kisah sedih yang baru menimpanya kepada Rani, si pemilik warung.

Ia memang kelihatan seperti orang bingung. Bagaimana tidak,  bertubi-tubi masalah kini menimpanya. Menurut Rani yang mengenal baik Anggi juga saudara sepupu Anggi ini, ada baiknya mengambil hikmah dari perjalanan hidup perempuan asal Pulau Sumbawa ini.

Hidup bergelimang uang ketika masih aktif bekerja di salah satu BMUN terkemuka sempat dilaluinya. Apalagi suaminya juga seorang pegawai perusahaan swasta dengan penghasilan yang di atas rata-rata.

Menggabungkan gaji berdua itu, sungguhlah banyak. Hidupnya ada di atas rata-rata orang biasa. Dari sana ia memiliki beberapa mobil dan fasilitas lainnya. Ia juga membuka usaha rumah makan yang sangat laris. Jadi penghasilannya makin bertambah.

Anggi memiliki lima anak yang ketika sekolah dan kuliah dihujani uang dan fasilitas yang cukup. Pendeknya semua berjalan seperti impian banyak orang. Namun, lihatlah apa yang terjadi setelah 25 tahun kemudian.

Sejak menikah Anggi menikmati semua kehidupannya itu bersama suami dan anak-anaknya. Tetapi di tengah gelimang uang itu, sebagai seorang muslim Anggi dan suaminya tidak banyak melakukan ibadah sesuai perintah agamanya. Hidupnya seperti hanya untuk mencari uang.

Kondisi ini secara langsung mempengaruhi kelima anaknya yang juga tidak banyak mengenal ibadah. Ia membangun keluarga yang hanya mengenal uang. Pendidikan anak-anaknya juga tidak berlangsung mulus. Mereka tidak terbiasa dengan hidup yang berjuang sehingga ketika memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah ya mereka keluar. Sementara yang masih tetap kuliah menghabiskan waktu hingga 7 tahun. Sangat lama memang.

“Anggi dan suaminya sangat jarang terlihat duduk bersama keluarga untuk berdiskusi tentang pendidikan anak-anak atau pun untuk saling memberi nasehat,” ujar Rani. Kehidupan keluarga berjalan tanpa komunikasi yang baik. Semua cenderung asyik sendiri-sendiri dan semua masalah selesai dengan uang. Anggi hanya asyik dengan keluarganya. Ia tidak terlalu banyak menanam kebaikan pada saudara-saudaranya. Ia adalah pribadi yang lebih suka memberi kepada orang lain dibandingkan kepada saudara-saudaranya.

Salah satu faktor yang membuat hari ini hidup Anggi penuh dengan masalah adalah karena ia tipe yang tidak mau mendengar nasehat orang lain. Pun dari saudara. Rani mengaku beberapa kali tahu bahwa Anggi selalu bertengkar dengan saudaranya ketika dinasehati. Anggi cenderung mengambil semua keputusan sendiri. “Apa yang diputuskannya itulah yang dilaksanakannya. Meski saudara-saudaranya yang merasa keputusan itu tidak tepat sudah menasehatinya, ia tetap pada apa yang diputuskannya,” kata Rani.

Karena itulah banyak hal tentang hidupnya yang akhirnya tidak diketahui oleh saudaranya. Anggi lebih suka berjalan sendiri dengan apa yang diputuskannya. Ia hanya akan bercerita pada saudaranya ketika mengalami kemalangan dari apa yang sudah dijalani berdasarkan keputusan itu. Sampailah akhirnya ternyata bisnis yang dijalankan Anggi selama ini satu persatu jatuh. Kondisi keuangannya pun menurun drastis.

Uang pensiun yang diterima bersama suaminya lebih dari satu miliar pun akhirnya lenyap untuk membayar utang-utangnya. Itu pun hanya Anggi yang tahu. Yang pasti tidak seorang pun anaknya apalagi saudaranya yang tahu uang tersebut ke mana larinya. Hanya dalam tempo enam bulan Anggi sudah mengeluh akibat tak lagi memiliki banyak uang untuk menopang kehidupannya. Padahal kini ia membutuhkan banyak uang untuk sekolah anak bungsunya yang akan menyelesaikan pendidikannya dua tahun lagi.

Anak-anaknya yang sudah menikah juga tidak bisa membantunya. Tidak satu pun anak yang memiliki pekerjaan tetap yang bisa menghasilkan gaji bulanan. Anak pertamanya yang laki-laki mengandalkan gaji istrinya. Anak kedua perempuan mengandalkan gaji suami yang hanya pegawai biasa. Lalu anak ke tiga dan ke empat masih menganggur setelah menyelesaikan kuliahnya yang teramat panjang hingga tujuh tahun.

Anak-anaknya yang sudah menikah pun masih meminta bantuan padanya untuk keperluan biaya hidup sementara ia tak lagi memiliki penghasilan yang besar seperti dulu. Hari ini Anggi baru merasakan bagaimana ia tidak pernah menyiapkan anak-anaknya untuk hidup dengan cara berjuang dan mengatur manajemen kehidupannya dengan baik. Jauh dari agama membuat mereka seperti jauh dari jalan keluar.

Tabungannya pun sudah tiada. Hari ini ia hanya mengandalkan usaha warung nasi yang tidak besar penghasilannya. Anaknya yang akan lulus sekolah kini tengah membutuhkan biaya puluhan juta. Sedangkan anak yang lain meminta bantuan untuk kebutuhan hidupnya.

Musibah yang paling hebat yang kini tengah menimpanya yang menambah bebannya adalah anak keempatnya terpaksa menikah dengan pembantu. Kabar itu baru seminggu lalu diterimanya. “Anggi tidak mau cerita lebih banyak soal itu. Ia masih mencari tahu keberadaan anaknya sekarang. Kalo ditanya tentang itu dia langsung pergi kayak tadi,” kata Rani. (Naniek I. Taufan)

To Top