Sosialita

AMB sebagai Wadah Kreativitas

Asosiasi Mode Bandung (AMB) dibentuk pada  Februari 2017. Tujuannya adalah sebagai wadah untuk berkumpul dan berkreativitas bagi para desainer serta UKM  yang ada di Badung. Hal ini seiring dengan Program Pembangunan Nasional Semesta Berencana  (PPNSB) yang berorientasi pada kemajuan pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat khususnya para pelaku UKM yang ada di Kabupaten Badung. Begitu disampaikan  Ayu Dewi saat ditanya mengenai keberadaan AMB.

Ia mengatakan bahwa melalui PPNSB, dilaksanakan pengembangan JAS (Jagapati, Angantaka, Sedang), sebagai sentra budaya dan industri kerajinan. “Karenanya,  para pelaku UKM diharapkan mampu tumbuh dan berkembang ditengah pertumbuhan pariwisata Kabupaten Badung yang cukup pesat,” ucap ibu dari Ni Putu Davalynda Chandra Putri Arsanthi, Komang Nararya Bayu Acyuta, Ketut Dahayu Aurora Jasmine ini.

Kehadiran AMB, selain sebagai wadah bagi para pelaku UKM dan desainer lokal untuk berkreativitas. AMB mengembangkan  misi pelestarian kebudayaan serta pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Badung, terutama kerajinan lokal. “Dalam program dan kegiatan tahun 2017, tahun pertama berdirinya AMB sudah mulai menggaungkan tenun ikat “endek “ dengan ‘endek motif jepun’ sebagai maskot Kabupaten Badung,” terang penyuka warna hitam-putih ini .

Kain endek diolah dan didesain oleh para desainer lokal menjadi busana siap pakai,  yang pertama kali dtampilkan pada acara Pemilihan Jegeg Bagus Badung 2017 pada  22 April 2017, di di Puspem Badung. “ Kemudian pada September 2017 , AMB mengikuti parade festival dan pameran yang dikemas dalam acara “Kuta Sea Sand Land”  di pantai Kuta. Pada November 2017 AMB diberikan kepercayaan mengisi acara fashion show pada ajang bergengsi “Legian Beach Festival (LBF) ”  ke – 10 di Pantai Legian,” papar Ayu Dewi.

Pada ajang LBF itu juga,  lanjut Ayu Dewi, AMB mengeluarkan beberapa desain yang bertemakan “Resort Wear” dengan bahan ‘endek jepun’.  Pada bulan yang sama pula , AMB kembali dipercaya membuka dan mengisi acara pameran dan fashion show dalam rangka memperingati  HUT Mangupura dengan tema “Office Look”.

Menurut Ayu Dewi, dengan beberapa kegiatan tersebut, diharapkan AMB dapat membantu menyejahterakan para penenun di Kabupaten Badung dengan ikut serta mempromosikan hasil tenun ikat melalui karya dan olahan desainer lokal.

“Oleh karena itu melalui program dan kegiatan yang dilakukan setiap tahun oleh AMB,  bersinergi dengan pemerintah dan swasta diharapkan ada pemberdayaan masyarakat Badung secara berkelanjutan seiring dengan program PPNSB Kabupaten Badung yakni “ Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat menuju Badung yang Santhi dan Jagadhita,” cetus penghobi mendesain dan traveling ini.

Tahun 2018,  AMB masih fokus pada promosi dan pengembangan tenun ikat binaan Kabupten Badung yang berpusat di desa Getasan, Petang. “Rencana tahun  ini juga ada tambahan binaan tenun ikat di Desa Pererenan, Mengwi.  Sedangkan untuk kegiatan pameran UKM dan fashion show, sebagai ajang promosi tenun ikat Badung terus berjalan seiring kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dan swasta. Kami juga telah mengawali tahun 2018 dengan persembahyangn dan aksi sosial,” ujar pemilik motto “Keep Smile and Never Give Up” ini.  (ard)

 

 

To Top