Edukasi

Mama Zaman Now sebagai Bentuk Aktualisasi Diri

Saat ini, istilah zaman now sudah latah melekat tak hanya pada anak, namun juga pada mama, dan segala sesuatunya yang menunjukkan kekinian. Semisal, mama zaman now. Psikolog Putu Widiastiti Giri mengatakan, istilah ini merefleksikan terobosan atau gaya hidup terkini dalam menjalani peran sebagai seorang ibu di era digital seperti saat ini.

Istilah kekinian ini menggambarkan seorang ibu tidak hanya memiliki rutinitas di rumah atau hanya seputar keluarganya, tetapi aktivitasnya semakin bervariasi, bahkan ada yang mampu berkontribusi ke lingkup masyarakat.

Munculnya istilah mama zaman now juga erat kaitannya dengan pola pengasuhan untuk kids zaman now. Secara umum, kids zaman now merujuk pada generasi muda (dalam hal ini, anak) yang menunjukkan perilaku seperti individu pada tahap perkembangan dewasa atau kebiasaan unik yang belum dialami generasi sebelumnya di masa itu. Sebagai bentuk protes terkait perilaku tersebut, muncul istilah kerennya kids zaman now. “Oleh karena itu, peran orangtua dari kids zaman now tentu sangat penting, salah satunya mama zaman now,” tegasnya.

Perbedaan mama zaman now dengan mama zaman old, dijelaskan Asti—demikian sapaan karibnya, berkaitan dengan pemanfaatan teknologi di era digital. Keunikan mama zaman now dapat dirangkum dalam karakteristiknya. Pertama, kesempatan yang lebih ekspresif untuk mendokumentasikan segala pengalamannya, termasuk pengalaman bersama anak. Melakukan dokumentasi pribadi dengan gadget maupun aplikasi sosial media yang tersedia menjadi hal yang menarik untuk dijadikan rutinitas. Keuntungan bagi mama zaman now adalah adanya memori dalam bentuk visual, baik berupa tulisan, foto, hingga video terutama dalam pengalaman bersama anak. Informasi ini akan sangat bermanfaat untuk pengalaman mengasuh anak sekaligus merekam tumbuh kembang anak. Dengan adanya fitur sharing ke publik juga memungkinkan masyarakat luas untuk mengetahui rutinitas yang dimiliki oleh Mama Zaman Now.

Karakteristik kedua, adanya peningkatan rasa percaya diri dalam menjalani peran sebagai ibu oleh mama zaman now. Faktor pendukungnya adalah kemudahan dalam akses terhadap informasi terkini, memperoleh panutan (role model), dan tips and tricks menghadapi tantangan sehari-hari sebagai ibu. Dengan adanya kemudahan akses informasi inilah, terbangun persepsi bahwa menjadi ibu tidak sesulit yang dibayangkan sebelumnya. Terlebih lagi, adanya figur yang dijadikan panutan yang sering melakukan sharing jitu mengenai peran ibu akan menjadi kisah inspiratif. Selain itu, informasi yang tersaji dengan kaya ini juga menjadi “teman setia” bagi mama zaman now untuk tidak pantang menyerah dalam melakukan tugas esensial sebagai ibu, khususnya dalam pengasuhan anak di keluarga.

Karakteristik lainnya, mama zaman now lebih memilih melakukan sesuatu yang lebih praktis dalam rutinitasnya sehari-hari. Sebagai contoh, ketika tidak sempat memasak, dapat memesan secara online melalui aplikasi. Tidak jarang, mama zaman now lebih kreatif dalam menemukan solusi untuk permasalahan yang ditemuinya. Misalnya, ketika ingin mengenal keseharian anaknya, dapat menjadi “teman” dengan sosial media milik anaknya. Selain itu, kreasi juga muncul dalam hal penampilan, perawatan, dan pilihan aktivitas yang membuat mama zaman now lebih nyaman mengaktualisasikan dirinya.

AKTUALISASI DIRI

Dari kaca mata psikologi, Asti mengaitkannya dengan teori hirarki kebutuhan yang diutarakan oleh Maslow. Ia menjelaskan, adanya usaha untuk menunjukkan identitas sebagai mama zaman now dapat dihubungkan dengan adanya kebutuhan untuk diakui sebagai bagian dari tren mama zaman now. Misalnya, mama zaman now selalu memiliki update kegiatan setiap hari yang diketahui netizen. Terlebih lagi ketika pengakuan itu dibuktikan melalui adanya sejumlah simbol “setuju” atau komentar netizen di unggahan miliknya. Hal ini mampu meningkatkan rasa keberhargaan diri seorang mama zaman now.

Bentuk dukungan lain yang dapat diterima mama zaman now adalah adanya kepedulian dari netizen terhadap pengalaman penting dalam hidupnya. Ketika memiliki pengalaman yang menyenangkan, mama zaman now membayangkan akan mendapatkan apresiasi. Begitu juga sebaliknya, ketika mengalami pengalaman kurang menyenangkan, mama zaman now lebih mudah memperoleh dukungan moril dari sekitarnya.

Identitas sebagai mama zaman now juga memberikan kesan bahwa ada prestasi versi terkini yang mengagumkan dari peran seorang ibu. Sebagai contoh, kelompok arisan yang diikuti oleh seorang ibu meluaskan manfaatnya dengan membuat kegiatan bakti sosial bagi pengungsi bencana alam. Upaya ini membuktikan bahwa ada ranah yang mendukung pengembangan diri mama zaman now, atau istilah kerennya aktualisasi diri.

Sudut pandang lain yang juga dapat dilihat adalah adanya dorongan untuk mengikuti pengaruh sosial dari julukan mama zaman now. Seakan-akan ada norma sosial yang bersifat tidak tertulis bahwa seluruh ibu masa kini adalah mama zaman now. Sementara itu, bagi ibu yang “ketinggalan zaman” justru dianggap aneh. Oleh karena itu, solusi teraman adalah mengikuti gaya mama zaman now, meskipun kurang sesuai dengan dirinya.

Namun, Asti mengingatkan ada beberapa hal yang perlu disikapi lebih lanjut oleh mama zaman now. Pertama, adanya kesepakatan tentang privasi dalam internal keluarga. Sejauh mana informasi tentang rutinitas sehari-hari yang di-share ke publik. Mengingat, pada zaman now justru informasi dari sosial media dapat dipergunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, bersikap waspada dengan menetapkan batasan mengenai privasi menjadi mutlak untuk dilakukan.

Selain itu, perlu disepakati juga tentang pada kondisi seperti apa dokumentasi pribadi tersebut dianggap nyaman oleh seluruh anggota keluarga. Sebagai contoh, apakah disetujui ketika pengambilan video ketika anggota keluarga sedang makan bersama? Upaya ini dilakukan agar jangan sampai ada anggota keluarga yang keberatan dan mempengaruhi keharmonisan yang telah terjalin baik sebelumnya.

Kedua, tetap menjadi teladan bagi keluarga, utamanya anak, terlepas dari identitas sebagai mama zaman now. Sebagai contoh, mengucapkan tolong ketika ingin meminta bantuan kepada orang lain dan disertai dengan terima kasih ketika telah dibantu. Teladan, bukan hanya sebatas kata-kata, tetapi juga contoh dalam hal perilaku.

Ketiga, tetap berpikir open-minded terhadap informasi yang diterima, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan kritis ketika ingin digunakan untuk menyelesaikan persoalan tertentu. “Dengan kemudahan dalam hal akses informasi, mama zaman now memiliki alternatif penyelesaian masalah yang lebih beragam. Tantangannya adalah bagaimana menentukan dari sejumlah informasi atau masukan tersebut agar tepat guna ketika diterapkan,” ujar lulusan Fakultas Psikologi UI yang kini praktik di Biro Konsultasi Psikologi Pradnyagama ini. Di samping itu, mengantisipasi efek “terbawa perasaan” atau baper atas komentar netizen terhadap hal yang di-share oleh Mama Zaman Now. Tentunya, pengelolaan emosi menjadi bekal penting untuk terhindar dari stres yang berasal dari komentar yang tidak sesuai harapan.

Tetap menikmati momen kebersamaan dengan keluarga maupun orang terdekat adalah hal keempat yang dapat diperhatikan mama zaman now. Dengan kemudahan untuk melakukan dokumentasi pribadi, tetaplah usahakan untuk membuat asyik suasana tanpa gadget atau sering disebut quality time. Mungkin pernah dengar tentang “Era digital ini tampak seperti mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat”? Harapannya, kalimat ini dapat menjadi pedoman untuk mengakrabkan suasana baik ketika bertemu langsung maupun dengan perantara gadget. “Terlepas dari sebutan mama zaman now, peran orangtua selalu menjadi pendukung utama tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, tetap menjadi teladan, menebar kasih, dan menonjolkan hal positif dari tren mama zaman now, merupakan sesuatu yang esensial,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top