Buleleng

Warga Kolok Kembangkan Minuman Sari Kunyit Bengkala

Desa Bengkala dikenal menjadi salah satu desa unik di Kabupaten Buleleng, Bali. Keunikan desa ini terletak dari warganya yang menderita tuli bisu kolok tanpa jelas penyebabnya.  Selain itu, Bengkala juga dikenal sebagai salah satu penghasil kunyit terbaik di Bali. Kunyit yang dihasilkan di Desa Bengkala menjadi primadona di pasar lokal Buleleng. Kunyit merupakan bahan makanan yang memiliki banyak kegunaan dan khasiat. Hanya saja dari hasil panen, kunyit hanya dijual secara langsung ke pedagang baik dari daerah maupun luar daerah bengkala.

Melihat kwalitas kunyit Bengkala yang sangat baik, Kadek Sami salah satu warga Bengkala melihat prosfek yang sangat menjanjikan. Dirinya berinovasi dengan mengolah kunyit asli Bengkala menjadi minuman sehat yang menyegarkan. Dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang digelar untuk meningkatkan perekonomian perempuan 50 tahun ini mengolah kunyit menjadi jamu kunyit asam yang sangat baik untuk kesehatan.

Perempuan yang beberapa anggota keluarganya menderita tuli bisu ini mengaku untuk membuat jamu kunyit Bengkala sama seperti jamu pada umumnya. Bahan yang diperlukan seperti sari kunyit asli, gula merah, asam, dan garam yang direbus selama 2 jam. Perebusan inilah yang menjadikan jamu kunyit awet 4 hingga 7 hari. “Kami tidak menggunakan  pengawet sama sekali, pengawetnya secara alami yaitu dengan perebusan dengan waktu yang cukup lama,” jelasnya.

Dalam memproduksi jamu kunyit, Sami hanya dapat memproduksi 2 kali dalam seminggu. Sekali produksi dirinya hanya menghasilkan 60 hingga 70 botol kecil. Setiap botol ia jual dengan harga Rp.5.000. Sami menambahkan dirinya tidak dapat memproduksi jamu kunyit setiap hari meskipun dirinya selalu dikejar order. Hal ini dikarenakan kunyit hanya bisa dipanen ketika cuaca baik. Jika turun hujan berturut-turut maka umbi kunyit akan kecil dan daunnya pun akan rusak. “Ya solusinya kami  selalu menyetok kunyit untuk jaga jaga dan agar produksi bisa dilakukan secara terus menerus meskipun tidak setiap hari,” ungkapnya.

Tergabung sebagai anggota Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) Desa Bengkala, Sami dan warga penyandang disabilitas lainnya untuk memanfaatkan hasil panen kunyitnya. Hal ini sebagai salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang dilakukan atas kerjasama pemerintah, lembaga pendidikan, dan swasta.

Hanya saja Sami dan anggota yang lainnya terkendala dalam pemasaran. Jamu kunyit asam Sakuntala ini hanya dapat dijual disekitaran desa saja. Hal ini dikarenakan usaha yang ia kembangkan beberapa tahun belakangan ini belum memiliki izin. “Kami belum berani pasarkan  keluar daerah karena belum ada izinnya. Kami sudah urus tapi belum ada tindak lanjut,” pungkasnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top