Buleleng

Sandang Disabilitas, Warga Bengkala Ikuti Pelatihan Tenun

Mengalami keterbatasan fisik tidak menjadi halangan seseorang untuk beraktivitas. Apalagi untuk warga Desa Bengkala yang mengalami disabilitas tuli bisu. Meskipun banyak warganya menderita kolok, Prebekel Desa Bengkala I Made Arpana mengatakan tidak pernah ada diskriminasi antara warga normal dan penyandang disabilitas.

Made Arpana menegaskan tidak pernah mengkotak-kotakkan warganya sehingga terjalin hubungan harmonis antar warga. Bahkan warga penyandang disabilitas selalu dilibatkan dalam berbagai acara di desa. “Tidak ada perbedaan mereka bergaul, bersosialisasi dan beraktivitas layaknya warga normal. Tidak ada sama sekali diskriminasi,” ungkapnya.

Bahkan pihak desa bekerja sama dengan pihak swasta memberdayakan masyarakat disabilitas tersebut untuk mengikuti berbagai pelatihan yang bertujuan mengembangkan kemampuan dan meningkatkan perekonomian warga itu sendiri. Salah satunya dengan menggelar pelatihan pertenunan. Arpana menambahkan pelatihan ini bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat disabilitas agar menciptakan lapangan kerjanya sendiri. “Mereka kalau mencari kerja ke luar mungkin susah jadi kita berdayakan di sini,” imbuhnya.

Sementara itu Kadek Sami salah satu warga yang merupakan anggota Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) Desa Bengkala mengaku berbagai pelatihan-pelatihan telah digelar untuk mengembangkan masyarakat. Salah satunya pelatihan pertenunan kain endek khas Buleleng. Namun pada pelaksanaanya memang tidak semudah yang dibayangkan. Menenun merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan dan ketelitian penuh, sehingga membutuhkan kesabaran yang tinggi dalam mengajarkan para penyandang disabilitas tersebut. “Mengajarkan mereka menenun memang tidak mudah. Tapi karena kerja keras pelatihan dan dorongan pihak sponsor beberapa warga kami sekarang sudah pandai menenun,” ungkapnya.

Sebelumnya pelatih didatangkan langsung dari desa Jinangdalem, Buleleng. Bahkan untuk menarik minat masayarakat mengikuti pelatihan, mereka dibayar 70 ribu Rupiah dalam sekali datang. Lanjut kata Sami saat ini untuk keberlangsungan usaha tersebut, warga penenun dibayar dengan sistem borongan dengan bayaran satu kain dibayar 45 ribu Rupiah. Kain endek yang sudah jadi akan dipasarkan dan hasil penjualannya akan digunakan sebagai biaya operasional, pembelian bahan, dan upah tenga kerja. “Merak bisa menyelesaikan satu kain 2 hingga 3 hari. Setelah kain jadi kain bisa langsung dipasarkan,” imbuhnya. Bahkan hasil tenunan dari warga disabilitas ini terbilang bagus layaknya di tenun oleh masyarakat pada umumnya.

Akan tetapi usaha tersebut masih menemui kendala biaya. Sebab dalam memproduksi kain endek tidak jarang beberapa hasil tenunan tidak baik bahkan ada yang rusak. Hal ini tentu akan membuat kain endek tersebut tidak laku dijual sehingga akan sangat berdampak terhadap pemasukan anggota. “Ya kalau kainnya rusak mana ada yang mau beli. Nah itu berarti kita rugi dan akan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan modal untuk membeli bahan baku,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top