Bugar

Layanan Sehat untuk Orang Tua

Bali disebut salah satu provinsi lansia.  Sekitar 11% dari penduduk Bali itu adalah lansia. Artinya, jika jumlah penduduk Bali sebanyak  4,5 juta. Artinya, sekitar  400-450 ribu adalah lansia atau orang tua. Demikian disampaikan dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes, pemilik Klinik Sada Jiwa.

Melihat fenomena ini ke depan, ia menggagas Klinik Sada Jiwa. “Kalau biasanya klinik hanya  untuk mengobati orang yang sakit, di klinik ini kami memiliki  tiga layanan unggulan,“ ujar dr. Patra Jaya.

Unggulan yang pertama adalah  layanan unggulan orang tua. Orang tua ini  bukannya sakit, tapi mereka ingin  menjaga kualitas hidupnya.  Tempat ini, bukan panti jompo, tapi disebut senior living artinya untuk kehidupan orang tua.  “Kalau orang asing sudah biasa mendengar tempat seperti ini. Saya terinspirasi waktu tahun 2004 saya datang ke Jepang, dan melihat ada fasilitas untuk orang tua di sana,” ujarnya.

Ia mengatakan, untuk layanan orang tua ini ada empat aspek  yang ditekankan yakni menjaga kualitas fisik, mental, sosial, dan spiritual, sesuai definisi sehat menurut WHO.

Aspek fisik dimulai dari  pemberian makanan sehat yang disesuaikan dengan kebutuhan  orang tua. Kemudian, fisiknya juga dilatih.  “Orang tua mengalami kemunduran daya ingat dan reflek-nya. Karena itu, ada senam otak untuk mencegah pikunnya agar tidak  menjadi sangat  berat.  Ada senam lidah dan senam menelan, agar  refleks menelannya bagus. Menjaga suaranya agar  tidak semakin lama semakin tidak jelas.  Senam jari,  untuk mencegah gemetar dan senam diabetic untuk kaki. Disamping senam lansia secara umum,” ungkapnya.

Untuk aspek psikolog,  ada pemeriksaan psikologinya. Mengapa orang tua  sering marah-marah karena ada sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa ditangkap dan diberi perhatian. Ada psikolog yang akan memberikan pelayanan kejiwaan.

Aspek sosial, interaksi dengan sesama. “Kita sering keliru  memperlakukan orang tua. Kita sering menyuruh mereka hanya diam saja di rumah.  Makanya,  sekarang para  pensiunan mulai ngumpul dengan  sesama  karena ada kebutuhan sosial,” kata dr. Patra.

Aspek spiritual ada kegiatan  meditasi untuk ketenangan jiwa.  “Seperti klinik biasa, kami tetap siaga dokter jaga dan perawat 24 jam.  Ada juga, layanan dokter spesialis konsultan geriatrik, neurologi, penyakit dalam, gizi klinik, dan psikolog.  “Untuk program setengah hari, mereka akan mengikuti  program pokok, mulai pukul 7, dilakukan pemeriksaan kesehatan  termasuk pengukuran tensi, nadi, dan setiap  bulan ada pemeriksaan kolesterol, gula darah,  dan asam urat. Setelah itu mereka diajak sarapan.  Setelah itu dilanjutkan dengan senam otak, senam menelan, senam lidah, senam jari, senam kaki, senam diabetic.Kemudian dilanjutkan dengan  penyuluhan kesehatan. Setelah itu  penyaluran hobi, bagi yang suka bernyanyi atau gateball. Terakhir makan bersama dan mereka bisa pulang,” jelasnya.

Untuk program menginap, kata dia, kegiatan penyaluran hobi diberikan waktu lebih panjang.  “Karena ini lembaga sosial ekonomi  dan kami tahu banyak sekali orang tua yang tidak mempersiapkan uang untuk mereka tua nanti, kami hanya kenakan biaya Rp 25 ribu untuk program setengah hari. Sementara, bagi yang punya  kartu BPJS mereka tidak bayar,” kata dr. Patra.  Sampai saat ini, Klinik Sada Jiwa sudah memiliki anggota BPJS 8000 orang.

Sementara, untuk program long stay  diminati orang asing. “Untuk orang asing sudah diwajibkan oleh pemerintah  mereka menyisihkan dananya untuk hari tua. Jadi, mereka sudah ada dana secara mandiri,” imbuhnya.

Unggulan lain dari Klinik Sada Jiwa adalah Rehabilitasi Stroke.  Ia menilai, orang stroke  sering  sudah dianggap tidak bisa apa-apa. Padahal pasien stroke bisa ditingkatkan kualiats hidupnya. Misalnya dia lumpuh, kalau cepat  bisa dilatih dan pelatihannya berstruktur, dia bisa untuk membantu dirinya. Setidaknya bisa mengambil minum.  “Banyak yang saya temukan,   kalau sudah ada anggota keluarga yang stroke,  pasti mereka ngomong siapa yang akan berhenti bekerja untuk menjaga dan  mengurus pasien stroke ini. Padahal, dari 30 pasien yang kami tangani, ternyata kemampuan mereka bisa ditingkatkan,” kata dr. Patra Jaya.

Klinik Sada Jiwa juga memiliki layanan Cancer Support Centre. “Biasanya, pasien kanker setelah kemo radiasi di rumah sakit, tidak mengerti mau ngapain,  pikiran mereka kacau. Saya mantapkan ini  dalam tiga hal yakni nyeri, nutrisi, psikologis,” jelasnya. (Wirati Astiti)

To Top