Life Story

Salah Baca Petunjuk

Sepanjang berada di Makkah untuk menunaikan ibadah Umroh, beberapa peristiwa yang mengingatkan jamaah sebagai bentuk teguran turut mewarnai perjalanan empat bersaudara, Ultra Dewi, Prima, Naniek dan Triana. Dari beberapa peristiwa, dua hal yang tidak terlupakan, yakni ketika sama-sama salah membaca petunjuk arah yang membuat keempatnya nyaris keluar ke pintu lain dan menyaksikan langsung terpisahnya nyawa dan tubuh salah seorang jamaah yang meninggal di Makkah.

Cukup banyak pintu – mencapai 93 pintu (berdasarkan peta Masjidil Haram yang diterbitkan oleh The Kingdom of Saudi Arabia) dengan empat pintu utama yakni, King Fahad Gate, King Abdul Aziz Gate, Fateh Gate dan King Abdullah Gate, memang sering membuat jamaah bingung. Namun tidak demikian dengan empat bersaudara ini.

Hari ketiga berada di Makkah dengan fokus sepanjang hari bolak-balik melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, membuat mereka menjadi terbiasa keluar masuk pintu terdekat dengan hotel tempatnya menginap. Kebetulan sekali, hotel tempat mereka menginap sangat dekat, hanya berjarak sekitar 250 meter dari salah satu pintu utama Masjidil Haram, yakni King Abdul Azis Gate. Dan penanda yang paling mudah dikenali adalah di depan King Abdul Aziz Gate itu berdiri megah Zamzam Tower. Bangunan paling tinggi yang berada di sekitar Masjidil Haram dengan jam berukuran besar di puncaknya. Hotel mereka berada di samping bangunan Zamzam Tower tersebut.

Jadi, sangatlah mudah untuk mengingat tempat keluar masuk Masjidil Haram usai beribadah di tengah ratusan ribu manusia yang keluar masuk masjid terbesar di dunia itu. Setidaknya 6-7 kali sehari empat bersaudara ini keluar masuk Masjidil Haram. Rute hotel, Zamzam Tower, King Abdul Aziz Gate, semacam sudah hafal di luar kepala. Jika agak repot mengingat tinggal baca penunjuk jalan yang sangat lengkap di dalam areal Masjidil Haram atau lebih mudah lagi bertanya pada Askar (penjaga/petugas) Masjidil Haram yang jumlahnya sangat banyak dan ada di mana-mana. Sederhana dan simple serta mudah.

Di hari itu, usai Salat Dhuhur mereka melepas keponakan laki-lakinya yang baru berusia 16 tahun untuk pulang sendiri lebih dulu ke hotel karena mereka masih melanjutkan ibadah hingga menanti waktu Salat Ashar. Usai salat Ashar ke empatnya berniat kembali ke hotel. Saat berjalan pulang, masih dalam Masjidil Haram, mereka membahas tentang keponakannya tersebut, berdoa semoga keponakannya sampai hotel dengan selamat.

Namun di bawah sadar, keempatnya merasa sangat yakin bahwa keponakannya itu pasti sampai dengan selamat karena menilai perjalanan pulang yang dekat itu begitu mudah. “Kan sudah ada petunjuk, gampang tinggal baca,” ujar Triana. Ultra Dewi menimpali bahwa jalan menuju hotel hanya lurus saja dari tempat mereka salat, tinggal belok kanan keluar lalu ada Zamzam Tower. “Insya Allah tidak akan tersesat,” katanya. Triana dan Naniek juga begitu yakin. “Kalau tersesat dia tinggal tanya Askar saja. Askar kan ada di mana-mana,” kata mereka sambil terus berjalan.

Obrolan ini sesungguhnya sangatlah sederhana. Namun lihatlah apa yang terjadi di balik kalimat-kalimat di bawah sadar mereka itu. Mereka rupanya telah berjalan cukup jauh hingga tiba-tiba tersadar bahwa ada yang aneh dari jalan yang biasanya mereka lalui. Keempatnya saling bertanya saat membaca petunjuk yang tertulis King Abdullah Gate. Di sanalah mereka sadar bahwa mereka telah jalan ke arah yang salah. Untuk memastikan bisa kembali ke jalan yang benar menuju hotel, mereka bertanya pada Askar yang menunjuk arah yang benar.

Entah apa yang terjadi, keempat bersaudara ini malah merasa ke jalan yang lebih salah, karena tidak familiar bahkan turun satu lantai dari jalan yang seharusnya. Sadar telah salah jalan, mereka kembali ke tempat semula dan kembali membaca petunjuk jalan. Mereka menemukan King Abdul Aziz Gate. “Nah ini dia jalannya,” kata Prima yang diamini ketiga saudaranya. Mereka berjalan bersama sesuai petunjuk, namun baru beberapa langkah masih terasa aneh jalannya. Bertanyalah kembali mereka pada Askar di mana pintu King Abdul Aziz.

Askar menunjuk ke arah yang berbelok dari papan petunjuk yang mereka baca sebagai King Abdul Aziz Gate tadi. Begitu keluar dan melihat papan penunjuk jalan itu, keempatnya tertegun karena terbaca King Abdullah Gate. Akhirnya, meski bertanya-tanya dalam hati, keempatnya mengikuti petunjuk dari Askar. Ternyata King Abdul Aziz Gate hanya sekitar 10 meter dari tempat mereka bolak-balik tadi. Sangat dekat dan begitu mudah hingga akhirnya tiba di hotel dan bertemu kembali dengan keponakannya.

Keesokan harinya, mereka sempat membahas soal salah jalan kemarin. “Padahal King Abdullah Gate itu sudah saya baca dengan jelas adalah King Abdul Aziz Gate,” ujar Triana. Ketiga saudaranya langsung menimpali seraya tak percaya. Rupanya ketiganya juga mengalami hal yang sama dengan Triana. Sama-sama membaca King Abdullah Gate itu dengan jelas dan yakin bacaannya adalah King Abdul Aziz Gate.

Peristiwa ini menyadarkan keempat bersaudara itu bahwa ada yang salah dalam sikap mereka. Merasa yakin dan dengan nada tidak mungkin tersesat karena petunjuk dan bantuan lengkap, adalah bentuk sombong yang sederhana. “Ternyata untuk hal sepele pun, sombong itu tidak baik. Di Masjidil Haram, kami mendapat teguran itu secara langsung,” kata Prima. Mereka menyadari bahwa sama-sama salah membaca petunjuk lalu berputar di sekitar jalan itu saja bukanlah hal biasa, melainkan teguran Allah SWT untuk mereka.

Kisah nyata itu memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi empat bersaudara ini. Dari sanalah mereka belajar untuk mengendalikan diri, mengambil hikmah dan meyakini, bahwa seluruh proses kehidupan manusia akan kembali (baik dan buruk) sesuai dengan apa yang dilakukannya.

 

KEHILANGAN SATU JAMAAH

Selain itu, beberapa peristiwa lain melengkapi makna penting dari perjalanan Umroh bagi mereka dan 17 jamaah lainnya, salah satunya adalah kehilangan seorang anggota jamaah yang meninggal dunia di Tanah Suci Makkah. Pada hari terakhir berada di Makkah (esok pagi jamaah akan kembali ke tanah air), sebuah peristiwa luar biasa diperlihatkan Allah SWT di depan mata seluruh jamaah.

Pagi itu usai melaksanakan salat subuh di Masjidil Haram, seluruh jamaah menuju tempat sarapan di hotel. Tiba-tiba mereka mendapat kabar bahwa salah seorang jamaah, H. Syadeli Sarkawi, asal Pulomerak Kota Cilegon Banten, terjatuh di kamarnya. Ulama asal Banten ini beberapa hari sebelumnya memang terlihat kurang sehat dan banyak beristirahat di hotel setelah menjalani ibadah Umroh.

Mendengar kabar tersebut, seluruh jamaah spontan menuju kamar H. Syadeli yang sudah tampak seperti tertidur di kamarnya di lantai 13. Hanya berjarak sekitar satu setengah jam dari peristiwa jatuhnya itu, H. Syadeli menghembuskan nafas terakhirnya di kamar hotel ditemani oleh seluruh jamaah yang hari itu membatalkan semua perjalanan city tour yang sudah terjadwal. H. Syadeli berpulang sebelum sempat dibawa ke rumah sakit karena beberapa prosedur yang tidak mudah yang harus dijalani sebelum dibawa ke rumah sakit (menanti ambulans dan lain-lain) dan juga menanti izin dari keluarga.

Syadeli berpulang dengan damai diiringi air mata sedih  para jamaah yang melantunkan ayat-ayat suci Al Quran mengantar kepergiannya yang tenang. Peristiwa ini merupakan kisah batin tersendiri bagi para jamaah. Di samping menjalankan ibadah penting sebagai seorang muslim, Allah SWT memperlihatkan langsung detik-detik terpisahnya nyawa dari raga manusia. Sungguh pengalaman spiritual di tanah suci yang tidak ternilai harganya. Atas ijin keluarga, H. Syadeli kemudian dimakamkan di tanah suci Makkah.

Keesokan harinya, pukul delapan pagi waktu Makkah, rombongan bertolak ke Jeddah menuju Istambul kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke tanah air. Mereka datang ke tanah suci dengan 22 orang dan kembali ke tanah air dengan 21 orang. Itulah kalimat perpisahan dari para jamaah ketika pulang ke tanah air. Segala peristiwa dan hikmah menjadi pengalaman dan pelajaran berharga yang tidak ternilai untuk meningkatkan kualitas hidup yang sementara sebagai manusia. (Naniek I. Taufan)

 

 

Paling Populer

To Top