Bunda & Ananda

Pembelajaran Inovatif “Nyurat” Aksara Bali

WHDI Provinsi Bali bekerjasama dengan Bali TV, Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar, dan Disdikpora Kota Denpasar menggelar kegiatan “Ngiring Melajah Gita Aksara”, Minggu (24/12) di Gedung Pers Bali K. Nadha, Denpasar. Kegiatan diikuti 30 siswa SD dan SMP se-Kota Denpasar.

Dalam kegiatan tersebut anak-anak diajarkan aksara Bali, yaitu aksara wianjana yang berjumlah 18 aksara serta pengangge suara, cara menulis aksara yang benar dan cara menulis kata dan kalimat sederhana dengan aksara bali. Kegiatan itu diselingi dengan nyanyian bertema aksara agar anak-anak tidak bosan.

“Ini baru mengawali. Berbicara tentang budaya dan sastra adalah berbicara kualitas bukan kuantitas. Namun, karena ada pelestarian budaya tentu kita ingin juga kuantitas. Mudah-mudahan ke depan mungkin bisa diadakan tiap semester, sehingga nanti makin banyak anak yang paham dan lebih bisa menulis satra bali. Artinya, ke depan bisa dikembangkan dan diikuti oleh instansi lain untuk ikut melestarikan aksara bali ini,” ujar Kepala Bidang Bina Program Disdikpora Kota Denpasar Drs. I Made Merta, M.Si.

Ia menyambut baik gagasan ini untuk mengisi liburan anak-anak dengan kegiatan positif yang bernapaskan sastra dan sekaligus ada pelestarian budaya, dalam hal ini aksara Bali. Hal senada disampaikan Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bali Ny. Bintang Puspayoga yang berkesempatan hadir dan juga meluncurkan secara resmi media belajar nyurat aksara bali sederhana dalam bentuk CD yang dibuat oleh Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar bekerjasama dengan salah satu siswa SMKN 1 Denpasar yang kini sudah kuliah di STIMIK Stikom Bali.
Istri Menteri Koperasi dan UMKM RI ini memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada kegiatan “melajah gita aksara”. “Ini salah satu kegiatan melestarikan budaya dengan menyurat antuk aksara Bali sambil megending. Ini suatu inovasi kreativitas yang luar biasa,” ucapnya antusias. Dikatakannya, walaupun sudah ada mata pelajaran Bahasa Bali di sekolah, ia berharap hal ini lebih ditingkatkan lagi di tempat-tempat lain seperti ini di desa/kelurahan. Ke depannya, ia berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara berkesinambungan dalam upaya pelestarian warisan budaya.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa diimplementasikan dan bisa sinergi, sehingga apa yang menjadi tujuan dan harapan dari pelaksanaan ini dapat tercapai maksimal dan terintegrasi,” imbuhnya.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Kota Denpasar Gusti Ayu Widyarti, S.S., M.Pd. mengatakan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini agar anak-anak dapat belajar mengenal aksara Bali dan menulis kata/kalimat sederhana menggunakan aksara Bali. “Tentunya dengan diselingi nyanyian/gita tentang aksara sehingg dapat merangsang daya ingat anak tentang pelajaran aksara yang diberikan,” ujarnya.

Dilaksanakannya kegiatan ini dikatakannya mengingat generasi muda kini lebih senang dengan sesuatu yang bersifat modern seperti penggunaan gadget berlebihan, sehingga pengenalan tentang aksara bagi mereka tidak penting. “Persoalan muncul ketika dalam kegiatan belajar mengajar untuk Bahasa Bali mereka sangat kurang, maka perlu diberikan stimulasi yang menarik agar anak-anak merasa nyaman mempelajari dan selalu ingat dengan materi yang diajarkan. Dengan melajah gita aksara, tentu hal itu dapat dilakukan,” imbuhnya.

 

BELAJAR BAHASA BALI GRATIS

Penyuluh Bahasa Bali ini adalah tenaga kontrak yang direkrut langsung oleh Provinsi Bali untuk ditempatkan di setiap desa/kelurahan di seluruh Bali. Telah ada Bulan Juli 2016 hingga sekarang dengan jumlah penyuluh 568 orang yang seharusnya berjumlah 716 orang, berada di bawah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang rencananya pada tahun 2018 akan diserahkan administrasi di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

Ia sendiri bertugas di Desa Dangin Puri Kaja. Di sana ia juga membuat kelompok belajar Bahasa Bali gratis yang terletak di Balai Banjar Tainsiat. Siswa yang belajar merupakan warga desa tersebut, kebanyakan adalah siswa SD dan SMP. Pembelajaran dilakukan sekali seminggu dengan jadwal disesuaikan dengan waktu anak-anak pulang sekolah. (Inten Indrawati)

To Top