Kolom

2018 (1)

Muncul seorang tamu yang tak dikenal. Satpam baru itu, tak sanggup menahannya di portal pos satpam. Karena tamu menyebut-nyebut nama Amat. Tapi Satpam juga tak berani membiarkan ia langsung menemui Amat.
“Saya katakan Pak Amat dan Ibu masih keluar rumah. Jadi sebaiknya … .”
“Sebaiknya?
“Sebaiknya ..  ?”
“Sebaiknya bagaimana?
“Ya, saya juga tidak tahu, Pak Amat, saya kan orang baru. Maka saya lapor ke mari.”
“Nama kamu siapa?”
“Joko, Pak.”
“Dari Banyuwangi, Pak. Tapi orang tua saya sudah 10 tahun di sini. Saya dari kecll di Banyuwangi sama nenek
“Sudah, Pak, kok malah wawancara!”
“Kamu jaga sendirian?”
“Sama Ktut,  Pak.”
“Mana dia?”
“Anu, lagi kebet berak, Pak.”
“Di mana?”
“Pak! Jangan wawancara!”
“Oke. Kenapa tadi kamu bilang, kami keluar rumah?”
“Maksud saya, supaya dia tidak usah masuk.”
“Memangnya dia mau ketemu Bapak tengah malam begini?”
“Ya.”
“Tapi kan yang bernama Amat itu banyak. Ada tukang sate. Tukang pijat. Tukang apa lagi itu?”
“Orang kaya di sebelah kompleks hunian kita itu juga Pak Amat.”
“Saya sudah bilang begitu, tapi dia maunya  Bapak!”
“Kelihatannya mau apa?”
“Kurang tahu, Pak. Tapi kelihatannya bawa bungkusan.”
Oh, seperti hadiah begitu?”
“Mungkin, Bu?”
“Besar”
“Ya sedeng.”
“Sedengnya seberapa?”
“Ada kali sebesar, sebesar apa ya, saya kok jadi lupa. Soalnya bingung. Pak, Bu.”
Kok bingung?”
“Dia tahu Bapak pernah… ”
“Ssst! Pernah apa?”
“Pernah apa?”
Ahhhh,  saya agak nyampur dengan tamu yang kemarin. Dia juga kenal Bapak kan?”
“Siapa?”
“Tidak mungkin. Kemaren kami belum pulang. Kan baru tadi pagi sampai.”
Lho, kemarin yang di rumah ibu siapa?”
Nggak ada orang di rumah kemaren, kami baru sampai tadi pagi, kan!”
“O, ya! Kalau begitu saya keliru.  Itu mungkin sebelumnya.”
“Bagaimana, sih!”
“Itu!”
“Apa?”
“Yang naik motor Ninja itu?”
“Saya tidak lihat ada motor!”
“Tapi yang kemarin itu, Bu.”
“Ah sudahlah, kita kok jadi repot ngurus orang yang tidak kita kenal”
“Tapi biasanya kenal, Bu!”
“Itu pasti sales! Memang mereka sudah dilatih tak bermalu! Maksa mau nawarkan produk atau …”
“Bisa juga penipu!”
“Bisa! Jadi balinya bagaimana, Bu?”
“Bagaimana, Pak?”
“Ya, bagaimana baiknya. Kita tidak tahu. Kecuali … .”
“Kecuali apa?”
“Kita anggap saja baik, apa yang kita putuskan!”
“Tolak!”
“Tolak?”
“Atau terima?”
“Kalau mau diterima, saya antarkan masuk sekarang!”
Satpam berbalik mau ke pos.
“Tunggu!”
“Nanti keburu malam, Pak. Pos kosong, lucidity kan ..!”
“Satpam tidak boleh berak kalau lagi tugas!”
“Siap, bu!”
“Sudah begini saja. Tolak!”
“Bapak tak mau terima?”
“Bukan tak mau. Terima. Itu bisa menyinggung perasaan. Bilang saja, tadi di situ kan bilang, kami belum pulang!”
“Ya sudah. Begitu saja, Bu. Saya bilang Bapak dan ibu belum pulang. (Jalan, tapi berhenti) tapi bagaimana kalau orangnya menunggu?”
“Masak dia mau menunggu?
“Mungkin, Bu! Sebab kelihatannya orang mau pindahan. Asal nanti dia jangan mau nginap di gardu! Bakal repot kita, Pak. Dan Bapak mau tak mau pasti akan ketemu besok!”
“Jadi bagaimana baiknya?”
“Saya kira tak ada yang baik. Panggil polisi saja!”
“Itu yang saya tak suka.”
“Kenapa, Bu?”
“Saya punya pengalaman buruk dengan polisi.”
“Apa?”
“Tapi itu kan dulu! Sekarang polisi kita lain!”
“Apa gunanya satpam, kalau ngurus satu orang sudah panggil polisi?”
“Maaf, Bu, jangan sampai saya salah menyampaikan informasi! Tamunya bukan satu!”
“Bukan satu? Berapa?”
“Satu keluarga!”
Jailah, satu keluarga?”
“Tujuh orang, Pak. Istrinya dua. Bayinya satu. Pembantunya satu. Adik istrinya satu. Ada lagi anaknya yang tanggung tapi kelihatan agak terganggu. Jadi tujuh. Eh ada satu lagi, neneknya!”
“Gila! itu namanya mau nyerbu!  Tidak! Langsung bilang sekarang, kami sudah pindah!  Rumah sudah dijual!  Ayo cepet sana, bilang begitu! Sekarang juga! Cepetan nanti keburu masuk!”
“Maaf Pakde, Bude, kami terpaksa masuk. Anak saya berak!”
Semua terkejut, menoleh. Ternyata tamu itu sudah masuk semua. Bu Amat menjerit.
Eeeee, kamu Adi! Kapan datang? Kok nggak bilang-bilang?! Ayo cepet masuk, dingin di luar, sudah makan?”
Bu Amat menggiring semua masuk ke dalam rumah. Tinggal Amat dan satpam  bengong. Amat menoleh satpam seperti mau menelannya.
“Kamu satpam baru, kurang ajar, bawa penyakit!”
Satpam gemetar ketakutan. Ia cepat berbalik dan lari kabur. Amat melemparinya dengan sandal.
Satpam mencoba mengelak. Langkahnya salah lalu jatuh menimpa kerikil jalan yang mulai hancur karena hujan.

To Top