Buleleng

Jepri Link Targetkan Rumah Ketahanan Pangan

Sampah organik maupun non organik sama-sama rentan menimbulkan masalah jika tidak dikelola dengan baik. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dirasa kurang maksimal jika hanya membawa sampah ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) saja. Prinsip asal buang  tanpa memilah-milah terlebih dahulu hanya akan menimbulkan persoalan yang baru. Pasalnya, persoalan sampah dari skup rumah tangga hanya dipindahkan ke TPS tanpa adanya pengelolaan yang tepat. Ini berarti permasalah sampah hanya berpindah tempat tanpa ada solusi.

Atas kondisi tersebutlah I Gede Suyasa bersama rekan-rekannya tergerak hatinya untuk mencari cara mengatasi permasalahan sampah. Menurutnya permasalahan sampah harus dicari hingga ke sumbernya, jika hanya berbicara masalah pengangkutan ke TPST dirinya menganggap hal tersebut hanya memindahkan masalah. “Dari rumah dibawa ke TPST, setelah di TPST akan menjadi masalah lagi. Maka dari itu kita harus mulai dari rumah,” ungkapnya.

26 Agustus 2017 dikukuhkannya Jepri Link (Jejaring Pemerhati Lingkungan) yang merupakan himpunan orang-orang pemerhati lingkungan. Sebagai pembina di Jepri Link, Suyasa ingin membangun sistem dan konektivitas antar berbagai elemen seperti pemerintah desa, swasta, masyarakat, relawan dan fasilitator dengan tujuan yang sama yaitu peningkatan mutu lingkungan hidup berbasiskan pemberdayaan masyarakat. “Kami rekrut anggota kami yang sehaluan dengan program kami,” jelasnya.

Pergerakan Jepri Link diawali dengan masalah sampah, bahkan saat ini pihaknya tengah menelorkan dua program yaitu Tejacimpatik (Tejakula Cinta Sampah Plastik) dan Tejacimponik (Tejakula Cinta Sampah Organik). Kedua produk ini diharapkan dapat menangani masalah sampah rumah tangga. Suyasa menambahkan untuk sampah organik, pihaknya menghadapi dua permasalahan yaitu sampah basah dan sampah kering. Sampah basah yang dihasilkan dari limbah dapur ini diolah menjadi komposter dengan menggunakan alat yang sangat sederhana. Sampah basah ditampung menggunakan ember bekas cat kemudian akan menghasilkan lindi cairan yang akan dipermentasikan menggunakan bioaktivator EM4. Setelah satu minggu, cairan tersebut sudah bisa diaplikasikan ke tanaman-tanaman sebagai pupuk organik. “Tiyang sangat yakin ini menjadi kebutuhan masyarakat karena mereka yang memiliki tanaman di pot tidak ada yang mengganti media atau memupuk, paling hanya disiram saja. Padahal secara teori harus dilakukan penggantian media dan pemotongan akar,” jelas pria kelahiran Tejakula 26 Agustus 1970 tersebut.

Hal sama juga dilakukan untuk sampah padat atau kering. Sampah kering akan dimasukkan ke dalam tong komposter kemudian diberikan bioaktivator EM4. Setelah beberapa hari sampah kering ini bisa dijadikan pupuk dan media tanaman. Sementara itu untuk sampah plastik pihaknya meyakini tidak menemui permasalahan yang berarti sebab saat ini sudah banyak berdiri Bank sampah-bank sampah sehingga sampah plastik dapat teratasi. Bahkan pihaknya juga melakukan pembinaan membuat barang-barang kerajinan yang memanfaatkan sampah plastik.

Suyasa yang juga Staf Dinas Lingkungan Hidup ini berharap setelah program-program dari Jepri Link terlaksana maka akan menghasilkan rumah ketahanan pangan sehingga setiap anggota yang telah bergabung ke dalam komunitas harus memiliki Komposter padat, komposter cair, memiliki tong plastik, dan bibit tanaman baik sayur maupun buah yang bisa mereka nikmati. “Jika keempat ini sudah ada maka mereka sudah berhasil mengaplikasikan apa yang menjadi program kami,” ungkapnya. Wiwin Meliana

To Top