Buleleng

Program Transmigrasi Tanpa Paksaan

Transmigrasi merupakan salah satu program yang dimiliki oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten  Buleleng. Tahun ini   Buleleng mendapat 30 KK kuota dari pusat dengan daerah tujuan Transmigrasi Kecamatan Rota Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Hanya saja dari 30 kuota hanya 4 KK yang dinyatakan  memenuhi syarat dan siap diberangkatkan.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten  Buleleng Ni Made Dwi Priyanti Putri Koriawan. Menurutnya minat masyarakat Buleleng mengikuti program transmigrasi menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari dibukanya pendaftaran sejak Januari lalu, ada 10 KK yang sudah mendaftar, hanya saja terus berkurang sampai saat keberangkatan di bulan November lalu menjadi 4 KK. Menurut Dwi, calon transmigran benar-benar diseleksi dengan ketat minimal syaratnya sudah berumah tangga. Selain tidak memenuhi syarat, penurunan minat transmigran juga diakibatkan karena ketidaksesuaian lahan yang disediakan dengan ketrampilan calon transmigran. “Masyarakat yang ahlinya di sawah kemudian disediakan lahan pegunungan tentu tidak sesuai dengan minat masyarakat,” jelasnya.

Di daerah tujuan, para transmigran akan mengolah perkebunan yang menjadi komoditas unggulan di daerah tersebut sebagai penghasilan. Untuk daerah transmigrasi tahun ini, lahan tersebut cocok dikembangkan komoditas merica. Para transmigran diberikan lahan untuk diolah dan dibantu rumah papan serta ditanggung biaya hidup selama satu tahun. “Di lahan ini curah hujan sangat bagus dan lahannya pun begitu subur maka sangat cocok ditanam merica,” jelasnya. Sebelumnya, selain persiapan data, pihaknya juga menyiapkan keterampilan dan juga mental bagi para calon transmigran agar benar-benar siap.

Ditambahkan Dwi, program transmigrasi dilaksanakan berdasarkan azas sukarela tanpa ada paksaan sehingga ke depan pihaknya akan terus melakukan sosialisasi ke seluruh kecamatan untuk mencari masyarakat yang mau menjadi  transmigran. Daerah tujuan transmigrasi juga menjadi salah satu faktor penentu peningkatan jumlah calon transmigran. “Saya juga tidak mau memaksakan mereka karena di sana perjuangannya benar-benar untuk menjadi sukses,” ujarnya.

Pihaknya juga menegaskan kepada para transmigran untuk tetap menjaga sikap dengan para transmigran dari daerah lain. Bahkan pihaknya mengimbau para transmigran Buleleng membawa budaya dan sosial ke tempat tujuan transmigran. Hal ini diyakini dapat membuat para transmigran betah dan nyaman di daerah yang baru. “Kalau mereka tidak nyaman dan balik lagi ke tempat asal maka kali lain jika ada kuota lagi mereka tidak diperbolehkan ikut kembali,” tegasnya. Lebih jauh, kata Dwi, juga membutuhkan kerja sama antarkedua pihak, antara daerah pengirim transmigran dan daerah yang nantinya dituju. Wiwin Meliana

 

To Top