Mozaik

Puja Astawa: Libatkan Keluarga untuk Hasil Natural

Media sosial saat ini begitu berkembang pesat sehingga banyak orang memanfaatkannya dengan berbagai tujuan. Belakangan ini media sosial utamanya facebook dan instagram dipenuhi dengan karya-karya kocak dari Puja Astawa,S.E.

Pemilik akun @haipuja ini karyanya selalu ditunggu oleh nitizen. Melalui video berdurasi singkat Puja selalu berhasil mengocok perut nitizen dengan humor-humor segar tanpa mengesampingkan pesan moral yang disampaikan. Tema dan ide cerita pun begitu dekat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat sehingga terlihat begitu alami dan mudah diterima.

Awalnya Puja mengaku membuat karya untuk menyindir sang adik yang terlalu menyukai binatang secara berlebihan. “Niat awalnya sih untuk menyindir adik saya yang hobi binatang secara berlebihan kemudian jadi berkembang untuk berkarya cerita-cerita yang lain,” jelas pria asal Singaraja tersebut.

Uniknya dalam setiap karya, Puja selalu melibatkan sanak keluarga dalam penggarapan videonya. Ayah dari Berstian Verro ini juga selalu mengajak orangtuanya yang memerankan tokoh meme dan pekak. Pelibatan sanak keluarga baginya bukan tanpa alasan. Dengan melibatkan keluarga melepas kecanggungan dalam setiap penggarapan videonya. “Beberapa cerita bahkan sebagian besar lepas dari skrip. Adegan marah, ketawa, membentak begitu natural seperti yang terjadi antara saya dengan anak dan orangtua,” lengkapnya.

Mantan karateka ini juga mengatakan selalu menyelipkan pesan moral dalam setiap karyanya.  Baginya mengritisi suatu fenomena atau menegur seseorang secara langsung bisa jadi bumerang untuk diri sendiri. Akan tetapi melalui video dengan sedikit banyolan maka kritikan bisa sampai ke subjeknya tanpa harus menyinggung dan membuat sakit hati.

Tidak jarang pesan yang tersirat itu selalu ditanggapi multitafsir oleh penikmatnya. Bahkan dalam beberapa karyanya, Puja mendapat kritikan yang cenderung menjatuhkan akibat penggunaan bahasa yang dinilai kasar.  Baginya penggunaan bahasa Buleleng sudah begitu pas digunakan dalam pergaulan sehingga bagaimana pun dirinya tetap akan mempertahankan penggunaan bahasa tersebut. “Mungkin banyak yang tidak biasa mendengarkan bahasa Buleleng, tetapi saya juga tidak ada niat untuk mengubahnya agar kelihatan lebih  santun. Lebih baik apa adanya,” jelas suami dari Susi Puja ini.

Tantangan terberat dalam berkarya bagi pria kelahiran 17 September 1974 tersebut adalah melakukan segala sesuatunya sendiri. Dalam pembuatan video yang begitu apik, Puja kadang kala ikut bermain peran di dalamnya bahkan untuk pengambilan gambar, sutradara dan pengarah gaya serta editing ia lakukan sendiri. “Terpikirkan bagaimana susahnya itu,” ungkapnya. Berbekal ketrampilannya dalam dunia fotografi, Puja mengaku tidak mengalami kendala yang begitu berarti. Bahkan sebelumnya dunia fotografilah yang telah membesarkan namanya. Tahun ini dirinya dinobatkan sebagai fotografer terbaik Bali dengan menyumbang medali emas tingkat nasional salon foto Indonesia. “Bisa memamerkan hasil karya di berbagai ajang sudah merupakan kepuasan tersendiri buat saya. Apalagi bisa dinikmati dan disukai merupakan kesenangan yang tidak terbeli,” ujarnya. (Wiwin Meliana)

 

To Top