Bugar

Waspadai Wabah Difteri di Tahun 2018

Kita sudah memasuki Tahun 2018. Di Indonesia, dikhawatirkan ada penyakit yang sudah lama tidak muncul dapat muncul kembali dan menyebabkan wabah. Bagaimana prediksi penyakit di tahun 2018?  Berikut penjelasan dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

“Penyakit difteri sedang merebak sekarang di beberapa daerah di Indonesia. Pada bulan lalu saja sudah 20 provinsi di Indonesia yang melaporkan kasus difteri mungkin sekarang sudah bertambah lagi. Dilaporkan terdapat 600 kasus lebih sudah terjangkit pada penderita dan sudah menyebabkan puluhan penderita meninggal dunia,” ujar Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Denpasar ini.

Penyakit difteri itu gejala khasnya timbul selaput putih dan gampang berdarah pada saluran nafas, terutama di teanggorokan. Bakteri ini bisa menghasilkan toksin yang berbahaya, yang dapat menyebabkan kelainan jantung, gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi sampai kematian.

Magister Ilmu Kedokteran Tropis Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya ini mengatakan, penyakit difteri merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksinnya yaitu DPT yang merupakan imunisasi wajib di Indonesia. Sejak tahun 1990-an penyakit ini sudah jarang terjangkit dan hampir tidak ada kasus baru, tetapi muncul lagi sekitar tahun 2009, dimana seharusnya penyakit ini tidak muncul lagi kalau program imuniasi berjalan dengan baik.

Banyak para ahli memperkirakan kejadian wabah difteri ini muncul lagi karena masih ada orangtua yang tidak memberikan vaksin DPT atau vaksin wajib lainnya ke anaknya sejak masih bayi dan kemungkinan pula pemberian vaksin yang tidak lengkap sesuai anjuran sehingga kasusnya bisa muncul lagi dan menjadi wabah. “Hal ini membuat para ahli menjadi khawatir dengan kemungkinan bisa munculnya wabah penyakit-penyakit lain yang seharusnya sudah bisa ditanggulangi dengan program imunisasi wajib dan kasusnya bisa menghilang,  tetapi malah muncul banyak di masyarakat, seperti polio, campak, hepatitis B yang seharusnya sudah bisa dicegah dengan program imunisasi wajib,” kata Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unud ini.

Ia menilai, dengan adanya orangtua yang sama sekali tidak memberikan vaksin ke anak-anaknya maka penyakit-penyakit ini dapat mengancam kesehatan di Indonesia.

Penyakit–penyakit lain yang masih dapat menjadi momok kesehatan di Indonesia terutama berhubungan dengan iklim di Indonesia yang beriklim tropis. “Penyakit-penyakit yang dapat terjangkit di Indonesia banyak faktor yang mempengaruhi, salah satu faktor yang mendukung kejadian suatu penyakit di masyarakat terutama di Indonesia yaitu faktor cuaca,” jelasnya.

Ia mengatakan, dengan curah hujan yang tinggi dan terjadinya banjir di mana-mana menimbulkan beberapa penyakit terutama penyakit infeksi akibat anomali cuaca dan kebersihan lingkungan. Beberapa penyakit yang perlu diwaspadai dimana berhubungan dengan curah hujan yang tinggi dan terjadinya banjir diantaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri, masih menjadi penyakit yang paling sering terjadi di masyarakat. “Penyakit ISPA seperti influenza atau common cold terutama yang disebabkan infeksi virus sangat cepat menular. Apabila dari satu anggota keluarga yang terkena akan menularkan ke anggota keluarga yang lainnya terutama pada bayi dan anak-anak,” kata lelaki yang akrab disapa dr. Agus ini.

Gejala utama ISPA dapat berupa flu, batuk, dan demam merupakan gejala yang sering dialami masyarakat. Namun, penyakit ini yang disebabkan oleh virus biasanya akan sembuh sendiri dengan imunitas tubuh yang baik. Orang yang terkena diimbau untuk banyak istirahat, meningkatkan daya tahan tubuh dan diperlukan pengobatan simtomatis sesuai gejala dan antibiotika apabila infeksi disebabkan oleh bakteri.  Yang terpenting juga adalah mencegah timbulnya penyakit ini pada orang yang masih sehat dengan menerapkan pola hidup sehat dan upaya mencegah penularan pada orang sekitar.

Penyakit-penyakit lain yang masih menakutkan bagi masyarakat Indonesia adalah penyakit demam berdarah. Pada saat musim hujan, akan banyak timbul genangan-genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti  untuk berkembang biak. Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai penular penyakit, maka risiko terjadinya penularan juga semakin meningkat. Untuk mencegah berjangkitnya penyakit ini sangat diperlukan peran aktif masyarakat melalui upaya pencegahan dengan gerakan menjaga kebersihan lingkungan dengan gerakan 3M.

Penyakit lain yang berhubungan dengan musim hujan dan banjir adalah penyakit leptospirosis atau yang sering dikenal dengan penyakit kencing tikus. Penyakit leptospirosis disebabkan bakteri dari genus leptospira. Penyakit ini dapat ditularkan melalui binatang terutama tikus. Bakteri penyebab penyakit ini dapat hidup di dalam ginjal tikus dan dapat keluar ke alam dan lingkungan sekitar bersama dengan urin atau air kencing tikus. Ia menyebutkan, pada musim hujan terutama saat terjadi banjir, di mana kotoran dan air kencing yang mengandung bakteri leptospira  akan bercampur dengan air banjir tersebut dan meluap menyebar kemana-mana dan dapat menginfeksi manusia.

Beberapa penyakit lain misal seperti diare dan penyakit kulit bisa saja sering terjadi di masyarakat dimana hal ini  berhubungan dengan kebiasaan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan kebersihan dirinya sendiri.

Ia mengajak, masyarakat untuk terus melakukan pola hidup bersih baik untuk dirinya sendiri,   keluarga dan lingkungan sekitarnya. (Wirati Astiti)

To Top