Kuliner

Satuh Rasa Kismis dan Mete

Satuh merupakan kue tradisional Bali yang melambangkan kekuatan pelebur. Memakan satuh dijadikan simbol pemusnahan segala pikiran dan prasangka buruk serta ego negatif. Selain itu satuh merupakan simbol persahabatan yang tulus sehingga menghadiahkan satuh kepada kerabat memberi arti mendalam bagi hubungan  kekerabatan tersebut.

Satuh biasanya hanya dinikmati ketika hari raya, sebab satuh merupakan sanganan (jajan) wajib ada dalam banten. Ini juga yang menyebabkan para pembuat  hanya membuat satuh ketika menjelang hari raya. Di tangan kreatif Ni Luh Wanda Putri Pradanti, jajanan tradisional ini dikemas menjadi menjadi menarik dan modern.

Umumnya satuh dibuat dengan bahan kacang ijo dan gula merah atau ketan dan gula merah, Wanda sapaan akrab perempuan ini mencoba merinovasi dengan mengombinasikan bahan-bahan modern lainnya. Kismis dan kacang mete menjadi bahan campuran lain dalam membuat Satuh. “Kalau orang-orang makan satuh biasa, maka kalau beli di kami mereka akan merasakan satuh dengan rasa yang berbeda,” ujarnya.

Satuh dengan brand The Balilua ini sudah dibuat sejak tahun 2014 lalu. Awalnya Wanda membuat satuh dengan bahan kacang ijo dan gula merah, hanya saja dirinya mengemas dengan tampilan yang lebih menarik. Hal ini bertujuan agar satuh bisa dijadikan oleh-oleh khas Bali tidak saja hanya laku terjual menjelang hari raya. “Awalnya memang ingin menjadikan jajanan ini sebagai oleh oleh saja namun seiring waktu saya lakukan inovasi,” jelasnya.

Mendapat masukan dari teman, perempuan kelahiran Praya 8 November 1992 ini sadar bahwa untuk dapat bertahan dengan bisnis yang dijalani harus mencari sesuatu yang berbeda. Dirinya meyakini dengan nilai tambah maka ia akan tampil berbeda dengan yang lain sehingga menjadikan produknya memiliki ciri khas tersendiri. “Kalau kita mau menjual sesuatu harus ada nilai tambahnya sehingga mampu bersaing di pasar,” pungkasnya.  (Wiwin Meliana)

To Top