Edukasi

Dukung Gerakan Literasi: Satu Buku tiap Tiga Bulan

Luh Putu Yeni Aristianti

Guru merupakan figur sentral dalam peningkatan mutu pendidikan karena pada merekalah terletak kemungkinan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. Melakoni profesi sebagai guru memang terlihat mudah tetapi faktanya, akan tetapi guru cenderung disibukkan dengan tugas-tugasnya menyiapkan rencana pengajaran, buku penunjang, dan penilaian daripada mencari tahu penyebab program yang dibuatnya kurang berhasil membuat peserta didik paham akan sebuah konsep.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Luh Putu Yeni Aristianti, S.Pd., melakukan sebuah penelitian yang mengantarkannya meraih juara I tingkat nasional dalam lomba Karya Inovasi Pengelolaan Satuan Pendidikan PAUD dan Dikmas yang diselenggarakan oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan PAUD dan Dikmas Kemendikbud, (24/11).

Naskah yang berjudul “Penerapan Book Reader Club Membawa TK Bukit Sunrise School Inspiratif, Dinamis, dan Melahirkan Generasi Bangsa yang Cerdas dan Berkarakter” merupakan naskah terbaik dari 700 karya inovasi pengelolaan PAUD dan Dikmas seluruh Indonesia. Tujuan dari karya inovasinya adalah untuk meningkatkan budaya membaca di kalangan Kepala TK dan guru PAUD sehingga lahir gagasan-gagasan baru untuk menciptakan generasi gemilang bangsa.

Perempuan yang akrab disapa Yeni ini mengaku jika programnya sudah diterapkan selama dua tahun dengan meminta semua guru di Bukit Sunrise School membaca 1 buah buku setiap 3 bulan sekali dan setiap dua minggu setelah mereka membaca, mereka akan mempresentasikan intisari dari buku yang dibaca. Topik buku yang dibaca bisa berkaitan dengan perkembangan anak usia dini, metode pengajaran untuk PAUD, permainan-permainan yang menumbuhkan sukacita dalam belajar, dan buku-buku tentang teknik pengajaran bahasa, kognitif, dan motorik. “Awalnya saya pikir pemerintah sudah menggelontorkan dana besar untuk gerakan literasi bagi anak tetapi bagaimana caranya mengembangkan gerakan literasi kalau minat baca gurunya saja masih rendah,” ungkapnya.

Disamping itu, perpustakaan di tempatnya bekerja memiliki ribuan koleksi buku tetapi guru-gurunya masih sangat jarang meminjam sebagai referensi untuk membantu motivasi belajar anak. Menurutnya guru lebih suka disibukkan dengan tugas keseharian seperti membuat rencana pengajaran dan penilaian. “Setalah dua tahun diterapkan guru-guru kami menjadi candu membaca dan kurikulum kami lebih menarik untuk anak,” ungkap perempuan kelahiran Singaraja 18 April 1982 tersebut.

Sebelum memulai pembelajaran setiap harinya para guru mengajak anak didik untuk melakukan brain gym kemudian berdiskusi dengan satu tema yang sudah ditentukan untuk menambah wawasan dan meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbicara. Menariknya, selain melibatkan peran aktif dan inovasi guru, program yang ia buat juga melibatkan peran orangtua dalam melahirkan generasi bangsa yang cerdas dan berkarakter. Perempuan yang menjabat sebagai Kepala PAUD Bukit Sunrise School, Ungasan Kuta Badung sekaligus Ketua Gugus PAUD IV Kecamatan Kuta Selatan ini mengatakan juga memiliki program “Home Story”. Program tersebut dilaksanakan dengan memberikan satu buku kepada masing-masing anak tentang moral seperti nilai kejujuran, kedisiplinan, bertanggung jawab dan berbagai untuk diceritakan dan dibacakan oleh orang tuanya di rumah. Sebagai bukti bahwa mereka telah membacakan, maka orangtua diminta mendokumentasikan dengan foto ketika program itu berjalan. “Setiap tahun kami sosialisasikan program dan teknik pengajaran kepada orangtua. Jadi apa yang kami terapkan di sekolah sama dengan apa yang akan dilakukan di rumah,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

To Top