Bunda & Ananda

Ibu Itu Komplit

Foto kiri: Anggi bersama sang mama. Foto kanan: Gung Is bersama ibunya

“Ibuuu…”, demikian sambutan kakak beradik Ayu dan Andin saat ibunya baru datang dari kerja. Masih sambil bercanda, mereka pun membantu membawakan bungkusan yang dibawa sang ibu. Sesampainya di dalam rumah, mereka tampak berbisik-bisik dan masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, mereka kembali keluar kamar, memberikan sepucuk surat dan gambar kepada sang ibu sembari mengucapkan “Selamat Hari Ibu..”. Mereka berebutan memeluk ibunya dan meminta maaf sambil sesegukan.

Ayu yang kini sudah duduk di kelas 6 mengatakan meski sering berbeda pendapat dengan sang ibu, namun ibu juga yang paling sering menemaninya dalam segala hal. Seperti mengantarkan membeli buku dan peralatan sekolah. “Ibu sangat sabar, terutama jika membeli buku pelajaran atau LKS karena kadang sampai harus mencari ke beberapa toko buku. Kadang juga ibu terlihat kesal, walaupun akhirnya mau, kalau Ayu minta nganterin beli penghapus, atau dasi yang sering hilang,” ucapnya sembari tersenyum.

Ayu juga mengatakan ibunya sering menawarkannya untuk mengikutinya dalam segala kegiatan. “Mungkin karena ibu tahu Ayu orangnya pemalu dan kurang pedean,” ujar Ayu. Namun, beberapa tahun terakhir setelah sering ikut-ikut lomba dan pentas-pentas, kepercayaan dirinya mulai tumbuh, apalagi kerapkali ia dipercaya mewakili sekolah dalam lomba baca puisi, walaupun tidak selalu menang. “Dulu Ayu pemalu, sekarang malu-maluin..hahah,” candanya.

Sementara, Andin yang baru kelas 2 SD mengatakan kalau ibunya itu kadang galak, judes, suka marah, lucu, usil. “Pokoknya komplit, ibu paling suka becandain Andin, sabar juga,” ujarnya. Ia menceritakan pengalamannya waktu ikut lomba akting. Waktu itu ia yang diantar sang ibu dan juga kakaknya Ayu datang ke tempat lomba pukul 11 dan harus lama menunnggu giliran dipanggil karena dapat nomor besar. “Andin sampai capek nunggu, sempat main perosotan disana, beli makan-minum, sampai sempat tidur karena ngantuknya. Pokoknya Andin mau apa saja dikasih sama ibu. Akhirnya dapat giliran lombanya sekitar jam 14.30. Syukurnya Andin dapat juara..yeee,” ucapnya semangat.

PAKAI CARA UNIK

Cerita serupa diungkapkan Anggi tentang mamanya. Siswi kelas 1 SMP ini mengisahkan mama adalah sosok perempuan yang sudah membuatnya menjadi berubah. “Anggi yang awalnya pemalu, sekarang bisa jadi lebih berani. Walaupun cara mama mendidik Anggi beda dari yang lain,” ucapnya.

Selain itu, kata Anggi, mamanya selalu mengajarkannya untuk menjadi anak yang mandiri dan rajin. Sejak Anggi mulai menekuni dunia MC, mamanya juga yang selalu memberi Anggi contoh serta dukungan supaya ia tidak grogi. “Dengan cara mama yang unik, mama bisa membuat Anggi menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya sembari tersenyum.

Unik bagi Anggi itu seperti, mamanya selalu membiarkan Anggi menyampaikan apa yang dipikirkannya. Misalnya saat perform, apa pun yang Anggi pikirkan dan ingin disampaikan pasti mama selalu bilang sampaikan saja. Dan saat Anggi di lingkungan baru,mama tidak pernah sekali pun melarang untuk mulai memperkenalkan diri duluan. “Malah, kalau selalu dekat dengan mama, justru Anggi diajarkan untuk kenalan dengan yang lain. Dan, Anggi selalu melihat cara mama berinteraksi dengan teman-temannya. Mama selalu menyapa dengan senyum dan mungkin akan terlihat heboh. Tapi menurut Anggi kehebohan itulah yang membuat mama bisa percaya diri dan mempunyai banyak teman. Dan sekarang Anggi selalu menggunakan cara-cara unik yang diajarkan mama kalau sedang grogi, atau mau kenalan dengan teman lain,” paparnya.

Sekarang kalau ada lomba/perform dan mamanya lagi di luar kota, Anggi pasti ingat apapun yang sudah diajarkan mama. Dan walau di luar kota, mama selalu memberinya dukungan, baik via telepon atau chat. “Anggi sangat berterima kasih karena tanpa mama, anggi tidak mungkin bisa seperti ini,” ucapnya.

Momentum Hari Ibu ini juga menjadi hari paling istimewa bagi seorang ibu, dan tentunya bagi sang anak yang telah menerima jasa dan pengorbanan sang ibu yang tanpa lelah. Gung Is melihat ibunya adalah sosok yang selalu ada dalam setiap kesehariannya. “Dari kegiatan sehari hari, seperti memasak, mengatur rumah tangga, sampai ibu selalu siap mengantar dan menemani Gung Is kesana-kemari, mengajar, membantu Gung Is membuat tugas sekolah, tanpa melihat waktu,” ucap siswi kelas 1 SMP yang mengoleksi banyak piala di bidang seni lukis ini, menyanyi dan baca puisi.

Dalam mendidik Gung Is, ibu dikatakannya cukup keras. Biasanya ibu akan memintanya melakukan sesuatu sendiri, setelah itu baru ibunya mengoreksi. Jika ada salah terus diulang lagi sampai benar. Ketika belum berhasil memenangkan sebuah perlombaan, ibu juga yang selalu memberinya semangat untuk lebih giat belajar dan bersabar. Saat belajar menyanti, Gung Is diminta fokus dan menghayati lagu.

Gung Is mengisahkan satu pengalaman saat ia ikut lomba melukis di PSR. Ibu terus memotivasi saya dan bilang.. “ayo Gung Is cepat, waktunya lagi sedikit. Ibu bilang begitu agar Gung Is bisa menyelesaikan gambar dengan cepat”. Meski Gung Is mengaku grogi dan kesal dengan ucapan ibunya itu, tapi Gung Is paham maksud ibunya adalah untuk memberinya semangat. (Inten Indrawati)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Terkini

To Top