Kolom

MEMULIAKAN PRESTASI

Ami menyodorkan sebuah status di FB, sambil bertanya: “Bapak setuju ini?”
Amat lalu membaca:
“UGM Alumni Award 2017 menjadi puncak acara Malam Penghargaan Insan Universitas Gajah Mada Berprestasi. Selain para alumni, mahasiswa, dosen, periset dan kantin kampus yang menyuguhkan makanan sehat, juga dapat penghargaan!”
Amat tertawa.
“Bapak kok ketawa, setuju atau tidak?”
“Bapak tertawa karena baru menjelang usia kemerdekaan ke-73, prestasi diberikan penghargaan oleh universitas. Biasanya studen yang lulus dengan nilai tinggi diberi kemuliaan lulus cum laude atau summa cum laude. Tak peduli sesudah mendapat kemuliaan itu, di masyarakat yang bersangkutan jadi tukang catut atau penipu masyarakat atau perbuatan tercela lainnya. Kalau sekarang kampus mulai memuliakan tak hanya prestasi ilmiah, tapi juga dharmanya kepada bangsa, negara, masyarakat, kampus maupun orangtuanya sendiri, itu hebat! Apalagi kantin yang sedikit banyak ikut berperan memelihara kesehatan insan kampus, katut dihargai, wah itu istimewa!”
Ami manggut-manggut.
“Jadi Bapak setuju?”
“Seribu persen, Ami!”
Ami tertegun.
“Jadi Bapak termasuk orang yang memuliakan orang yang berprestasi?”
“Jelas! Asal prestasinya itu tak hanya untuk dirinya sendiri, kelompoknya atau cs-cs nya sendiri, dengan kata lain asal anti KKN! Asal prestasi yang berguna bagi masyarakat seluruhnya, bangsa dan negara!”
“Bagaimana dengan orang yang tidak berprestasi? Bagaimana dengan anak Bapak yang semata wayang ini, yang sudah jatuh bangun mengejar lulus cum laude, tapi akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga tanpa punya prestasi apa pun?”
Amat terkejut. Apalagi ketika melihat Ami melengos sambil menghapus air mata. Amat merasa sudah membuat kesalahan besar. Harusnya ia tidak terpancing dan melukai hati Ami.
Untung Bu Amat datang menolong. Amat tahu, sebelum “memukul” bapaknya, Ami sudah lebih dahulu “menyengol” ibunya.
“Bu, tolong, aku lagi dipojokkan anakmu!”
“Tenang,” bisik Bu Amat melihat suaminya panik. “Ini persoalan wanita lawan wanita. Bapak diam saja karena tidak kompeten!”
Amat mengurut dada. Menunggu bagaimana istrinya akan menyelamatkan gawang yang hampir bobol.
“Ami,” kata Bu Amat memulai memelintir curhat Ami. “Prestasi itu tidak semuanya kasat mata. Justru yang tidak kelihatan, bukan saja  jauh lebih banyak tetapi juga jauh lebih penting. Bahkan bisa dikatakan prestasi yang terpenting!”
Ami mengusap lagi pipinya sampai betul-betul kering. Lalu menatap ibunya.
“Maksud ibu, prestasi Ami sebagai ibu rumah tangga?”
“Tenang, Ami.”
“Fungsi sebagai  ibu rumah tangga itu tidak boleh ikut dikompetisikan dalam menentukan prestasi, karena itu bukan prestasi! Itu kewajiban mendasar perempuan!”
“Kamu salah, Ami!  Seorang ibu itu tugas  yang amat mulia! Kamu harus bangga karena kamu seorang ibu!”
“Saya bangga! Tapi menjadi ibu itu bukan prestasi! Kalau serang perempun bisa menjadi ibu tetapi juga mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi masyrakat luas, nah itu baru prestasi”
Bu Amat marah.
“O, jadi ibu yang sudah melahirkan kamu, merawat kamu, membiayai kamu sampai lulus cum laude sambil mengurus bapakmu yang sudah bangkrut ini hingga pulih harga dirinya,  ya kan Pak?!”
Amat terkejut kontan menjawab:
“Betul!”
“Perempuan lansia yang berpakaian selalu rapih berkepribadian, pencinta batik seperti ibumu ini, dianggap tidak berprestasi?”
“Berprestasi itu ukurannya bukan hanya untuk diri sendiri tapi masyarakat, Bu!”
“Jadi Ibu tidak berprestasi?”
“Tidak!”
Bu Amat kaget. Lalu terhenyak duduk dan perlahan-lahan mengusap matanya.
Amat tertegun. Lalu bertanya bingung,
“Dan Bapak?”
“Bapak, Ibu, Ami sendiri, kita bertiga tidak punya prestasi.”
Bu Amat nyeletuk
“Tentang prestasi itu, banyak orang salah kaprah!”
Kok salah kaprah?”
“Ya! Karena mengukurnya dengan meteran.”
Ami tertawa
“Meteran?”
“Ya! Itulah yang menyebabkan prestasi jadi kacau-balau! Orang berprestasi seperti Ibu yang sudah berhasil mengajak ibu-ibu membiayai anak perempuannya melanjutkan pendidikan tinggi!. Orang seperti bapakmu meskipun sudah tua masih terus mengabdi masyarakat, meskipun tidak punya cum laude, adalah orang berprestasi. Apalagi kamu Ami, lulus cum laude tapi menjadi contoh ibu yang baik. Kamu berprestasi!”
Ami tersenyum, lalu menyeka lagi matanya yang berair.
“Bagus. Ami setuju UGM, memuliakan prestasi! Seluruh isi kampus sebaiknya tidak hanya mengejar prestasi ilmiah tapi kegunaan eksistensinya pada masyarakat. Bagus! Ami ke dokter mata dulu, mata Ami berair melulu!”
Ami pergi. Bu Amat senyum  menoleh suaminya.
“Begitu caranya meladeni Ami, Pak!”

To Top